sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Asa hilirisasi sang raja nikel dunia  

Hilirisasi diharapkan meningkatkan nilai tambah dalam tata niaga nikel, namun siapa yang diuntungkan?

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Jumat, 30 Okt 2020 09:59 WIB
Asa hilirisasi sang raja nikel dunia  
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 563.680
Dirawat 80.023
Meninggal 17.479
Sembuh 466.178

Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya alam (SDA). Lokasi Indonesia yang berada di pertemuan lempeng Eurasia di barat dan utara, lempeng Indo-Australia di selatan, lempeng Filipina di utara, serta lempeng Pasifik di timur menyebabkan melimpahnya berbagai jenis logam, tak terkecuali nikel.

Menurut laporan United States Geological Survey (USGS), Indonesia merupakan negara dengan produksi bijih nikel terbesar di dunia yakni 800 ribu ton dengan cadangan mencapai 21 juta ton pada tahun 2019. Bisa dibilang, Indonesia merupakan raja nikel dunia. 

Berdasarkan catatan Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), sebanyak 296 perusahaan memegang izin usaha pertambangan (IUP) dan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) nikel, 293 diantaranya sudah beroperasi. Di sisi lain, proses hilirisasi nikel masih dianggap minim.

Dalam pidatonya di Sidang Tahunan MPR 2020 pada Jumat (14/8) silam, Presiden Joko Widodo mengatakan hilirisasi bahan mentah menjadi salah satu fokus dalam pemerintahannya, salah satunya adalah logam nikel yang keberadaannya melimpah di Tanah Air.  

“Bijih nikel telah bisa diolah menjadi feronikel, stainless steel slab, lembaran baja, dan dikembangkan menjadi bahan utama untuk baterai litium. Hal ini akan memperbaiki defisit transaksi berjalan kita, meningkatkan peluang kerja, dan mulai mengurangi dominasi energi fosil,” katanya. 

Dalam rangka hilirisasi nikel, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan pemerintah tengah mendorong pengembangan industri kendaraan listrik yang menggunakan baterai litium. 

“Kita harus menjadi salah satu pemain besar di electric vehicle (kendaraan listrik). Boleh dibilang, 95% mobil di Indonesia mobil jepang. Kalau bikin mobil listrik ini teknologinya enggak susah, tapi yang susah litium battery-nya. Untuk besinya, saya tanya ke ITB, UGM, dan lainnya semua bisa bikin. Kita bisa maju dalam industri mobil listrik dengan keunggulan kompetitif di ranah persaingan global,” terangnya dalam Indy Fest 2020, Senin (19/10). 

Untuk menyiapkan sumber daya manusia yang andal dalam pengolahan logam, kata Luhut, pemerintah dan pelaku usaha bekerja sama membangun politeknik di Morowali (Sulawesi Tengah), Kawasan Industri Teluk Weda (Maluku Utara), dan Bintan (Kepulauan Riau).

Sponsored

Proses hilirisasi bahan mineral sejatinya telah diamanatkan dalam Undang-Undang (UU) 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) yang kemudian direvisi dalam UU 3/2020. Namun, bagaimana dengan pelaksanannya? Siapakah yang sebenarnya diuntungkan?

Pekerja berjalan di salah satu smelter nikel milik PT Vale Tbk, di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Foto Reuters/Yusuf Ahmad.

Potensi nilai tambah

Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM Eko Budi Lelono  menjelaskan Indonesia memiliki total neraca sumber daya bijih nikel sebesar 11,78 miliar ton dan sumber daya logam nikel sebesar 170 juta ton pada tahun 2019.

Adapun cadangan bijih nikel dan logam nikel masing-masing sebesar 4,59 miliar ton dan 71,99 juta ton. Kemudian, sebagian besar produksi nikel Indonesia tersebar di Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku. 

“Kami di Badan Geologi giat melakukan eksplorasi ini, khususnya menambah rekomendasi wilayah-wilayah baru yang direkomendasikan ke Direktorat Jenderal Minerba untuk wilayah usaha pertambangan,” ungkapnya dalam webinar “Masa Depan Hilirisasi Nikel Indonesia, Selasa (13/10).

Total Sumberdaya dan Cadangan Bijih Nikel Indonesia (Sumber : Badan Geologi, Kementerian ESDM)
Tahun Total sumber daya bijih nikel Total cadangan bijih nikel
2015 5.75 miliar ton 3,19 miliar ton
2016 6.67 miliar ton 3,15 miliar ton
2017 6,65 miliar ton 3,16 miliar ton
2018 9,31 miliar ton 3,57 miliar ton
2019 11,78 miliar ton 4,59 miliar ton

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan dan Tata Kelola Minerba Irwandy Arif menambahkan pemerintah tengah mendorong agar proses hilirisasi tidak hanya sampai produk antara (intermediate product) seperti feronikel, nickel pig iron (NPI), dan nickel matte sebagaimana yang terjadi sekarang, namun juga bahan dasar atau pelengkap tahapan akhir dalam pohon industri. 

“Tanpa hilirisasi kita akan selalu impor bahan baku dan mudah terpengaruh faktor non teknis, kemudian hilirisasi ini juga akan meningkatkan kredibilitas dan kehormatan bangsa,” katanya.

Irwandy mengungkapkan kebutuhan logam nikel akan terus meningkat di masa mendatang, terutama untuk produksi baterai. Mengutip dari laporan Wood Mackenzie (2020), ia memaparkan kebutuhan nikel dunia akan meningkat dari 2,4 juta ton pada 2020 menjadi 4 juta ton pada 2040. 

“Meningkatnya permintaan nikel tahun 2040, big project smelter nikel masih diperlukan,” ujar pria yang juga Guru Besar Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung tersebut.

Saat ini, jumlah smelter nikel yang beroperasi baru mencapai 19 unit. Oleh karena itu, pemerintah menargetkan penyelesaian 29 pabrik peleburan nikel baru pada 2023. Tahun depan saja, rencananya 6 smelter akan mulai beroperasi menggunakan teknologi HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang mampu menghasilkan nikel sulfat dan kobalt sulfat sebagai bahan baku baterai.

Keunggulan lain industri nikel Indonesia adalah biaya produksinya yang lebih rendah. Untuk smelter feronikel, biaya peleburan di Indonesia mencapai US$8.052/ton sedangkan di China mencapai US$ 12.341/ton.

“Indonesia terlihat konsumsinya kecil (hasil olahan smelter nikel). Paling dominan secara global China, baik konsumsi mapupun produksi. China sangat berkepentingan terhadap produk-produk nikel kita,” ungkapnya.

Irwandy menambahkan pertambangan dan industri pengolahan nikel terbukti memberi dampak positif bagi perekonomian. Pada 2019, royalti nikel dan olahannya mencapai Rp2,05 triliun serta penerimaan pajak mencapai Rp3,8 triliun. Di saat yang sama, industri pertambangan dan pengolahan nikel menyerap 18.459 tenaga kerja dalam negeri dan 2.807 tenaga kerja asing. Industri juga menggelontorkan dana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sebesar Rp100,26 miliar.

BUMN di tengah dominasi asing

Selain menggaet investor swasta dari dalam dan luar negeri, pemerintah juga mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk terlibat dalam pengembangan hilirisasi nikel, khususnya industri baterai litium.

Sebanyak tiga BUMN yakni PT Aneka Tambang Tbk (Antam) selaku anak usaha holding pertambangan minerba MIND ID (Mining Industry Indonesia), PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero) tengah menjajaki pembentukan Holding Indonesia Battery dalam rangka mengembangkan usaha baterai litium dari hulu hingga hilir. 

Direktur Utama Mind ID Orias Petrus Moedak menjelaskan Antam akan fokus sebagai pemasok bahan baku di hulu, Pertamina berperan dalam produksi baterai di tengah, dan PLN berperan sebagai distributor di hilir. Baterai yang dihasilkan tak hanya digunakan untuk kendaraan listrik, namun juga baterai cadangan bagi panel listrik tenaga surya. Adapun nilai investasinya mencapai US$12 miliar.

“Sedang disiapkan rencana kerjasama konkritnya, sehingga bisa mulai proyek pemanfaatan nikel sampai menghasilkan baterai. Ini pekerjaan rumah besar. Jangan sampai hanya berhenti sampai ke baterai, namun yang memanfaatkan baterai juga produksi. Pendekatan komprehensif diperlukan, jangan sampai kita memberi subsidi ke luar negeri,” terangnya melalui telekonferensi, Selasa (13/10).

Ketiga BUMN tersebut menjalin kerjasama dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China dan LG Chem Ltd asal Korea. Kedua raksasa kendaraan listrik ini bersedia terlibat dalam investasi pengembangan rantai pasok nikel nasional yang nilai keseluruhannya mencapai US$20 miliar.Seorang pekerja menunjukka bijih nikel di smelter feronikel milik PT Aneka Tambang Tbk. di distrik Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Foto Reuters/Yusuf Ahmad.

Selain Antam, pemain-pemain besar nikel Indonesia kebanyakan adalah investor asing seperti PT Vale Indonesia Tbk (Brazil), PT Virtue Dragon Nickel Indonesia (China), dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Nama terakhir didominasi oleh investor China sebagai penyewa lahan untuk pabrik peleburan mereka. 

 

Geliat staycation pengusir penat

Geliat staycation pengusir penat

Jumat, 04 Des 2020 16:55 WIB
Kasak-kusuk posisi staf khusus menteri

Kasak-kusuk posisi staf khusus menteri

Kamis, 03 Des 2020 16:21 WIB
Berita Lainnya