sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Sudah ada investor tertarik beli saham DLTA

Kendati rencana penjualan saham milik Pemprov DKI di DLTA masih terkendala administrasi, namun ada investor yang sudah tertarik membelinya

Akbar Persada Tito Dirhantoro
Akbar Persada | Tito Dirhantoro Rabu, 06 Mar 2019 22:28 WIB
Sudah ada investor tertarik beli saham DLTA

Proses penjualan bir PT Delta Djakarta Tbk. (DLTA) masih terkendala pada proses administrasi. Salah satunya, belum adanya persetujuan dari DPRD DKI, mengenai penjualan saham perusahaan bir bermerk Anker tersebut. Kendati begitu, sudah ada investor tertarik membeli saham DLTA.

Komisaris Utama DLTA Sarman Simanjorang, mengatakan, masih optimistis DPRD DKI menyetujui penjualan saham Pemprov DKI di DLTA. "Penolakan kemarin karena DPRD masih melakukan kajian. Kita tunggu saja hasil kajiannya," jelas dia saat dihubungi Alinea.id, Rabu (6/3) malam.

Sarman berharap hasil kajian tersebut bisa segera keluar. Mengingat, setelah itu, masih ada proses administrasi lainnya yang harus diselesaikan. Misalkan saja, melaporkan rencana penjualan saham ke OJK hingga menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Dia mengakui, sudah ada beberapa investor yang tertarik membeli saham DLTA. Namun, Sarman enggan menjelaskan lebih detail karena belum bisa dijelaskan kepada publik. Selain itu, proses penjualan saham juga masih berlangsung. "Yang mau mengajukan penawaran sudah ada. Tapi belum bisa disampaikan ya," ucap dia.

Saat ini kepemilikan saham Pemprov DKI Jakarta di DLTA sebesar 26,25%. Pemilik saham lainnya adalah San Miguel Malaysia sebesar 58,33% sedangkan sisanya adalah publik.    

Kepemilikan saham Pemprov mengalami kenaikan sejak 1970 yang sebelumnya tercatat sahamnya sebesar 23,34%. Dengan demikian, ada kenaikan sebesar 2,91% saham yang dimiliki Pemprov DKI.

Sarman menjelaskan, pada 2017 dividen DLTA yang diterima Pemprov DKI sebesar Rp40 miliar. Diperkirakan pada 2018, nilainya akan meningkat. "Biasanya terus tumbuh. Tapi saya belum dapat informasi untuk 2018," tutur dia.

Sebagai perwakilan Pemprov DKI di DLTA, Sarman mengaku, Pemprov masih berkomitmen menjual saham miliknya di DLTA. Sekaligus menunjukan keseriusan Anies merealisasikan janji politiknya kepada warga DKI.

Sponsored

Sementara berdasarkan laporkan keuangan yang disampaikan kepada BEI, hingga triwulan ketiga 2018, DLTA mencatatkan kinerja positif. Penjualan tumbuh 13,07% secara tahunan menjadi Rp627,79 miliar. Laba bersih DLTA mencapai Rp232,89 miliar naik 23,21% secara tahunan.

Kinerja saham DLTA Tbk. 21 Februari-6 Maret 2019

Sumber: BEI

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menanggapi penolakan penjualan saham bir oleh DPRD DKI Jakarta dengan nada mengancam. Dia menyebutkan akan melaporkan ke warga bahwa legislator daerah yang dipilihnya dan duduk dikursi DPRD DKI lebih memilih mempertahankan saham PT Delta Djakarta.

“Kami berniat melaporkan itu. Kami laporkan kepada rakyat Jakarta bahwa wakil-wakil anda ingin tetap memiliki saham bir,” ujar di Balai Kota Jakarta, Selasa (5/3).

Meski demikian Anies tak menjelaskan seperti apa bentukan laporan ke warga yang dimaksud. Menurutnya, jika dalam laporan tersebut warga tidak meyetujui keputusannya melepas saham DKI di PT Delta, maka warga bisa mengaspirasikannya juga ke DPRD.

“Jadi dewan itu kan wakilnya rakyat ya, ketika wakil rakyat tidak menyetujui, ya kami lapor ke rakyat. Bahwa ini dewan anda ingin punya saham bir terus,” ungkapnya. 

Sebelumnya, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi, mengungkapkan alasannya menolak rekomendasi pelepasan saham DKI Jakarta di PT Delta. Menurut dia PT Delta sejauh ini merupakan merupakan perusahaan sehat dari segi bisnis. Keutungan dalam bentuk dividen pun disetorkan tiap tahun ke Pemprov DKI.

“Salahnya Delta apa sih. Saya tetap berprinsip tidak ada yang merugikan untuk pemerintah daerah,” terangnya, Senin (4/3).

Politikus PDI Perjuangan itu menilai, wacana pelepasan saham di PT Delta layaknya penyakit kambuhan. Pasalnya, pelepasan saham sebelumnya pernah juga diutarakan Anies di tahun lalu. Namun belum ada pembahasan serius dari Pemprov DKI untuk menjelaskan maksud dan tujuannya.

“Perlu rasionalisasi, ini perusahaan ada dari dulu kita tidak pernah keluar uang tapi dapat keuntungan. Tapi sampai saat ini belum ada komunikasi. Cuma surat yang sampai ke saya,” ungkap Pras sapaan karibnya.

Berita Lainnya