Lebih dari 3.500 tentara Amerika Serikat (AS) tiba di kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya intensitas perang dengan Iran. Kedatangan ini termasuk kapal perang amfibi USS Tripoli yang membawa sekitar 2.500 marinir.
Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam pernyataan di media sosial, sebagaimana dilansir dari CBS News, Selasa (31/3), menyebut USS Tripoli telah tiba di wilayah operasinya. Kapal tersebut merupakan bagian dari Tripoli Amphibious Ready Group/31st Marine Expeditionary Unit.
USS Tripoli dikenal sebagai salah satu kapal perang amfibi paling modern dengan dek besar (big deck) yang mampu mengangkut berbagai alutsista udara, termasuk jet tempur siluman F-35 dan pesawat Osprey.
Sebelumnya, kapal ini berbasis di Jepang sebelum diperintahkan menuju Timur Tengah sekitar dua pekan lalu. Selain membawa marinir, USS Tripoli juga mengangkut pesawat tempur, pesawat angkut, serta perlengkapan serangan amfibi lainnya.
Sementara itu, kapal USS Boxer bersama dua kapal lainnya dan satu unit marinir tambahan juga dikerahkan dari San Diego ke kawasan tersebut.
CENTCOM mengungkapkan, sejak dimulainya Operasi Epic Fury pada 28 Februari 2026, lebih dari 11.000 target telah diserang.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa tujuan militer AS dapat dicapai tanpa pengerahan pasukan darat.
“Tanpa pasukan darat,” kata Rubio, Jumat (27/3).
Namun, ia juga menekankan bahwa Presiden Donald Trump harus siap menghadapi berbagai kemungkinan. Rubio menambahkan bahwa kekuatan militer AS tersedia untuk memberikan fleksibilitas maksimal bagi presiden dalam merespons situasi yang berkembang.
Pengerahan pasukan ini terjadi setelah serangan Iran yang menargetkan Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Dalam serangan tersebut, Iran meluncurkan enam rudal balistik dan 29 drone yang menyebabkan sedikitnya 10 tentara AS terluka, termasuk dua orang dalam kondisi serius.
Konflik yang terus meningkat ini juga berdampak luas secara global, mulai dari gangguan jalur penerbangan internasional, terganggunya ekspor minyak, hingga lonjakan harga bahan bakar. Situasi semakin diperparah dengan kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.
Di tengah eskalasi konflik, Presiden Donald Trump memberikan batas waktu hingga 6 April kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Utusan AS, Steve Witkoff, menyatakan Washington telah menawarkan proposal gencatan senjata berupa daftar 15 poin, termasuk pembatasan program nuklir Iran dan pembukaan kembali jalur pelayaran.
Namun, Iran menolak proposal tersebut dan mengajukan alternatif lima poin yang mencakup tuntutan kompensasi serta pengakuan kedaulatan atas wilayah perairannya. Hingga kini, belum ada tanda-tanda konflik akan mereda, sementara ketegangan terus meningkat di berbagai titik strategis kawasan.