Kolom

Donald Trump, Iran, dan Indonesia

Satu sisi, masyarakat kebanyakan mengutuk keras serangan Amerika-Israel ke Iran, tapi di sisi lain, Indonesia sebagai negara dipandang sejalan dengan agresor.

Selasa, 10 Maret 2026 20:32

Dunia sedang masuk ke masa ketidakpastian yang semakin dalam, akibat ulah satu sosok yang kata Pak JK, "Sakit Jiwa" (IDN Times, 2026). Tak jauh dari rumah, terjadi antrian BBM. Entah karena stoknya yang memang menipis, penimbunan, atau karena panik yang berlebihan, akibat salah tafsir atas pernyataan Pak Menteri Bahlil yang berujar, "Stok BBM kita cukup untuk 23 hari" (Kompas, 2026). Tak ada penjelasan, akhirnya terlibat dalam antrian panjang yang membosankan, di bulan Ramadhan. Selat Hormuz ditutup!!! Stok BBM tinggal beberapa hari, ayo jaga persediaan!!! begitulah kira-kira sayup-sayup obrolan miring orang yang sedang antri. Aroma gorengannya, masih terasa.

Situasi ini sebenarnya tidak berdiri sendiri. Ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran dalam beberapa hari terakhir telah mengguncang sistem energi dunia. Jalur laut Selat Hormuz, yang selama ini menjadi nadi perdagangan energi global, terganggu akibat konflik tersebut. Jalur sempit ini biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan kecil saja langsung memicu lonjakan harga energi dan kepanikan pasar global.

Indonesia, negara besar dengan catatan sejarah yang memukau, Bapak pendirinya menjadi rujukan banyak tokoh dunia tentang arti kemerdekaan, termasuk Ali Khamenei (Detik, 2012), kini terseret ke dalam jebakan pilihan yang sulit. Kata Pak JK, seperti ekornya yang sedang dipegang, dipaksa membebek pada kepentingan Amerika. Persoalan tarif yang direspon secara berlebihan, entah apa yang ditakutkan, tapi nyatanya, Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dihasilkan menghancurkan sekejap citra Presiden yang "Nasionalis" dan "Anti Antek Asing". 

Soal dagang, soal selera, soal permintaan dan penawaran, soal pasar, yang bukan hanya Amerika saja pembeli-penjualnya. Dunia ini cukup luas, manusianya ada sekitar 8,3 miliar jiwa, tersebar di berbagai negara. Jauh dari akal sehat, perjanjian dagang sampai menyentuh hal-hal yang paling sensitif dalam bernegara, termasuk keputusan untuk bebas aktif, yang kini berganti menjadi terikat aktif. Perjanjian yang tergesa-gesa, tanpa partisipasi publik, akhirnya menjadikan negara ini punya kepala dan badan yang terpisah. Satu sisi, masyarakat kebanyakan mengutuk keras serangan Amerika-Israel ke Iran, tapi di sisi lain, Indonesia sebagai negara dipandang sejalan dengan agresor, seiring keterlibatannya dengan kerjasama yang dirancang Donald Trump, sejak perjanjian dagang dan BoP, yang mengecewakan banyak pihak. 

Gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, beserta istri, putri, menantu, dan cucunya (Detik, 2026; Antara, 2026), seperti menyerang sarang lebah, yang siap menggigit siapa pun yang terlibat. Trump salah menilai Iran. Kepemimpinan di Iran menyatu dengan doktrin agama, urusannya sudah sampai akhirat, hal yang tidak bisa dipahami oleh orang yang "Sakit Jiwa".

Arif Rahman Reporter
Sahputra Editor

Tag Terkait

Berita Terkait