sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Surya Paloh ingin peluk erat Jokowi, tetapi...

Sebelum memeluk Sohibul Iman PKS, Surya Paloh sebenarnya ingin memberikan pelukan untuk Presiden Jokowi.

Sukirno
Sukirno Selasa, 12 Nov 2019 07:05 WIB
Surya Paloh ingin peluk erat Jokowi, tetapi...

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh membalas candaan Presiden Joko Widodo yang merasa tidak pernah dipeluk seerat pelukan dia kepada Presiden PKS Sohibul Iman.

Menurut dia, sebenarnya dia sangat ingin memeluk erat Jokowi seerat dia memeluk Sohibul Iman, tapi tidak bisa.

"Ingin saya peluk lebih erat, tapi tidak bisa," kata dia, disambut tepuk tangan ribuan tamu undangan saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 Partai NasDem di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Senin (11/11) malam.

Sebelumnya, saat menghadiri HUT Partai Golkar, Jokowi menyampaikan candaan bahwa dia tidak pernah dipeluk seerat pelukan Paloh kepada Iman itu. 

Hal tersebut dilontarkan pasca pertemuan resmi antara Paloh dengan sejumlah petinggi PKS di Kantor DPP PKS, di Jakarta Selatan. Namun, dalam kehadirannya di Puncak Peringatan HUT Ke-8 Partai NasDem itu, Paloh dan Jokowi pun berpelukan.

Jokowi menyebutkan rangkulan antara Paloh dengan Iman hanya masalah kecemburuan. "Karena saya tidak pernah dirangkul seerat itu. Maka, setelah sambutan ini saya akan lebih erat memeluk Bang Surya dibandingkan pelukan dengan Sohibul Iman," kata Jokowi.

Usai sambutan, Jokowi pun memeluk Paloh. Pelukan ini dua kali dilakukan kedua tokoh itu. Sebelumnya, usai Paloh memberikan sambutannya, keduanya juga berpelukan.

Keduanya pun terlihat tersenyum. Begitu pun dengan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Jokowi menegaskan tidak ada yang salah dengan rangkulan yang dilakukan Surya Paloh dan Sohibul Iman.

Sponsored

"Rangkulan itu apa yang salah. Itu bagus. Tetapi itu sekali lagi, kembali lagi pada niatnya. Kalau niatnya untuk komitmen kenegaraan apa yang salah. Kalau rangkulan itu untuk komitmen kebangsaan, sangat bagus sekali yang ditunjukkan Bang Surya. Kalau rangkulan itu untuk komitmen persaudaraan, untuk komitmen persatuan, sebagai saudara sebangsa dan setanah air, apa yang keliru, apa yang salah. Itu bagus, bener ndak ? Betul ndak?," kata Jokowi.

Menurut dia, candaan yang dilakukan kepada Paloh merupakan hal yang biasa, sehingga tidak perlu ditanggapi lebih luas.

"Candaan seorang sahabat yang sudah dekat, itu biasa. Jangan ditanggapi ke sana ke sini. Ada yang curiga, ada yang sinis, ada yang enggak percaya. Apanya yang salah. Apalagi tadi sudah disampaikan juga Bang Surya, betapa sayangnya Bang Surya kepada Ibu Megawati. Coba, sahabat sejati saya, yang paling saya sayangi, beliau sampaikan," kata Jokowi.

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh berpelukan dengan Presiden PKS Sohibul Iman. / Antara Foto

Koalisi rukun

Terpisah, pakar komunikasi publik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing menyebutkan Presiden Jokowi mempererat kembali relasi dengan NasDem dalam koalisi, dalam pidato penutupan kongres partai tersebut.

"Relasi dengan NasDem semakin dekat dan hangat. Bahkan, Jokowi menyampaikan akan rangkul (Surya Paloh) lebih erat lagi. Setelah pidato pun dibuktikan," katanya secara terpisah.

Usai berpidato, kata dia, Jokowi berjalan menuju kursinya yang berdampingan dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, kemudian merangkulnya erat.

Menurut dia, pesan dalam pidato penutupan Kongres II Partai NasDem yang disampaikan Jokowi menyiratkan penegasan bahwa NasDem tetap solid berada dalam koalisi parpol pendukung pemerintah.

Diakui Direktur Eksekutif Emrus Corner itu, sempat ada ganjalan dalam hubungan kedua parpol, terutama Jokowi dengan Surya Paloh setelah sentilan Jokowi terhadap Paloh soal rangkulan dengan Presiden PKS.

"Sekarang, hubungan itu kembali cair. Saya yakin ada komunikasi-komunikasi personal antarkedua tokoh sebelum pidato itu disampaikan," tuturnya.

Menyoal relasi politik, Emrus menyampaikan adanya teori social penetration menyangkut hubungan antarmanusia yang fluktuatif yang terjadi juga dalam relasi ekonomi dan personal.

Artinya, kata dia, saat tertentu hubungan antartokoh bisa sangat akrab, kemudian renggang pada saat tertentu, tetapi pada lain waktu akrab kembali.

Ke depan, ia mengingatkan para politikus, terutama, harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan-pesan komunikasi ke ruang publik karena bisa menimbulkan kerenggangan hubungan.

"Tetapi, kalau dilakukan dengan sangat bagus justru bisa mempererat dan mengakrabkan hubungan. Nasdem tetap menjadi bagian koalisi yang solid, terbukti dari relasi pidato kedua tokoh," ujar Emrus.

Partai Nasdem mengundang Presiden Jokowi pada puncak peringatan HUT Ke-8 Partai Nasdem, sekaligus penutupan Kongres II yang berlangsung JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (11/11) malam.

Presiden Jokowi hadir, didampingi Wakil Presiden Ma'ruf Amin dalam kesempatan itu. Tampak pula, Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan. (Ant)