Pengamat menilai Jokowi memakai jaket PSI bisa menjadi kode politik kuat yang mengancam basis pemilih PDIP menuju Pemilu 2029.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai wacana Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi mengenakan jaket Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan kode politik yang sangat kuat. Menurutnya, sinyal tersebut berpotensi memengaruhi peta persaingan elektoral menjelang Pemilu 2029.
“Dalam politik, jaket bukan sekadar pakaian. Jaket adalah pernyataan sikap. Ketika Jokowi memakai jaket PSI, publik melihat itu sebagai pesan bahwa kapal politik Jokowi sedang merapat ke dermaga baru dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi PDIP,” ujar Arifki dalam keterangannya, Minggu (15/6).
Menurut Arifki, langkah Jokowi tersebut berpotensi memberikan keuntungan elektoral yang besar bagi PSI, sekaligus menghadirkan tantangan serius bagi PDIP. Selama satu dekade terakhir, terdapat irisan yang kuat antara pemilih PDIP dan loyalis personal Jokowi yang memilih partai karena faktor figur mantan presiden tersebut.
“Masalah terbesar PDIP hari ini bukan kehilangan Jokowi sebagai kader, melainkan potensi kehilangan pemilih yang selama ini memilih PDIP karena Jokowi. Ketika figur dan partai berjalan ke arah yang berbeda, sebagian pemilih biasanya akan mengikuti figur,” katanya.
Arifki menilai kelompok yang paling berpotensi mengalami pergeseran dukungan adalah pemilih yang menginginkan suasana lebih segar dalam struktur partai. Kelompok ini cenderung berasal dari pemilih muda atau generasi baru PDIP yang lebih cair dalam menentukan pilihan politik.