close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Retakan menganga di dinding rumah salah satu warga yang terdampak proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. /Dok. Walhi
icon caption
Retakan menganga di dinding rumah salah satu warga yang terdampak proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. /Dok. Walhi
Politik
Selasa, 10 Oktober 2023 13:58

Sengsara mereka yang 'terempas' kencangnya kereta cepat Jakarta-Bandung

Proyek pembangunan rel kereta cepat merugikan warga menimbulkan kerusakan lingkungan di beberapa titik di Jabar.
swipe

Kepanikan sempat menyelimuti warga Kompleks Tipar Silih Asih, Desa Laksana Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat di suatu pagi di pengujung September 2019. Kompleks perumahan yang berada di bawah lereng gunung itu tiba-tiba diguncang ledakan keras. Selama beberapa detik, tanah bergetar.

Heru Agam, 53 tahun, masih ingat betul peristiwa mengagetkan itu. Ia adalah salah satu Ketua RT di lingkungan RW 13 Desa Laksana Mekar. Rumah Heru merupakan salah satu rumah yang lokasinya paling dekat dengan lokasi proyek pembangunan rel kereta cepat Jakarta-Bandung yang dipegang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

"Itu langsung dan ledakannya sangat besar. Makanya terasa sampai ke seluruh RT di RW 13. Sampai air aquarium saja dan aqua galon itu bergetar. Rasanya seperti ada gempa bumi. Warga itu kaget karena kami berada di lereng gunung dan khawatir akan ada belahan di dalam tanah," kata Heru saat berbincang dengan Alinea.id, belum lama ini.

Tak jauh dari rumah Heru, KCIC kala itu tengah membangun terowongan nomor 11-1. Pengeboman atau blasting digunakan untuk melubangi perut bumi dan menembus Gunung Bohong. Heru mencatat bom meledak tak hanya sekali. Tetapi, tak ada sirine dibunyikan untuk menyiagakan warga. 

"Nah, ketika ledakan kedua (menjelang sore), kami warga sudah sangat panik sekali. Lalu kami langsung ke lokasi pembangunan kereta cepat. Di sana sangat ketat sekali penjagaannya. Tapi, pemberitahuan untuk kami tidak ada," ujar pria yang sudah punya tiga anak itu. 

Awalnya, guncangan bom itu tak terlalu "merusak". Belakangan, warga menemukan genting-genting rumah mereka tergelincir karena getaran. Yang terdampak paling parah, lantai rumahnya tak lagi rata dan dindingnya retak. 

Merasa dirugikan, warga pun protes. Apalagi, KCIC sebelumnya berjanji akan membangun tunnel dengan pengeboran. Untuk menenangkan warga, perwakilan KCIC didatangkan. Heru menyebut orang proyek itu merupakan warga negara China.

"Beliau kaget ternyata di sini ada perumahan. Di data yang beliau, miliki tidak ada perumahan di sini, dekat lereng gunung yang begitu besar. Jadi, beliau itu pakai penerjemah dan orang pertama yang mengungkapkan kalau wilayah ini zona merah itu si penerjemahnya," tutur Heru. 

Protes terus berlanjut. Mediasi pun digelar. Namun, tak ada titik temu. Sempat terhenti selama setahun, proyek kereta cepat kembali berjalan pada 2021. Bom-bom kembali meledak. Retakan-retakan di rumah warga kian menganga. "Rumah yang langsung doyong pun ada. Yang roboh pun ada saat itu," imbuh Heru. 

Tak hanya fisik rumah saja yang jadi korban. Heru bertutur warga juga mulai kesulitan air. Sumur-sumur yang jadi andalan warga kini mengering. Heru menuding proyek kereta cepat Jakarta-Bandung jadi dalang krisis air di desanya.

"Selama 20 tahun saya tinggal di sini, ketika musim kemarau pun, kekeringannya tidak separah ini... Air sumur yang tadinya 24 jam nonstop sekarang sudah dibagi dua. Itu pun hanya nyala 3 jam. Dari 3 jam itu pun, tidak tersuplai semua warga," ungkap Heru. 

Peneliti LAPI Institut Teknologo Bandung (ITB) tengah meneliti dampak pengeboman Gunung Bohong untuk kepentingan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. /Foto dok. LAPI ITB

Sejumlah kajian yang digelar, termasuk di antaranya oleh Badan Geologi dan peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB), menemukan bahwa kerusakan bukan karena alam. Proyek kereta cepat ditetapkan sebagai "tersangka". 

Didampingi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), warga pun berupaya mencari keadilan ke Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) dan KomnasHAM. Namun, belum ada tindak lanjut dari kedua instansi itu. "Sampai detik ini, setelah bertahun-tahun selalu tidak ada respons. Pengajuan pengaduan kami itu selalu nol lagi," kata Heru. 

Total ada 120 kepala keluarga yang mendiami Kompleks Bumi Tipar Silih Asih. Aci, 23 tahun, salah satu penghuni, membenarkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung menimbulkan "horor" bagi warga setempat. Ia menyebut banyak warga yang dirugikan akibat proyek itu. 

"Untuk awal-awal, masih normal sih. Tapi, lama-kelamaan mulai baru kelihaatan, ya. Banyak warga juga yang mengeluhkan dampaknya dengan kasus yang berbeda-beda," kata dia kepada Alinea.id.

Aci terutama mengingat keseharian warga saat pengeboman untuk pembangunan terowongan kembali digelar pada 2021. Suara ledakan yang kerap pecah tanpa aba-aba rutin menimbulkan kepanikan. Saat malam hari, getaran akibat pengeboman terasa sangat mengganggu. 

"Saya juga sempat kaget, 'Kok seperti ada yang bergetar gitu?' Rasanya memang seperti gempa bumi. Tapi, semakin ke sini saya sudah tidak mengeluhkan lagi. Biar nantinya orang yang berwenang mengatur ini semua," tutur Aci. 

Kala itu, Aci mengaku pasrah. Meski terdampak secara psikologis, ia tak mau menuntut ganti rugi. "Biar bagaimana pun juga, kita sebagai warga, tidak bisa menghentikan pembangunan kereta cepat ini," tutur perempuan yang kini berstatus sebagai mahasiswa di sebuah kampus di Bandung itu. 

Presiden Joko Widodo bersama sang istri, Irana Joko Widodo, menjajal kereta cepat Jakarta-Bandung, awal Oktober 2023. /Foto Instagram @Jokowi

Dampak lanjutan

Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat (Jabar) Meiki W Paendong mengungkap setidaknya ada 15 laporan dari kelompok warga yang terdampak proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Mayoritas melaporkan pencemaran sungai, pencemaran sawah, dan kerusakan permukiman akibat proyek tersebut. 

Walhi Jabar, kata Meiki, intens mengadvokasi dua kasus. Selain kasus kerusakan permukiman dan lingkungan hidup yang dialami warga Tipar Silih Asih, lembaga itu juga mendampingi warga yang kehilangan sumber air di Desa Puteran, Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat. 

"Sumber mata air warga mengering dan hilang di Desa Puteran, asal dari sumber mata air tersebut dari bukit. Semenjak bukit tersebut dibangun terowongan sumber mata air warga itu mengering," ujar Meiki kepada Alinea.id.

Meiki membenarkan ikut mendamping warga melapor ke KLHK dan KomnasHAM. Namun, belum ada respons positif. Pihak perusahaan pun seolah lepas tanggung jawab. Padahal, pembangunan jalur rel kereta cepat Jakarta-Bandung telah rampung dan kereta itu ditargetkan mulai beroperasi Oktober ini. 

"Dari pihak PT KCIC, menurut keterangan warga, akan bertanggung jawab. Tetapi, sampai sekarang tidak ada bentuk penanganan apa pun. Kalau kejadian kompleks Tipar Silih Asih itu pada 2019. Nah, bisa dibayangkan dari 2019 sampai 2023 ini tidak ada bentuk tanggung jawab apa pun," tutur Meiki. 

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dibangun sejak 2016. Untuk kereta peluru itu, KCIC membangun lintasan sepanjang 142,3 kilometer yang menghubungkan Halim, Jakarta Timur, dengan Gedebage, Bandung. Total biaya yang dikeluarkan negara untuk proyek ambisius itu sekitar Rp108 triliun. 

Meiki memprediksi proyek kereta cepat masih bakal menimbulkan dampak negatif lanjutan. Secara khusus, ia menyoroti rencana pengembangan transit oriented development (TOD) di dekat stasiun-stasiun yang dilintasi kereta peluru asal Tiongkok itu. 

Ia mencontohkan kawasan Tegalluar yang disiapkan menjadi kawasan kota baru. Sejak diwacanakan bakal menggantikan Bandung sebagai ibukota Jabar yang baru, harga tanah di kawasan itu melonjak naik. Alih fungsi lahan pun mulai marak.  

"Jadi, kalau berbicara mengenai dampak lingkungan kereta cepat, ya, seperti itu. Akan ada dampak alih fungsi lahan. Nah, jika sudah alih fungsi lahan, kan pasti akan banyak terjadi masalah lingkungan baru seperti sampah, pencemaran. Jadi, sudah dapat terbayang yang dulu nya sawah malah menjadi kota," kata dia.

img
Ummu Hafifah
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan