sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Puskesmas DKI kewalahan, langkah Luhut dipertanyakan

PKS minta pusat turun tangan, jangan cuma berkomentar.

Fathor Rasi
Fathor Rasi Kamis, 24 Sep 2020 14:50 WIB
Puskesmas DKI kewalahan, langkah Luhut dipertanyakan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Data Covid-19 per 23 September 2020 menembus rekor sebanyak 4.465 kasus baru, sehingga total  sudah mencapai 257.388 orang.  DKI Jakarta menjadi provinsi dengan tingkat kasus paling tinggi.

Kabid Koordinator Relawan Medis Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Jossep William  menilai puskesmas di Jakarta agak kewalahan menghadapi lonjakan penderita.

"Pemerintah Pusat harus turun tangan membantu DKI, jangan hanya berkomentar. Bantu atasi kurangnya fasilitas kesehatan baik berupa ambulance, ruang isolasi, tenaga kesehatan hingga ketersediaan alat dan bahan. Apa langkah yang sudah diambil Menko Kemaritiman dan Investasi (Luhut Binsar Pandjaitan) selaku penanggungjawab sembilan provinsi (salah satunya DKI) dalam menekan pertumbuhan kasus?" ujar Ketua Tim Covid-19 FPKS DPR RI Netty Prasetiyani Aher dalam keterangannya, Kamis (24/09/20).

DKI, sambung dia, sudah berjibaku sejak awal pandemi dengan peta jalan yang cukup baik, mulai dari penetapan PSBB, masa transisi hingga akhirnya kembali PSBB total, meski sempat silang pendapat.

"Saatnya pemerintah pusat mendukung dengan langkah konkret, tinggalkan ego kepemimpinan dan satukan langkah menghadapi pandemi. Ibu kota adalah pertaruhan. Jika gagal, maka akan mempengaruhi kondisi daerah lain dan sikap negara-negara di dunia terhadap Indonesia," katanya.

Wakil Ketua F-PKS DPR ini menambahkan, mengularnya ambulans memasuki RS Wisma Atlet beberapa waktu lalu yang viral di media akan memancing ketakutan, kekhawatiran dan emosi negatif massa.

"Segera cepat tanggap, selesaikan persoalan, pikirkan strategi jitu guna menghadapi kemungkinan terburuk. Jika karena ruang isolasi kurang, aktivasi ruangan baru. Jika karena pasien bertumpuk, atur jadwal penjemputan. Jika karena nakes kewalahan, siapkan banyak relawan untuk pekerjaan non-tindakan medis. Koordinasi pusat-daerah harus berjalan dinamis, cepat dan fleksibel dalam mengatasi sekat-sekat birokratis," kata Netty.

Menurut Netty, hal krusial seperti ketersedian ruang ICU  dan isolasi mandiri pasien OTG harus mendapat perhatian khusus.

Sponsored

"Perlu dipikirkan skema aktivasi ICU darurat secara murah dan cepat di semua rumah sakit. Gunakan produk pendukung dari dalam negeri seperti ventilator ITB maupun produk pendukung lainnya. Pastikan pula agar pasien OTG yang melakukan isolasi mandiri di tempat yang  telah ditunjuk mendapat dukungan layanan kesehatan dan pendampingan dari falkes terdekat," tutupnya.

Sebelumnya, Kabid Koordinator Relawan Medis Satgas Penanganan Covid-19, Jossep William menyampaikan bahwa puskesmas yang ada di wilayah DKI Jakarta mulai kewalahan menghadapi pasien Covid-19. Bahkan, mobil ambulans Satgas Covid-19 juga mulai keteteran.

"Agak overwhelmed (kewalahan), karena jumlah penderitanya tetap banyak," ujar William melansir kompas.com, Senin (21/9/2020).

Berita Lainnya