Pada tahun 2009, masyarakat Indonesia dihebohkan oleh fenomena dukun cilik bernama Ponari dari Dusun Kedungsari, Jombang, Jawa Timur. Bocah yang kala itu masih berusia delapan tahun mendadak terkenal karena mengklaim memiliki batu ajaib yang jatuh dari langit bersamaan dengan sambaran petir.
Berita tersebut langsung menyebar cepat dari mulut ke mulut serta melalui tayangan televisi nasional, hingga memicu gelombang ratusan ribu warga dari berbagai daerah untuk berbondong-bondong datang demi meminum air celupan baru tersebut.
Oleh karena itu, mengenang kembali peristiwa unik ini memberi kita sudut pandang menarik mengenai cara berpikir masyarakat dan daya pikat kepasrahan di tengah situasi sulit. Berikut lebih lanjut dilansir dari Journal of Asian Social Science & Kompas.com Archives (23/8).
Kronologi kemunculan batu petir
Kisah ini bermula saat Ponari tidak sengaja menemukan sebuah batu berwarna cokelat kemerahan sewaktu bermain di tengah hujan deras. Setelah menyelupkan batu tersebut ke dalam air dan meminumkannya kepada tetangga yang sakit, warga sekitar mengklaim bahwa penyakit tersebut mendadak sembuh secara ajaib.
Seketika itu juga, ribuan orang mendatangi kediaman Ponari setiap hari hingga menciptakan antrean panjang berkilometer-kilometer. Selain menyebabkan kepungan massa yang sulit terurai, peristiwa ini bahkan sempat menelan korban jiwa akibat desak-desakan ribuan pengunjung yang kelelahan menanti giliran.
Alasan sederhana orang mudah percaya kuno
Banyak orang mendatangi Ponari bukan sekadar karena kepolosan semata, melainkan karena efek plasebo dan tingginya pengobatan medis modern kala itu. Sugesti kuat untuk sembuh mendorong pikiran manusia untuk menciptakan rasa nyaman secara fisik, sehingga mereka merasa tubuhnya jauh lebih sehat setelah meminum air celupan batu tersebut.
Di samping itu, masyarakat kita memiliki tradisi lisan yang sangat kuat terhadap hal-hal mistis dan cerita ajaib. Ketika orang-orang terdekat menceritakan keajaiban secara berulang, rasa penasaran kolektif mengalahkan logika berpikir kritis, sehingga mendorong orang lain untuk ikut mencoba agar tidak ketinggalan momen (FOMO).
Kepraktisan zaman dulu vs sekarang
Meskipun fenomena batu Ponari terjadi pada era televisi analog, pola masyarakat sebenarnya tidak banyak berubah hingga era digital saat ini. Jika dulu informasi ajaib menyebar lewat gosip tetangga dan siaran berita TV, kini cerita serupa beredar sangat cepat melalui unggahan viral di platform media sosial.
Oleh sebab itu, kita perlu terus melatih daya kritis dalam menyikapi segala bentuk klaim instan di internet. Menikmati cerita unik masa lalu seperti kisah Ponari memberikan kita hiburan nostalgia sekaligus pengingat agar tidak mudah terjebak pada solusi ajaib tanpa dasar yang jelas.
Dengan memahami alasan di balik hebohnya peristiwa tersebut, kita bisa mengambil sisi positifnya untuk lebih bijak, tetap menggunakan akal sehat, dan tidak gampang terpengaruh oleh tren viral di masa depan.