close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi kandidat cawapres di Pemilu 2024. Alinea.id/Catharina
icon caption
Ilustrasi kandidat cawapres di Pemilu 2024. Alinea.id/Catharina
Politik
Jumat, 16 Juni 2023 06:14

Di balik ruwetnya peta cawapres Ganjar, Prabowo, dan Anies

Parpol-parpol terus bermanuver untuk memastikan cawapres yang mereka usung mendapat tiket di Pilpres 2024. 
swipe

Meski jadi yang pertama diumumkan jadi bakal calon presiden, eks Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hingga kini masih belum punya pendamping. Koalisi Perubahan, terdiri dari NasDem, Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera, masih alot membahas nama-nama yang dianggap paling tepat mendampingi Anies. 

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menyebut partainya masih mendorong nama Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Ahmad Heryawan (Aher) dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai cawapres Anies di Pilpres 2024. Namun, kedua nama itu belum disepakati Koalisi Perubahan. 

"Sebab figur Kang Aher dan Bu Khofifah memang layak untuk jadi cawapres," ucap Mardani saat dihubungi Alinea.id, Minggu (11/6).

Di lain sisi, Demokrat mengusulkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai pendamping Anies. Dalam survei sejumlah lembaga, elektabilitas AHY tergolong tinggi, jauh melampaui Aher dan Khofifah. 

"Figur, AHY memang figur berprestasi. Kedua, survei untuk cawapres Mas AHY termasuk tiga besar. Ketiga, Mas AHY itu ketum partai. Jadi, Mas AHY layak jadi cawapres Mas Anies. Tapi, figur Kang Aher dan Bu Khofifah juga layak," kata Mardani.

Sebelumnya, salah satu petinggi Demokrat bahkan mengancam akan hengkang dari koalisis jika AHY tak jadi cawapres. Soal itu, Mardani enggan berkomentar. 

Pertarungan untuk memperebutkan kursi cawapres juga memanas di kubu Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR). Koalisi yang terdiri dari Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu telah sepakat mengusung Ketum Gerindra Prabowo Subianto. 

Kursi cawapres mulanya digadang-gadang bakal menjadi jatah Ketum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Namun, situasinya berubah setelah Golkar dikabarkan berniat bergabung ke KKIR. Ketum Golkar Airlangga Hartarto diisukan berharap mendapat kursi cawapres sebagai syarat bergabung. 

Sinyalemen itu terindikasi dari pernyataan Kepala Badan Pemenangan Pemilu (Bapillu) Partai Golkar Nusron Wahid. Menurut Nusron, peleburan KKIR dan Koalisi Indonesia Baru (KIB) hanya mungkin terjadi jika Prabowo memilih pendamping dari KIB. 

"Ya, KIB siapa (cawapresnya) biar diputus dalam KIB. Tetapi, tentunya karena saya orang Golkar, saya berkepentingan supaya KIB itu nanti yang muncul nama Pak Airlangga Hartarto," ujar Nusron.

Golkar saat ini membangun koalisi bersama Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun, koalisi itu terancam bubar setelah PPP mengumumkan dukungan untuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai capres. 

Ketua DPP PKB Daniel Johan mengatakan parpolnya bakal terus berupaya mengamankan kursi cawapres untuk Cak Imin. Ia menyebut komunikasi PKB dengan Prabowo semakin intensif. Daniel berharap Prabowo tak mengkhianati kesepakatan yang dibangun dengan PKB. 

"Koalisi KIR antara PKB dengan Gerindra semakin solid itu karena keduanya masih sangat komit dan konsisten menjalankan kesepakatan piagam deklarasi. Jadi, selama ini terus dipegang bersama, tidak ada yang perlu diragukan. Keputusannya kita serahkan kepada kedua ketua umum," kata Daniel kepada Alinea.id, Rabu (14/6).

Daniel tak mau merinci kesepakatan apa yang mengikat dengan Gerindra dengan PKB saat pembentukan KKIR. Ditanya soal manuver Golkar, ia pun ogah merespons. "Tunggu saja nanti. Akan segera diumumkan," imbuh Daniel. 

Menparekraf Sandiaga Uno (tengah) menunjukkan kartu tanda anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP). /Foto Instagram @sandiuno

Manuver PPP dan PAN 

Cak Imin dan Airlangga sebenarnya bukan sosok yang punya elektabilitas tinggi sebagai cawapres. Dalam sigi yang dirilis Indikator Politik pertengahan Mei lalu, misalnya, dua nama itu tak ada dalam jajaran 5 besar tokoh dengan elektabilitas tertinggi sebagai cawapres. 

Posisi pertama ditempati Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno dengan raihan 24,5%. Sandiaga diekor Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (18,3%), Menteri BUMN (Erick Thohir (15,3%), Menko Polhukam Mahfud MD (13,7%) dan Agus Harimurti Yudhoyono (7,5%). 

Bebeberapa hari lalu, Sandiaga resmi bergabung dengan PPP setelah hengkang dari Gerindra. Ketua DPP PPP Achmad Baidowi mengatakan Sandiaga bakal dikukuhkan menjadi cawapres dari PPP. Sandiaga bakal disodorkan untuk mendampingi Ganjar Pranowo.

"Itu (pengukuhan sebagai cawapres) bakal dilakukan di rapimnas (rapat pimpinan nasional) PPP akhir pekan ini," kata Awiek, sapaan akrab Baidowi, saat dihubungi Alinea.id, Selasa (13/6).

PAN, anggota KIB lainnya, juga turut bermanuver. Dalam berbagai kesempatan, petinggi PAN mendorong Erick Thohir sebagai cawapres. Meskipun bukan kader partai, Wakil Ketua PAN Viva Yoga Mauladi mengatakan Erick merupakan "orang dekat" PAN. 

"Erick Thohir bukan orang di luar partai. Mas Erick dekat dan lekat dengan PAN. Bahkan, sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Selalu ikut aktif di beberapa acara PAN. Sekarang ini, sudah ada personifikasi dari masyarakat bahwa Mas Erick adalah PAN," kata Viva kepada Alinea.id, Rabu (14/6).

Berbeda dengan Sandiaga, nama Erick tak hanya bakal disodorkan untuk mendampingi Ganjar saja. Tak terikat sebagai kader parpol mana pun, Erick juga potensial diusung sebagai pendamping Prabowo di Pilpres 2024. 

"Saat ini, PAN masih dalam proses pematangan dalam pengambilan keputusan. Ditunggu dalam beberapa pekan ke depan. Apalagi, pintu KPU RI baru akan dibuka tanggal 19 Oktober 2023. Masih lama dan sangat dinamis," kata Viva.

Belakangan, elektabilitas Erick memang tengah meroket. Dalam survei teranyar Indikator Politik Indonesia yang dirilis awal Juni lalu, Erick ditempatkan sebagai cawapres dengan elektabilitas tertinggi dalam simulasi 22 dan 18 nama.

Dalam simulasi 18 nama, Erick meraup elektabilitas hingga 15,5% atau menang tipis dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang tingkat keterpilihannya mencapai 15,4%. Keduanya diekor Sandiaga (12%), Mahfud MD (11,8%),  dan AHY (7,4%).

PAN, kata Viva, kini sedang menyusun langkah strategis untuk membuka peluang Erick sebagai kontestan Pilpres 2024, baik sebagai pendamping Ganjar atau Prabowo. Pencalonan Erick nantinya bakal diputuskan Ketum PAN Zulkifli Hasan. 

Lantas bagaimana jika Erick tak dipinang oleh kubu Prabowo dan Ganjar? "PAN tidak akan berandai-andai. Perjuangan belum selesai karena PAN tidak dapat mengusung paslon sendirian, maka nanti akan diputuskan secara kolektif kolegial," kata Viva.

Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri BUMN Erick Thohir ikut serta dalam parade kemenangan timnas sepak bola Indonesia di Sea Games 2023. /Foto Instagram @erickthohir

Kenapa alot? 

Pengamat politik dar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak menganggap wajar jika penentuan cawapres di koalisi parpol berlangsung alot. Apalagi, elektabilitas para capres kerap terpaut tipis. 

Dalam sigi SMRC yang dirilis awal Juni lalu, Ganjar unggul dengan 37,9%, diikuti Prabowo (33,5%), dan Anies (19,2%). Adapun pada survei Indikator Politik, Prabowo justru unggul dengan elektabilitas sebesar 38%, diekor Ganjar (34,2%) dan Anies (18,9%). 

Akhir tahun lalu, elektabilitas Anies sempat meroket di sejumlah survei. Dalam sigi Indikator Politik Indonesia pada Desember 2022, Anies ditempatkan di urutan kedua dengan perolehan 23,6%, di bawah Ganjar yang meraup 25,9%. Pada urutan ketiga, Prabowo meraih 16,1%.

"Kalau, misalnya, pihak lawan akan mengusung cawapres yang kira-kira punya elektabilitas yang bagus, maka kompetitor yang lain tentu akan mencari figur yang bisa mengimbangi. Bisa jadi cawapres merupakan faktor penentu kemenangan," ucap Zaki kepada Alinea.id, Selasa (13/6).

Penentuan cawapres, lanjut Zaki, juga kian alot karena peran para king maker. Jokowi, misalnya, dikabarkan meng-endorse Sandiaga dan Erick sebagai pendamping Ganjar atau Prabowo. Dengan begitu, mimpi untuk menciptakan paket pasangan pilihan Jokowi bisa terealisasi. 

Di lain sisi, Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri telah menitipkan pesan politik agar Ganjar memilih tokoh NU sebagai pendamping. Erick dan Sandiaga dianggap tak mewakili kalangan Nahdliyin dan potensial terdepak. 

"Dugaan saya, keduanya akan tereliminasi dari posisi cawapres Ganjar karena mereka tidak memenuhi klasifikasi sebagai muslim tradisional yang di-endorse oleh kekuatan Nahdliyyin untuk mendongkrak suara Ganjar atau Prabowo," ucap Zaki.

Infografik Alinea.id/Aisya Kurnia

Pilihan pendamping Ganjar, lanjut Zaki, bakal menentukan peta koalisi Pilpres 2024. Jika Ganjar kawin dengan tokoh NU, menurut Zaki, Prabowo kemungkinan akan didampingi Cak Imin. Pasalnya, Airlangga sulit diharapkan untuk mendongkrak elektabilitas Prabowo. 

"Airlangga itu kecil elektabilitasnya. Secara kalkulasi politik, Muhaimin lebih punya elektoral yang tinggi daripada menerima Airlangga. Apalagi, pertarungan sengit itu akan terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur," ucap Zaki.

Adapun untuk pasangan Anies, Zaki menilai AHY merupakan sosok yang paling tepat. Selain punya elektabilitas tinggi, AHY juga bisa menjadi perekat koalisi. Terlebih, Demokrat saat ini tengah dilobi untuk bergabung dalam koalisi parpol pengusung Ganjar. 

"Pada akhirnya, Anies dan AHY merupakan paket yang paling aman. AHY punya keuntungan meskipun banyak yang meragukan karena dia masih junior dan sebagainya. Dia bisa menjadi daya tarik pemilih Gen Z yang masih banyak belum menentukan pilihan," ucap Zaki.

Berbasis sigi sejumlah lembaga, figur lain yang cukup potensial sebagai cawapres adalah Mahfud MD. Namun, menurut Zaki, parpol-parpol bakal ogah mengusung mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu. 

"Partai-partai itu kurang cocok dengan Pak Mahfud. Mereka mencari calon yang bisa diajak kompromi. Semua partai takut justru Mahfud sulit dikendalikan setelah jadi Wapres," ujar dia. 
 

Artikel ini ditulis oleh :

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor
Bagikan :
×
cari
bagikan