logo alinea.id logo alinea.id

Saat Prabowo 'bersembunyi' di balik persona spin doctor

Penunjukan Dahnil Anzar sebagai juru bicara Prabowo punya makna khusus. 

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Rabu, 07 Agst 2019 14:22 WIB
Saat Prabowo 'bersembunyi' di balik persona spin doctor

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mencetak sejarah di jagat politik Tanah Air. Akhir Juli lalu, seteru politik Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 itu resmi menunjuk mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai juru bicaranya. 

Pengangkatan Dahnil dikabarkan via akun Twitter terverifikasi @prabowo. "Jika ada pertanyaan dan diskusi yang tidak sempat kita jalin melalui twitter dan fan page pribadi saya, sahabat juga dapat menanyakan pandangan dan pernyataan saya kepada Bung @dahnilanzar. Terima kasih atas perhatiannya," cuit Prabowo. 

Penunjukan Dahnil dikabarkan Prabowo hanya lewat dua cuitan. Namun demikian, dengan manuver politik 'kecil' ini, Prabowo mampu menyejajarkan diri dengan Jokowi. Sebagai Presiden, Jokowi memang memiliki juru bicara sendiri. 

 

Wakil Ketua Umum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, Dahnil diangkat menjadi jubir karena Prabowo kelewat sibuk. Pengangkatan Dahnil juga dinilai tak akan berpolemik lantaran eks koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi itu sudah resmi menjadi kader Gerindra. 

"Karena kesibukan Pak Prabowo sehari-hari dan banyaknya statement yang harus dibuat Pak Prabowo dalam dinamika politik yang hari ini makin tinggi," jelas Dasco. 

Dahnil sendiri mengaku menerima pinangan Prabowo sebagai jubir karena kepincut visi mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu. "Terus terang saya tertarik dengan visi besar beliau dan visi besar itu diinvestasikan lewat Gerindra," kata dia.  

Sponsored

Di dunia politik, juru bicara tidak hanya bertugas sebagai penyampai gagasan junjungannya atau institusi yang ia wakili. Juru bicara juga kerap disebut spin doctor yang bertugas membangun citra lewat media. Juru bicara bahkan kerap ditugaskan untuk merumuskan topik yang harus dikomentari. 

Pakar komunikasi politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad menilai sah-sah saja Prabowo menunjuk seseorang menjadi juru bicaranya. Namun demikian, diakui dia posisi juru bicara untuk ketua umum merupakan hal baru di jagat politik Indonesia. 

"Sejauh ini kan jubir di Indonesia itu hanya untuk presiden atau lembaga-lembaga, misalnya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Tapi, itu boleh-boleh saja," kata Nyarwi saat dihubungi Alinea.id, Selasa (6/8).

Menurut Nyarwi, ada sejumlah alasan yang mendorong Prabowo menunjuk jubir. Salah satunya ialah sebagai upaya harmonisasi pernyataan politik. Berkaca pada Pilpres 2019, elite-elite politik Gerindra kerap mengeluarkan pernyataan publik yang berbeda dalam menyikapi isu yang bergulir. 

"Masih belum ada entitas yang solid menjadi satu suara. Maka, dipercayakan oleh Prabowo, satu juru bicara (Dahnil). Saya lihat seperti itu," ungkap dia.

Alasan lainnya ialah untuk menutupi kekurangan Prabowo. Menurut Nyarwi, Prabowo dikenal sebagai orator politik ulung yang mampu mengagitasi publik dan membakar emosi massa saat berpidato. Akan tetapi, Prabowo justru kerap blunder ketika menanggapi isu-isu politik aktual. 

"Karena memang secara karakter tidak cocok untuk hal itu. Yang namanya orator tidak bisa menanggapi isu-isu aktual dengan cara cepat. Jadi, memang dibutuhkan juru bicara yang dapat menyampaikan ide-ide dari kebijakan yang ditempuh oleh Pak Prabowo secara lengkap," kata dia. 

Lebih jauh, Nyarwi memandang sosok Dahnil juga tepat dipilih sebagai spin doctor bagi Prabowo. Pasalnya, Dahnil sudah punya pengalaman selama kurang lebih setahun sebagai koordinator juru bicara BPN Prabowo-Sandi. "Saya rasa Prabowo sudah amat percaya dengan Dahnil," kata dia. 

Sanada, pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno mengatakan, jabatan jubir untuk ketua umum memang tak lazim. "Mungkin Prabowo menjadi satu-satunya ketua umum partai yang menggunakan jubir. Tapi, balik lagi, sekarang ini karena satu terkait dengan momentum dan terkait dengan kebutuhan dia," ujar dia. 

Sebagai salah satu bintang dalam kontestasi Pemilu 2019, komentar-komentar dan sikap politik Prabowo kerap dinantikan publik. Namun demikian, menurut Adi, Prabowo tak punya banyak waktu untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Selain karena kesibukan, Adi menilai latar belakang Prabowo sebagai prajurit TNI juga turut mempengaruhi keputusannya dalam menunjuk Dahnil. "Karena Prabowo juga (bekas pemimpin) pasukan khusus. Apalagi, dia adalah mantan calon presiden dua kali. Tentu tidak semua orang bisa mengakses dia secara langsung," ungkapnya.

Eks koordinator juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak. Foto Instagram @dahnil_anzar_simanjuntak

Demi kaum milenial dan Muhammadiyah 

Lebih jauh, Adi menyebut, Prabowo juga punya hitung-hitungan politik dengan mengangkat Dahnil. Prabowo, kata Adi, ingin mendekatkan diri dengan kalangan milenial dengan memilih tokoh muda seperti Dahnil sebagai sosok yang merepresentasikannya. 

Di sisi lain, Prabowo juga tak ingin kehilangan Dahnil yang dipandang bakal punya karier politik yang moncer di masa depan. 

"Iya, bukan sembarangan orang yang kemudian hanya ditunjuk begitu saja. Tapi dia adalah salah satu figur kader milenial anak muda Muhammadiyah yang kebetulan sedang menjadi rising star. Kalau mau jujur, tidak semua orang bisa dekat dengan Prabowo," tuturnya. 

Rekam jejak Dahnil yang sempat menjadi salah satu tokoh sentral di Muhammadiyah, lanjut Adi, turut jadi pertimbangan. Dengan menunjuk Dahnil, Adi menduga, Prabowo juga tengah berupaya menjaga basis suara Gerindra di salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia itu. 

"Artinya, kalau ada elite atau tokohnya yang bergabung dengan salah satu parpol, kecenderungan untuk mengambil pemilih dari kalangan Muhammadiyah itu terbuka. Meski tidak mayoritas, minimal ada yang ikut," katanya. (Ant)