logo alinea.id logo alinea.id

Digital payment, cara konglomerat kelola aset data

Bisnis pembayaran digital yang dilakoni perusahaan ritel, bukan semata bisnis pembayaran. Namun juga terkait pada lautan data.

Mona Tobing
Mona Tobing Jumat, 12 Jan 2018 14:23 WIB
Digital payment, cara konglomerat kelola aset data

Sejumlah konglomerat ritel di Indonesia bergegas masuk ke bisnis digital payment. Jika tidak mulai masuk sekarang, bisnis konglomerat akan terlambat mengelola aset data konsumen mereka. 

Pekan ini, ramai dikabarkan bahwa PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP) berencana untuk menawarkan pembayaran digital. Raksasa ritel berbagai departemen store ini dikabarkan telah mengajukan proses perizinan uang elektronik ke Bank Indonesia. 

Ada juga Salim Group yang dikabarkan tertarik untuk masuk ke sistem pembayaran digital. Keinginan Salim merambah produk pembayaran elektronik memang telah dikabarkan sejak tahun lalu, saat itu Pimpinan Salim Group, Anthoni Salim mengaku tengah mempersiapkan model pembayaran elektronik. Salim Group ingin pembayaran digital digunakan pada jaringan toko ritelnya seperti Indomaret misalnya. 

Bisnis pembayaran digital yang dilakoni perusahaan ritel, bukan semata fasilitas pembayaran yang bisa dilakukan. Namun juga terkait pada lautan data atau yang dikenal dengan big data. Lewat data konsumen, perusahaan nantinya dapat dengan mudah mengembangkan bisnisnya dan mengetahui konsumennya yang loyal. 

Seperti diketahui, sejauh ini bidang usaha pengguna utama big data adalah perusahaan telekomunikasi, perbankan dan produsen barang-barang konsumsi seperti makanan dan minuman (consumer goods). Belakangan, sejumlah perusahaan mulai bergerak untuk mengolah data para konsumennya.  Sebab manfaat big data khususnya di dunia usaha terbilang besar, misalnya untuk mengetahui respon masyarakat atas produk yang dikeluarkan. Berikut juga membantu perusahaan mengambil keputusan lebih tepat dan akurat berdasarkan data.  

Alasan lain, bahwa masa depan digital payment di Indonesia diperkirakan bakal cerah. Tingginya penggunaan smartphone masyarakat saat ini, plus jumlah penduduk yang berusia 30 tahun menjadi potensi merekahnya bisnis digital payment.

Salah satu konglomerat asal Indonesia yakni Lippo Group telah memulai lebih dahulu memperkuat layanan dompet digitalnya. Lewat Ovo, Lippo ingin menyatukan 60 juta konsumennya dengan dompet digital. 

Direktur Eksekutif yang bertanggung jawab atas segmen digital Lippo John Riady kepada Nikkei Asian Review menjelaskan dari populasi negara berpenduduk 260 juta orang dengan separuh total populasi adalah berusia 30 tahun atau lebih muda. Maka Indonesia adalah pasar yang besar. 

"Indonesia adalah pasar besar terakhir, dimana teknologi belum benar-benar lepas landas," tukas John.

Harus diakui, Indonesia memang masih tertinggal dari negara maju dalam hal rekening bank dan pemegang kartu kredit. Atas kondisi tersebut, penetrasi smartphone di Indonesia bisa dimanfaatkan untuk pengembangan dompet digital. 

Cucu dari pendiri group dan Chairman Lippo ini menyebut bahwa masyarakat Indonesia saat ini telah berbelanja secara online, berikut juga menggunakan transportasi online

Dengan bisnis yang terintegrasi yakni, ritel dan kesehatan, Lippo akan menggerakkan para konsumennya untuk memulai proses pembayaran dengan Ovo. Perusahaan benar-benar memaksimalkan Ovo lewat gurita bisnisnya. Seperti diketahui Ovo juga telah bermitra dengan Grab dalam urusan pembayaran atau e-money, Lippo adalah salah satu pemegang saham dari Grab. 

John menjelaskan bahwa saat ini kelompok bisnisnya telah mulai mengintegrasikan data 60 juta pelanggannya ke berbagai lini bisnisnya. "Untuk menciptakan satu tampilan," tukas Riady.