sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kubu Moeldoko: Inilah Hambalang, awal masalah besar Demokrat

Pendiri Demokrat sebut Hambalang penyebab elektabilitas partai merosot.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Kamis, 25 Mar 2021 15:40 WIB
Kubu Moeldoko: Inilah Hambalang, awal masalah besar Demokrat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Pendiri Partai Demokrat yang juga pendukung Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat Deli Serdang, Max Sopacua, menilai bahwa salah satu faktor penyebab runtuhnya elektabilitas partainya karena kasus korupsi pembangunan Sport Center Wisma Atlet Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

"Tempat inilah, proyek inilah adalah salah satu bagian yang merontokkan elektabilitas Partai Demokrat ketika peristiwa (korupsi) itu terjadi," kata Max, saat konfrensi pers dari Wisma Atlet Hambalang, yang disiarkan KompasTV, Kamis (25/3).

Atas dasar itu, Max dan Darmizal cs yang mendukung kepengurusan Moeldoko dengan menggelar konfrensi pers pada Kamis (25/3) siang. Max menilai, terdapat sejumlah kader yang tidak terseret dalam pusaran kasus rasuah Hambalang. Hal itu pula, menurutnya, pangkal praha partai berlambang mercy tersebut.

"Di sini lah kami ingin membuka bahwa inilah Hambalang, awal pertama terjadinya masalah besar yang terjadi bagi Partai Demokrat. Mudah-mudahan dari tempat ini, kami serukan kepada lembaga hukum, dalam hal ini KPK, untuk menindaklanjuti apa yang belum dilanjutkan," seru Max.

Hanya saja, Max enggan menyebutkan detail para pihak yang diduga menikmati hasil rasuah Wisma Atlet Hambalang. Namun, dia menekankan agar para pihak tersebut dapat diadili.

"Jangan dibiarkan orang lain menderita dan jangan biarkan orang lain berpangku tangan senang-senang, malah sebagai raja nanti di Partai Demokrat," ujar Max.

Lebih lanjut, Max berujar bahwa elektabilitas Partai Demokrat kerap mengalami kemerosotan tiap tahunnya sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak menjadi Presiden Republik Indonesia.

"Kami tahu bahwa ini adalah bagian integral dari sejarah yang menentukan bagaiamana Partai Demokrat itu mulai pelan-pelan turun (elektabilitasnya), dari mulai 20,4% menjadi 10,2%, dan 7,3%. Itu berturut turut. Saya pelaku sejarah," pungkas Max.

Sponsored
Berita Lainnya