close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Foto: Magnific & DC Studio.
icon caption
Ilustrasi. Foto: Magnific & DC Studio.
Sosial dan Gaya Hidup
Minggu, 23 Agustus 2026 07:00

High-Functioning Anxiety: ketika kecemasan bersembunyi di balik prestasi

Di balik sosok yang selalu tampil rapi, sering kali tersimpan rasa cemas berlebih yang tersembunyi rapat di balik topeng perfeksionisme.
swipe

Melihat seseorang yang selalu tepat waktu, berprestasi tinggi, dan tampak memiliki hidup yang sangat teratur sering kali membuat kita kagum. Namun, di balik produktivitas yang mengagumkan tersebut, bisa jadi terdapat pergulatan mental hebat yang tersembunyi rapat dari pandangan publik.

Fenomena ini populer dengan istilah High-Functioning Anxiety (HFA), sebuah kondisi ketika rasa cemas yang kronis tidak melumpuhkan aktivitas seseorang, melainkan menjadi bahan bakar utama yang memicu tindakan berlebihan.

Memahami kondisi ini menjadi langkah awal yang krusial agar masyarakat tidak lagi mengira bahwa pencapaian luar biasa selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan jiwa. Berikut penjelasannya, dilansir dari Anxiety and Depression Association of America (22/8).

1. Karakteristik utama

Penderita High-Functioning Anxiety menetapkan standar hidup yang terbilang tidak realistis demi membentengi diri dari kritikan orang lain. Ketakutan mendalam akan kegagalan mendorong mereka untuk terus bekerja keras tanpa henti, bahkan mengabaikan batas kemampuan fisik mereka sendiri.

Selain itu, kecemasan bermetamorfosis menjadi dorongan kuat untuk selalu menyenangkan orang lain dan kesulitan besar untuk berkata “tidak”. Penderita merasa harus memegang kendali penuh atas setiap situasi lingkungan sekitar karena ketidakpastian akan langsung memicu gelombang kecemasan yang dahsyat.

2. Dampak tersembunyi

Meskipun tampak sukses dari luar, tubuh penderita terus-menerus berada dalam mode siaga tinggi. Akibatnya, mereka sering mengalami ketegangan otot, gangguan pencernaan, kelelahan kronis, hingga masalah insomnia yang memicu burnout berkepanjangan.

Sementara itu, kecemasan yang menyelimuti pikiran membuat penderita sulit menikmati momen masa kini atau merasa puas atas pencapaiannya sendiri. Mereka cenderung langsung mengalihkan fokus pada kecemasan berikutnya, sehingga menciptakan jarak emosional.

3. Langkah pemulihan

Langkah awal menuju pemulihan memerlukan kesadaran untuk memisahkan nilai diri dari produktivitas harian. Mengatur ulang ekspektasi pribadi membantu menurunkan dorongan perfeksionisme yang menyiksa secara perlahan.

Selain itu, bantuan profesional seperti terapi perilaku kognitif (CBT) serta latihan belas kasih pada diri sendiri memberi ruang bagi jiwa untuk beristirahat tanpa merasa bersalah saat tidak sedang melakukan apa pun.

img
Shabrina Dwi Arsa
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan