sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bahana TCW perkirakan pasar SBN prospektif hingga akhir tahun

Fundamental perekonomian yang kuat dapat menjaga daya tarik SBN di tengah gempuran sentimen negatif dari eksternal.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 11 Jun 2021 09:47 WIB
Bahana TCW perkirakan pasar SBN prospektif hingga akhir tahun

Bahana TCW Investment Management memperkirakan, daya tarik pasar obligasi Indonesia, termasuk Surat Berharga Negara (SBN), masih akan terjadi hingga akhir 2021. Sebelumnya, banyak spekulasi yang beredar di pasar tentang peluang pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang lebih cepat dari apa yang diharapkan oleh pelaku pasar di Indonesia. 

Direktur Investasi dan Kepala Makroekonomi Bahana TCW Budi Hikmat mengatakan, setidaknya ada beberapa faktor yang akan mendorong daya tarik pasar SBN hingga akhir tahun. Faktor fundamental Indonesia yang kuat menurutnya mampu meningkatkan daya tarik pasar SBN di mata investor. 

"Fundamental perekonomian Indonesia didorong oleh tingkat suku bunga yang rendah. Merujuk pada hasil riset Bahana TCW, The Fed masih akan tetap menjaga suku bunganya di level 0% sampai 0,25% yang akan menjadi ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga," kata dia, dalam keterangan resmi yang dikutip Alinea.id, Jumat (11/6). 

Budi melanjutkan, BI diprediksi akan mempertahankan suku bunga di 3,5% hingga akhir tahun ini. Hal ini akan membawa stabilitas bagi pasar SBN hingga akhir tahun. 

Selain itu, hasil riset Bahana TCW menggambarkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi akan stabil, bahkan menguat ke depan. Penguatan rupiah akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia. 

Proyeksi penguatan rupiah ini berdasar pada fundamental perekonomian domestik yang masih terjaga, tercermin dari defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) yang menipis, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang mumpuni. 

“Pemerintah mampu mengendalikan tingkat inflasi, dengan inflasi tahunan periode Mei sebesar 1,68% masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Bahana TCW pun memperkirakan tingkat inflasi berada di kisaran 2% hingga 2,5% hingga akhir tahun, angka ini sangat aman karena berada di batas bawah target inflasi BI dan juga masih jauh di bawah bond yield yang berada di level 6,4%,” ujar dia.

Faktor domestik lainnya, seperti defisit neraca transaksi berjalan yang hingga saat ini lebih rendah dibanding saat menjelang taper tantrum 2013, yang merupakan saat-saat  terjadinya koreksi cukup dalam di pasar SBN. Selain itu, debt to GDP dalam persentase juga turun, serta cadangan devisa sebesar US$136,4 miliar dipandang masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas hingga akhir tahun.

Sponsored

Dengan demikian, Bahana TCW memprediksikan pasar SBN akan mampu bertahan dari gempuran kondisi ekonomi global, sehingga capital inflow ke pasar SBN masih akan terus terjadi secara gradual hingga akhir tahun. 

Faktor lain yang tak kalah penting bagi pasar SBN adalah faktor supply. Bahana TCW melihat pasar SBN akan menguat ke depan karena penerbitan SBN dapat dijaga sesuai rencana, bahkan pemerintah dapat mengurangi penerbitan SBN jika penerimaan negara positif. 

Seperti diketahui, hingga April 2021 lalu, realisasi pendapatan negara hingga 30 April 2021 sebesar 33,5%. Capaian ini terbilang positif karena angka ini berada di atas tren penerimaan di tahun-tahun sebelumnya, bahkan sebelum pandemi. 

Capaian ini salah satunya dikontribusi oleh harga komoditas ekspor seperti batu bara, minyak sawit dan gas yang sangat bagus selama empat bulan terakhir, sehingga mendorong pendapatan negara.

Meski begitu, kata dia, Bahana TCW tidak menampik masih ada risiko, terutama yang disebabkan oleh sentimen eksternal. Kondisi pasar keuangan domestik sangat dipengaruhi oleh faktor sentimen eksternal di pasar keuangan global, seperti potensi pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat, kenaikan inflasi Amerika Serikat dan penerapan taper tantrum yang lebih cepat dari apa yang diprediksi oleh pasar. 

"Namun, Bahana TCW memperkirakan Amerika Serikat memulai taper pada awal 2022, meskipun informasi tentang penerapan ini akan bergulir di pasar dimulai tahun ini,” tutur dia.

Ramai-ramai melepas jerat fast fashion

Ramai-ramai melepas jerat fast fashion

Sabtu, 12 Jun 2021 08:10 WIB
Pilu di balik pembatalan ibadah haji

Pilu di balik pembatalan ibadah haji

Jumat, 11 Jun 2021 07:19 WIB
Berita Lainnya