close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menyapa pendukung saat kampanye akbar di Lapangan Panahan, Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (7/2/2024)./Foto Instagram Partai Golkar/@golkar.indonesia
icon caption
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menyapa pendukung saat kampanye akbar di Lapangan Panahan, Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (7/2/2024)./Foto Instagram Partai Golkar/@golkar.indonesia
Politik
Kamis, 14 Maret 2024 14:20

Siapa paling kuat merebut kursi Ketum Partai Golkar?

Airlangga Hartarto, Bahlil Lahadalia, Bambang Soesatyo, dan Agus Gumiwang Kartasasmita masuk dalam 4 nama kandidat terkuat Ketum Golkar.
swipe

Persaingan memperebutkan kursi Ketua Umum Partai Golkar mulai menghangat, meskipun musyawarah nasional (munas) partai yang identik berwarna kuning itu baru diadakan pada Desember 2024. Ada empat nama yang mengerucut sebagai calon kandidat nakhoda Partai Golkar, yakni Airlangga Hartarto (Ketum Partai Golkar dan Menko Perekonomian), Agus Gumiwang Kartasasmita (Menteri Perindustrian), Bambang Soesatyo (Ketua MPR), dan Bahlil Lahadalia (Menteri Investasi).

Empat nama elite partai berlambang pohon beringin itu bakal saling adu modal plus sokongan penguasa demi meraih dukungan mayoritas hak suara dari cabang partai untuk bisa duduk sebagai Ketua Umum Partai Golkar periode 2024-2029.

Menurut analis politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak, Airlangga Hartarto masih berpeluang duduk sebagai Ketua Umum Partai Golkar kembali karena bekal prestasi meningkatkan perolehan kursi legislatif pada Pemilu 2024.

“Selain itu, Airlangga Hartarto juga sukses membawa stabilitas dalam kepemimpinan Golkar setelah sekian lama dilanda konflik internal,” ucap Zaki kepada Alinea.id, Rabu (13/3).

Airlangga juga dinilai punya hubungan dekat dengan calon presiden Prabowo Subianto. Bahkan berkontribusi mengamankan suara Prabowo pada Pilpres 2024, yang menjadi modal kuat relasi Airlangga dengan kekuasaan selanjutnya.

“Bagaimana pun, Golkar selama lima tahun ke depan sebagai bagian pemerintahan harus mampu bersinergi dengan pemerintah,” ujar Zaki.

“Itu modal politik yang tidak dimiliki tiga kompetitornya. Urusan modal finansial semuanya setara, tidak jauh beda.”

Sementara rival Airlangga, yakni Bahlil, belakangan sangat dekat dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Akan tetapi, citranya semakin negatif, terutama lantaran sering dikaitkan sebagai aktor dibalik kecurangan Pemilu 2024. Bahlil juga diduga terlibat banyak kasus suap izin tambang.

“Jadi image yang terbentuk, Pak Bahlil adalah politikus yang ambisius. Itu poin penting kekurangannya,” ucap Zaki.

Zaki menilai, Airlangga lebih punya kans menang meraih kursi Ketua Umum Partai Golkar dibadingkan Bahlil, Bambang Soesatyo, dan Agus Gumiwang. Airlangga pun dinilai cukup memiliki hubungan baik dengan patron di Partai Golkar, seperti mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

“Jangan lupa, Jokowi sendiri berminta jadi Ketum Golkar. Tapi ini tidak mudah. Bagaimana pun bekas presiden bobot politiknya sudah berkurang signifikan lagi dalam percaturan politik di Golkar. Beda halnya jika Jokowi masih menjabat,” ucap Zaki.

Jokowi, ujar Zaki, tidak lagi memiliki pengaruh “mengendalikan” pemilihan Ketua Umum Partai Golkar, seperti pada munas sebelumnya. Soalnya, setelah tak lagi berkuasa selepas 20 Oktober 2024, pengaruh Jokowi bakal melemah dan daya tarik kekuasaan akan beralih kepada presiden terpilih.

“Hukum politiknya begitu. Jika ia masih berkuasa, Golkar akan memberi karpet hijau, tetapi setelah tidak (menjabat), urusannya jadi lain,” tutur Zaki.

Senada, analis politik dari Universitas Mulawarman, Budiman mengatakan, dari sisi kekuatan politik, jaringan dana dan kedekatan dengan pemerintahan yang baru kelak, sosok Airlangga merupakan figur yang paling berpeluang memenangkan perebutan kursi Ketua Umum Partai Golkar.

Dukungan dari patron Partai Golkar juga relatif mengarah ke Airlangga karena dinilai berhasil mendongkrak suara dan meningkatkan kursi partai di DPR. Semula, tokoh senior di Partai Golkar meragukan kepemimpinan Airlangga hingga digoyang dengan berbagai macam desas-desus, termasuk dugaan perselingkuhan.

“Tapi, dia (Airlangga) berhasil meningkatkan suara kursi (Partai Golkar) di parlemen. Maka, bisa dikasih kesempatan untuk maju,” kata Budiman, Rabu (13/3).

Di samping itu, perolehan suara Partai Golkar yang meningkat di Pileg 2024 juga menjadi bukti bahwa Airlangga memiliki infrastruktur yang kuat di cabang-cabang partai di daerah. Pondasi politik ini bisa menjadi modal Airlangga untuk memobilisasi pendukung di cabang dan ranting partai.

“Artinya, bagaimana (pendukung) yang di bawah ini bisa dia ikat untuk mengamankan (suara).Ini modal besar bagi dia (Airlangga). Sementara Agus Gumiwang walaupun dia menteri dan Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR, peluang untuk mengintervensi, dalam artian mengikat pemilih, itu kecil,” ujar Budiman.

Terlebih lagi, Airlangga sudah memberikan peringatan melalui surat keputusan (SK) tentang seperti apa kader yang bisa mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Meski sangat birokratis, imbauan itu juga bisa dimaknai secara politik untuk setia terhadap Airlangga.

“Sebelum pilpres kemarin, dia (Airlangga) sudah menentukan siapa-siapa (kader partai) yang bisa menjadi calon bupati dan calon gubernur,” kata Budiman.

Secara modal, sejauh ini Airlangga bersaing finansial dengan Bahlil. Namun, Budiman melihat, jika dikalkulasi dari dukungan cabang dan tokoh senior Partai Golkar, Airlangga masih unggul. Partai Golkar di bawah Airlangga pun berkontribusi memuluskan kemenangan sementara pasangan Prabowo-Gibran dalam pilpres.

“Artinya, dalam memberikan dukungan kemarin, setidaknya Pak Airlangga bisa mengunci (suara) Pak Prabowo untuk mengamankan posisi dia,” kata Budiman.

Berkaca dari hal itu, Budiman mengatakan, dukungan Prabowo bisa diprediksi lebih cenderung kepada Airlangga sebagai Ketua Umum Partai Golkar, ketimbang Bahlil, Bamsoet, atau Agus.

“Setidaknya Airlangga bisa ‘menyandera’ Pak Prabowo dan Pak Jokowi. Dia mengunci keduanya untuk tetap bisa memperjuangkan posisinya di Golkar,” ujar Budiman.

“Kecuali kalau ada gerakan bawah tanah.”

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan