Diplomat PBB Mohamad Safa mundur dan menuding adanya skenario penggunaan nuklir di Iran, serta tekanan internal dan lobi kuat di tubuh PBB.
Seorang diplomat yang terafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengundurkan diri dari jabatannya setelah menuding adanya persiapan skenario penggunaan senjata nuklir terhadap Iran. Ia menyebut keputusan tersebut diambil sebagai bentuk pembocoran informasi yang dinilai berpotensi mengarah pada kejahatan kemanusiaan.
Diplomat tersebut adalah Mohamad Safa, yang bertugas untuk organisasi non-pemerintah Patriotic Vision Association (PVA) dengan status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (Ecosoc). Ia juga menuding sejumlah pejabat senior di PBB tidak bekerja untuk kepentingan lembaga, melainkan “melayani lobi yang kuat”.
Melansir The Economic Times, Kamis (2/4), dalam pernyataannya di media sosial X, Safa mengaku rela mengorbankan karier diplomatiknya yang telah dijalani selama 12 tahun dan memutuskan mundur untuk membocorkan informasi yang dinilainya serius terkait potensi kejahatan kemanusiaan.
“Saya rasa orang-orang tidak memahami betapa seriusnya situasi ini, karena PBB sedang mempersiapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran,” ujar Safa
Dalam unggahan tersebut, Safa juga menggambarkan kondisi sipil di Teheran untuk menekankan dampak serius jika serangan terjadi. Ia menyindir pihak-pihak yang dianggap mendukung perang.