sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jokowi tertawa soal capres pilihannya sama dengan Megawati

Jokowi menegaskan, pasangan capres-cawapres, akan dipilih oleh rakyat, bukan hanya oleh dirinya.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Senin, 07 Nov 2022 20:24 WIB
Jokowi tertawa soal capres pilihannya sama dengan Megawati

Presiden Joko Widodo (Jokowi) merespons santai perihal calon presiden (capres ) pilihannya akan sama dengan capres pilihan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Menurut Jokowi, pasangan capres-cawapres dipilih oleh partai politik atau gabungan partai sebagaimana dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan.

"Saya ulang ya bahwa yang namanya capres cawapres itu disiapkan oleh partai atau gabungan partai," ujar Jokowi sambil tertawa usai menghadiri HUT ke-8 Partai Perindo di Jakarta Concert Hall-iNews Tower, Jakarta, Senin (7/11).

Jokowi menegaskan, pasangan capres-cawapres, akan dipilih oleh rakyat, bukan hanya oleh dirinya. Karena itu, dia meminta partai politik hati-hati dan cermat dalam memilih tokoh yang akan diusung menjadi capres dan cawapres.

"Nanti yang milih rakyat, bukan saya. Partai atau gabungan partai, yang milih rakyat sehingga sekali lagi hati-hati memilih capres dan cawapres," ucap Jokowi.

Sponsored

Sebelumnya, Ketua Bappilu DPP PDIP Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul menegaskan, capres pilihan Megawati dengan Jokowi tak akan berbeda di Pilpres 2024. Soalnya, PDIP memiliki tradisi bahwa seluruh kader harus selalu taat dan patuh terhadap setiap keputusan Megawati.

"Itulah yang orang enggak paham tadi. Karena kau melihatnya dari luar. Tidak pernah merasai kultur yang ada di PDIP. Kan saya selalu ngomong, nanti kalau (capres) beda dengan Pak Jokowi gimana? Enggak akan beda (caapres pilihan Megawati dengan Jokowi)," ujar Bambang Pacul kepada wartawan di Jakarta, Kamis (3/11).
 
Pacul tidak mempermasalahkan desakan publik atau relawan agar Megawati segera mengumumkan nama capres. Menurut dia, hal tersebut merupakan aspirasi yang menunjukkan bahwa masyarakat percaya partai sebagai wadah untuk menentukan pemimpin nasional.

"Karena sesungguhnya publik ini kalau berdemokrasi diwadahi dalam partai. Kan gitu. Kalau memang relawan ini mau menyampaikan aspirasi, kalau kira-kira partai-partai tidak memenuhi mereka, mereka juga boleh bikin partai kok. Monggo," pungkas Bambang Pacul.

Berita Lainnya
×
tekid