sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bijak berinvestasi di tengah ancaman resesi

Kondisi perekonomian global berpotensi kembali krisis, pilihlah instrumen investasi paling aman.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Sabtu, 25 Jun 2022 18:41 WIB
Bijak berinvestasi di tengah ancaman resesi

Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang tengah melanda perekonomian dunia saat ini. Bagaimana tidak, ketika pandemi Covid-19 belum sepenuhnya mereda, dunia sudah digegerkan lagi dengan adanya invasi Rusia ke Ukraina.

Kondisi perekonomian global sebenarnya sudah membaik seiring dengan status pandemi yang menuju endemi di beberapa negara. Aktivitas ekonomi pun mulai berangsur normal. Sayangnya, dalam waktu singkat kondisi ini terancam berbalik.

Pasalnya, Rusia dan Ukraina yang belum menyudahi konflik adalah negara penghasil gandum yang membuat arus perdagangan dan rantai pasok (supply chain) yang berangsur lancar kembali tersendat. Perang juga membuat harga berbagai komoditas, mulai dari minyak mentah hingga pangan, serta energi kembali mengalami kenaikan.

“Dari kenaikan itu, berbagai negara melakukan proteksi dengan menahan kran ekspor komoditas. Inilah yang kemudian mengakselerasi kenaikan inflasi global,” ujar Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Alinea.id, Jumat (17/6).

Belum usai, peningkatan inflasi dunia diperparah oleh kebijakan Zero Covid-19 Cina. Bahkan, kebijakan yang dilakukan dengan penguncian wilayah alias lockdown di Shanghai dan Beijing ini telah membuat inflasi di berbagai negara menjadi terlalu tinggi.

Laju inflasi global
Negara Laju inflasi (year on year/yoy)
China 2,1%
Saudi Arabia 2,3%
Jepang 2,5%
Swiss 2,9%
Taiwan 3,4%
Indonesia 3,5%
Filipina 4,9%
Australia 5,1%
Prancis 5,2%
Korea Selatan 5,4%
Singapura 5,4%
Finlandia 5,7%
Afrika Selatan 5,9%
Swedia 6,4%
Kanada 6,8%
Italia 6,9%
Selandia Baru 6,9%
Irlandia 7%
Thailand 7,1%
Meksiko 7,7%
India 7,8%
Jerman 7,9%
Portugal 8%
Amerika Serikat 8,3%
Spanyol 8,7%
Inggris 9%
Zona Eropa 9,1%
Belanda 9,6%
Brazil 12,1%
Polandia 12,4%
Rusia 17,8%
Argentina 58%
Turki 73,5%

Laju inflasi yang terlalu tinggi ini dikhawatirkan akan menurunkan permintaan dan pada akhirnya akan berimbas pada pelemahan ekonomi negara-negara tersebut. Pada titik ini, ancaman stagflasi pun tidak bisa dihindari.

Tren bearish

Agar inflasi tidak semakin menanjak, banyak negara kemudian memperketat kebijakan moneter mereka dengan menaikkan suku bunga acuan bank sentral. Beberapa bank sentral yang telah menaikkan suku bunga acuan, antara lain Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed), Bank Sentral Australia Reserve Bank of Australia/RBA), Bank of Korea, Bank Sentral Inggris (The Bank of England/BoE), Bank Sentral Brazil (Banco Central do Brasil), Bank Sentral India, Argentina, Meksiko, Arab Saudi, hingga Malaysia.

Sponsored

“Kekhawatiran akan stagflasi ini mendorong spekulasi para pelaku pasar bahwa resesi akan segera datang. Hal ini pun membuat pasar saham global terus melanjutkan tren bearish (pelemahan-red),” jelas Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska saat dihubungi Alinea.id, Jumat (24/6).

Bahkan, pasar yang semakin fluktuatif akan terus terjadi ke depannya, mengingat Bank Sentral AS yang merupakan motor penggerak perekonomian dunia masih terus membuka peluang untuk menaikkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) hingga akhir tahun nanti dan melanjutkannya pada tahun 2023. Dus, suku bunga acuan The Fed diperkirakan akan berada di kisaran 3,25% atau lebih tinggi.

Dengan ancaman stagflasi dan pasar yang semakin tidak pasti, Perusahaan Investasi Amerika Serikat PIMCO menilai agar para investor harus membangun ketahanan dan menyesuaikan kembali portofolio investasi mereka. Hal ini perlu dilakukan untuk melindungi aset yang dimiliki oleh para investor tersebut dalam ketidakpastian ekonomi global.

Hal ini pun diamini oleh Perencana Keuangan Eko Endarto. Dia bilang, dalam kondisi seperti ini investasi pada aset jangka panjang seperti properti, saham, kripto, dan sebagainya sangat berpotensi mengalami tekanan. 

“Apalagi, umumnya kondisi krisis seperti ini akan terjadi selama 6 bulan sampai 2 tahun, sampai akhirnya nanti akan tercipta keseimbangan ekonomi yang baru,” katanya, pada Alinea.id, Jumat (24/6).

Oleh karena itu, dia menyarankan agar investor beralih pada aset investasi yang lebih aman alias instrumen safe haven, seperti emas, deposito, obligasi, dan lainnya. Hal ini tak lain karena aset-aset safe haven ini dinilai memiliki likuiditas yang baik. Dengan likuiditas aset yang bagus ini, investor dapat lebih mudah bermanuver, baik untuk melakukan investasi jangka pendek, menengah maupun panjang.

Berikut merupakan rekomendasi beberapa aset safe haven yang dapat dijadikan investasi oleh para investor:

1.      Emas

Emas sudah dianggap sebagai instrumen investasi paling aman sejak dulu. Dengan harganya yang cenderung stabil dan tidak terdepresiasi seperti mata uang, emas dinilai dapat melindungi aset investor ketika dunia sedang mengalami ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi pasar. Inilah mengapa emas banyak dijadikan sebagai lindung nilai (hedging) oleh berbagai negara.

“Yang lebih menarik lagi, sebenarnya emas saat ini emas memang masih terfluktuasi cukup dalam, karena spread-nya Rp100.000. Jadi pada saat kita beli lebih Rp100.000, saat dijual berkurang Rp100.000. Tapi, untuk jangka menengah, panjang, investasi di logam mulia masih cukup menarik,” ungkap Direktur PT TFRX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, kepada Alinea.id, Sabtu (25/6).

Ilustrasi Pixabay.com.

Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan jumat (24/6) harga emas di pasar spot/dunia berada pada level us1.825,80 per troy ons, atau naik 0,18% dari perdagangan sebelumnya. Meski begitu, dalam sepekan terakhir harga emas masih mengalami penyusutan sebesar 0,7% secara point to point/ptp dan dalam sebulan melemah 2,1%. Sementara dalam jangka waktu satu tahun, emas menguat 2,9%.

“Kalau kita punya emas di tahun 2022, bisa saja di 2027 harganya sudah lebih tinggi lagi, karena emas itu kan mengikuti inflasi. Kalau inflasi tinggi, emas akan mengikuti. Beda kalau kita nabung rupiah, segitu-segitu saja,” imbuh Ibrahim.

2.      Valuta Asing (Valas)

Aset investasi yang masih menjanjikan lainnya ialah valuta asing atau mata uang asing. Dolar AS yang menjadi instrumen paling menggiurkan untuk dikoleksi dalam jangka waktu pendek. Ibrahim menjelaskan, valuta asing hanya menarik untuk dikoleksi dalam jangka pendek mulai dari 1-2 bulan karena investor tidak akan benar-benar mengetahui kapan dolar akan menjadi mata uang paling perkasa, atau sebaliknya.

“Kalau momennya (harga dolar-red) sudah tertinggi jangan disimpan, jual. Sebaliknya, saat rupiah menguat, investor bisa membeli dolar. Karena pada saat ini, dolar bisa hanya menyentuh Rp14.500,” kata Ibrahim.

Sebagai informasi, di pasar spot pada perdagangan kemarin Rupiah ditutup melemah 0,07% pada level Rp14.835 per dolar AS, ketimbang hari sebelumnya. Selain itu, berdasarkan data Investing.com, Rupiah tertekan 0,73% dalam sepekan dan 1,31% dalam sebulan.

Sementara mata uang utama lainnya yang dimonitor Bank Indonesia, seperti won Korea Selatan menguat 1,98 poin (-0,15%) menuju level KRW 1.298,15 per dolar AS, setelahnya yen Jepang menguat 0,19 poin (-0,14%), dolar Singapura menguat 0,0015 poin (-0,11%), euro menguat 0,0008 poin (-0,09%) dan yuan China menguat 0,0082 poin (-0,12%).

Dengan pergerakan tidak pasti dari dolar AS, Ibrahim lantas menyarankan agar investor juga berinvestasi pada mata uang asing lainnya yang jauh lebih aman, seperti mata uang Swiss Franc atau Jepang Yen. 

“Yen saat ini memang penurunannya masih tajam, tapi dalam beberapa waktu ke depan perkiraannya akan menguat,” ujarnya.

3.      Deposito

Deposito dapat mengamankan dana dalam tenor tertentu untuk meredam guncangan resesi yang membuat nilai uang tergerus. Meskipun menawarkan imbal hasil paling moderat, tetapi deposito bisa jadi pilihan yang baik karena sifatnya yang lebih stabil.

Namun demikian, Perencana Keuangan Eko Endarto menyarankan agar investor dapat membukukan deposito tidak lebih dari Rp1 miliar dalam sekali berinvestasi. “Karena yang ditanggung oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan-red) hanya Rp1 miliar. Jadi, kalau misalnya investor taruh uang di deposito Rp10 miliar dan bank mengalami gagal bayar, maka uang yang akan diganti hanya Rp1 miliar,” tuturnya.

4.      Reksa dana

Dengan risiko yang lebih rendah ketimbang saham, reksa dana utamanya reksa dana pasar uang menjadi pilihan para investor untuk mengalihkan aset investasinya. Bahkan, beberapa analis menyebut pada kuartal ketiga tahun ini investor dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi pada reksa dana saham dan reksa dana indeks dengan jangka waktu investasi hingga Januari-Februari 2023 untuk mengoptimalkan imbal hasil. 

Investor juga dapat melakukan akumulasi di reksa dana saham dan indeks jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada pada level 6.600-6.800 dengan target IHSG di kisaran level 7.500-7.600 hingga akhir tahun.

Ilustrasi Pixabay.com.

“Reksa dana pendapatan tetap yang punya penempatan di obligasi korporasi atau SBN (surat berharga negara-red) tenor pendek juga berpeluang menjadi alternatif penempatan investor. Karena risiko fluktuasi yang juga diperkirakan akan lebih rendah,” ungkap CEO Edvisor.id Praska Putrantyo, saat dihubungi Alinea.id belum lama ini.

5.      Fintech Peer-to-Peer (P2P) Lending

Selain memberikan pinjaman pada masyarakat, P2P Lending juga membuka peluang investasi bagi investor. Hal ini dilakukan agar perusahaan dapat meminjamkan uang pada nasabah. Keuntungan yang diperoleh dari pelaku usaha akan memberikan profit juga kepada para pemberi investasi.

Alinea.id mencatat setidaknya investor bisa memilih untuk berinvestasi di financial technology (fintech) P2P lending yang memberikan kucuran kredit konsumtif maupun produktif seperti invoice financing (IF) yang menalangi pelaku usaha berbelanja bahan baku untuk modal usahanya. Pilihannya pun bisa konvensional maupun syariah. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan lender atau pemberi pinjaman di platform P2P lending akan mempermudah masyarakat mendiversifikasi pendanaan. Dus, kesempatan meraih cuan pun juga semakin besar. 

“Namun, jika lender sudah mengalokasikan uang melalui P2P lending, lender tidak bisa menarik uang yang didanai kapanpun lender mau dan ada kemungkinan si peminjam mengalami gagal bayar, sehingga dana yang dipinjamkan memiliki risiko gagal bayar tersebut,” demikian keterangan dalam situs OJK.

Untuk itu, diversifikasi sangat diperlukan agar lender tidak hanya menaruh dana pada satu peminjam namun bisa kepada beberapa peminjam lainnya untuk meminimalisir risiko. Apalagi lender juga dimudahkan dengan adanya informasi risk grade (tingkat risiko) yang ditentukan oleh platform P2P lending sehingga lender bisa mempertimbangkan dengan baik sebelum memberikan pinjaman.

6.      Obligasi Negara

Dengan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7Days Repo Rates/BI7DRR) yang masih cukup tinggi, yakni sebesar 3,5%, obligasi negara jelas menjadi pilihan bagi investor. Bahkan, ketika The Fed benar-benar menaikkan suku bunganya pada Juli nanti yang diperkirakan akan sebesar 75 bps dan 50 bps pada Agustus, suku bunga BI masih akan tetap menarik. Sebab, bank sentral diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga hingga beberapa waktu ke depan.

“Namun, tetap saja, potensi kenaikan suku bunga dalam negeri di semester kedua ini sulit untuk dihindari dengan kenaikan inflasi Indonesia yang meskipun terkendali, tetapi ada potensi kenaikan pada kisaran 4 persen,” prediksi Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska.

Hal ini pun jelas akan berdampak pada obligasi yang juga diperkirakan akan mengalami kenaikan imbal hasil atau penurunan harga. Namun, dengan masih tingginya imbal hasil riil dan selisih imbal hasil yang cukup jauh dengan obligasi pemerintah AS (US Treasury), tentunya kenaikan imbal hasil akan lebih bersifat moderat.

Ditambah lagi, dengan bobot investor asing yang relatif underweight pada Surat Utang Negara, juga akan mengurangi tekanan jual pada obligasi. Investor yang memiliki jangka waktu investasi jangka menengah hingga panjang, dapat fokus pada pendapatan kupon dari surat utang yang memiliki durasi yang lebih singkat.

7.      Saham

Meski pasar saham menjadi sangat volatile karena kondisi ekonomi global saat ini, namun tidak bisa dipungkiri bahwa saham masih menjadi aset yang menarik bagi para investor. “Saham is the choice (saham adalah pilihannya-red),” begitu lah kata Investor Kawakan Lo Kheng Hong, kepada Alinea.id, Sabtu (25/6).

Papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto Reuters.

Saham menjadi pilihan karena perusahaan publik menghasilkan produk dan jasa bagi masyarakat. Artinya, produk-produk itu lah yang selama ini membantu menghidupi masyarakat. Tidak hanya itu, dengan menciptakan atau memproduksi barang, perusahaan publik juga jelas memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Di samping juga menjadi penyumbang pajak terbesar bagi negara.

“Makin besar Bursa Efek Indonesia, bangsa dan negara kita akan mendapatkan lebih banyak lapangan pekerjaan,” imbuhnya.

Namun demikian, investor harus memperhatikan betul sektor saham yang akan dipilih. Sebab, dalam kondisi seperti ini sektor perusahaan publik sangat menentukan cuan atau tidaknya investor di kemudian hari.

Dalam kesempatan terpisah, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus bagi investor mengatakan, saham konsumen primer merupakan salah satu sektor yang masih menjanjikan untuk dikoleksi lantaran menyediakan kebutuhan dasar bagi masyarakat.

Di samping itu, ada pula saham perusahaan teknologi dan tower atau menara yang menyediakan kebutuhan akan jaringan internet di era sekarang ini selayaknya prioritas dan tentunya menara juga sebagai sarana pendukung operasinya sehingga saham telekomunikasi dan infrastrukturnya bisa menjadi pilihan.

“Apalagi jika diperhatikan transformasi bisnis dari konvensional menjadi digital masih terus berlangsung yang akan mendorong pemeratan infrastruktur teknologi,” tutur dia, kepada Alinea.id, Jumat (24/6).

Berita Lainnya
×
tekid