sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Buku "Menjerat Gus Dur", antara harapan dan sangkaan halusinasi

Terbitnya buku "Menjerat Gus Dur" memicu kontroversi. Sejumlah tokoh politik nasional disebut turut berperan dalam pelengseran Gus Dur.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Kamis, 02 Jan 2020 13:59 WIB
Buku
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 74018
Dirawat 35764
Meninggal 3535
Sembuh 34719

Satu dasawarsa wafatnya Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, 30 Desember 2019, terbit sebuah buku berjudul "Menjerat Gus Dur" (2019) karya Virdika Rizky Utama. Buku ini sontak menjadi perbincangan sekaligus memantik polemik banyak pihak. Pasalnya, buku terbitan Numedia Digital ini memuat sebuah dokumen rahasia yang ditulis oleh bekas Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VII di era Soeharto, Fuad Bawazier.

Dokumen tersebut berisi ihwal sebuah operasi senyap beberapa tokoh yang dikepalai oleh Fuad. Tujuannya untuk menggulingkan Gus Dur dari jabatannya sebagai presiden secara sistematis.

Operasi senyap itu, berdasarkan buku ini disebut sebagi skenario 'Semut Merah'. Tak tanggung-tanggung, sosok yang termaktub berperan penting ikut menggulingkan Gus Dur merupakan tokoh-tokoh kawakan dalam dunia perpolitikan di tanah air.

Beberapa tokoh yang disebut Fuad telah bersekongkol untuk menggulingkan Gus Dur di antaranya politikus senior Partai Golkar Akbar Tandjung, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, politikus senior PAN Amien Rais, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, dan mantan Ketua MK Hamndan Zoelva.

Bukan hanya itu, terdapat pula nama mantan hakim MK Patrialis Akbar, Ketua Umum Pemuda Pancasila (PP) Japto Soelistyo Soerjosoemarno, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, serta putra mendiang Presiden ke-2 RI Soeharto yang bernama Bambang Trihatmodjo. Tokoh-tokoh ini memiliki perannya masing-masing.

Mengetahui isi dalam buku ini, PP Muhammadiyah angkat bicara. Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Sunanto atau akrab disapa Cak Nanto menerangkan, banyak data dalam buku "Menjerat Gus Dur" itu tidak valid.

Cak Nanto membantah keterlibatan seniornya di PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang dalam dokumen pada buku itu dikatakan berperan menggulingkan Gus Dur dengan cara mengendalikan MUI lewat kasus Ajinomoto.

"Di sana kan ada keterangan Pak Din ikut menjerat. Padahal, yang kami ketahui, Pak Din mau proses menjadi guru besar kalau tidak salah. Pak Din bahkan tidak banyak pertemuan pada waktu itu," kata Cak Nanto kepada Alinea.id, Rabu (1/1).

Sponsored

Cak Nanto menegaskan, data yang diungkapkan dalam dokumen yang terdapat di buku "Menjerat Gus Dur" terlalu mengada-ngada. Penulis, kata dia, harus hati-hati dalam menyatut nama seseorang. 

Adanya nama beberapa tokoh itu juga dikhawatirkan dapat memecah belah. Ia menilai, apa yang ditulis oleh Virdika merupakan hal yang tidak penting untuk dibesarkan.

"Pak Din sudah menyampaikan dia tidak terlibat dalam hal itu. Bahkan yang paling berperan waktu itu kepemimpinan Muhammadiyah ada di tangan Buya Syafii (Ahmad Syafii Ma'arif)," terangnya.

Pengaruh Din Syamsuddin, kata Cak Narto, sangatlah minim. Maka dari itu, menurut Cak Nanto, penulis tidak memahami konteks situasi politik saat itu.

Cak Nanto curiga buku ini sengaja dibuat guna menghidupkan emosi lama untuk menyudutkan agar hubungan NU dan Muhammadiyah tidak akur kembali. Cak Nanto mengimbau agar masyarakat tidak terprovokasi dengan isi buku ini.

"Sekarang harusnya kita menatap langkah ke depan. Apa yang saya kira sudah terbangun, jangan sampai alau terjebak dengan masalah orang lain yang fakta sejarahnya sebenarnya masih banyak yang hidup, aktor politiknya masih banyak yang hidup. Makin dihamburkan malah makin mencoreng niat-niat tidak benar dalam konteks itu," ujar dia.

Halusinasi penulis

Salah satu tokoh yang juga disebutkan berperan penting menggulingkan Gus Dur, Hidayat Nur Wahid tegas membantah isi dokumen itu.

Hidayat yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden Partai Keadilan (sekarang Partai Keadilan Sejahtera) dikatakan berperan dalam mengorganisir mahasiswa untuk mengepung Senayan guna memberikan tekanan kepada DPR agar menerima hasil kerja pansus yang menyatakan Gus Dur telah menyalahkan kekuasaan (abuse of power).

Ia menggerakan mahasiswa bersama Gerakan Pemuda Ka'bah yang dimobilisir oleh Ali Marwan Hanan, massa PBB di bawah Hamdan Zoelva, massa PAN di bawah  Patrialis Akbar, serta massa rakyat dan preman yang diorganisir oleh Japto dan DPP Pemuda Pancasila.

Dihubungi terpisah, Hidayat lantang mengatakan bahwa narasi yang dibangun dalam buku tersebut sangat tendensius dan terkesan seperti halusinasi penulis semata. Ia heran, mengapa ada orang yang tega melakukan hal demikian. Pimpinan MPR RI ini menduga ada kepentingan khusus di balik terbitnya buku Menjerat Gus Dur.

"Untuk kepentingan apa? Wajar saja kalau ada yang menduga, jangan-jangan itu bagian dari skenario pengalihan isu dari isu-isu besar yang tengah melanda Indonesia untuk kemudian ditutup dengan isu ini," papar Hidayat dengan nada jengkel.

Sama dengan Cak Nanto, menurut dia isi buku ini hanya akan mengadu domba umat, terutama dirinya beserta PKS dengan keluarga Gus Dur, juga Nahdliyyin. Ia sendiri mengaku tidak pernah mendengar istilah skenario 'Semut Merah'.

Selain itu, Hidayat menerangkan, bahwa dirinya tidak pernah terlibat secara aktif dengan tokoh-tokoh yang disebutkan. Ia juga merasa aneh lantaran skenario tersebut baru dimunculkan sekarang.

Berita Lainnya