sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bisnis ritel: Dihantam pandemi, ditinggalkan pembeli

Peritel modern harus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Senin, 07 Jun 2021 17:27 WIB
Bisnis ritel: Dihantam pandemi, ditinggalkan pembeli

Lini media sosial ramai oleh kabar tutupnya beberapa gerai Giant. Ritel 'besar' itu tak mampu bertahan di tengah pandemi.

Tak hanya Giant, ada pula 212 Mart yang terpaksa menutup gerai untuk selamanya. Memang, bisnis ritel menjadi salah satu sektor usaha yang terperosok paling dalam akibat pandemi Covid-19. Turunnya pendapatan berujung pada kerugian dan penutupan gerai.

Data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebutkan hingga akhir 2020 tercatat ada 1.200 toko atau rata-rata 4-5 toko ritel tutup per harinya. Sementara pada periode Januari hingga Maret 2021 tercatat sekitar 90 toko ritel atau 1-2 toko tutup per hari.

Ada pula toko ritel yang digugat pailit atau permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Seperti yang saat ini tengah dihadapi Ace Hardware Indonesia dan PT Tonzy Sentosa pengelola Centro Department Store dan Parkson Department Store. 

“Kondisi itu menunjukkan betapa terpuruknya industri ritel kita,” kata Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey, saat dihubungi Alinea.id, Senin (31/5). 

Kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan penurunan konsumsi masyarakat membuat pendapatan peritel praktis terkontraksi. Sebaliknya, beban toko ritel justru bertambah, karena mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk melaksanakan protokol kesehatan. Sebut saja, pembelian disinfektan, hand sanitizer, termometer, hingga alat pelindung diri. 

Roy merinci, hingga kuartal-I 2021, omzet toko ritel di segmen pangan mengalami penurunan rata-rata hingga 40%. Sedangkan untuk ritel segmen non-pangan mengalami penurunan rata-rata mencapai 60%. 

“Pendapatan berkurang sangat jauh dibandingkan kondisi normal. Sehingga tidak bisa menutupi biaya operasional,” jelasnya.

Sponsored

Suasana ritel modern Ramayana di Medan, Sumatera Utara pada awal masa pandemi. Foto Reuters/Aditya Sutanta.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budiharjo Iduansjah menjelaskan, pukulan telak memang dirasakan oleh ritel dengan format besar seperti supermarket atau hypermarket. Namun hal itu tak berlaku bagi ritel dengan format kecil, seperti mini market

Ritel berskala mini justru bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan, meski tidak signifikan. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. misalnya, mencatatkan kenaikan pendapatan hingga akhir 2020. Berdasarkan laporan keuangan pemilik toko ritel Alfamart itu, perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp75,82 triliun. Realisasi tersebut naik 3,95% dari tahun sebelumnya yang hanya senilai Rp72,94 triliun.  

“Karena Covid, orang-orang jadi enggak mau ke mal lama. Maunya itu langsung datang, beli, bayar. Konsumen juga lebih milih buat pergi ke toko terdekat,” tuturnya, kepada Alinea.id melalui saluran telepon, Jumat (4/6). 

Ritel lain yang masih bertahan selama pandemi ialah Superindo. Eksistensi toko ritel ini terlihat dari langkah mereka yang menambah gerainya pada Desember 2020 lalu. Hingga saat ini jaringan ritel modern patungan antara Grup Salim dan Ahold Delhaize asal Belanda itu memiliki 180 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sebanyak 172 gerai merupakan gerai yang dikelola sendiri dan sisanya dikelola melalui kemitraan waralaba bernama Super Indo Express.

Selain itu, ada pula Tip Top Swalayan, jaringan ritel lokal yang tetap berdiri meski digempur dampak pandemi. Rusman Maamoer, pendiri sekaligus pemilik Tip Top mengaku, pagebluk Covid-19 memang membuat bisnis yang telah dilakoninya sejak 1979 ini kembang kempis. 

Namun, swalayan bercorak hijau ini mampu tetap eksis di tengah masyarakat. Kuncinya adalah dengan berpegang pada konsep islami yang diusungnya, yakni hanya mengambil keuntungan 2-3% dari setiap produk yang dijual.

Hingga saat ini Tip Top telah memiliki tujuh gerai yang tersebar di seluruh wilayah Jabodetabek, seperti di Ciputat, Pondok Bambu, Depok, Pondok Gede, Rawamangun, dan Tambun Selatan. 

“Meski barang yang dijual sudah halal, kalau harganya mahal karena untungnya terlalu besar, itu juga enggak baik,” katanya, kepada Alinea.id, Minggu (6/6). 

Selain menawarkan harga murah, Tip Top juga menerapkan strategi lain untuk menarik konsumen. Misalnya dengan memberikan promo Jumat, Sabtu dan Minggu (JSM) hingga promo untuk konsumen yang membayar dengan kartu bank, baik debit maupun kredit. 

“Buat konsumen yang enggak mau ke toko, kami juga ada layanan delivery. Jadi belanjanya bisa lewat online store kami,” imbuhnya.

Persaingan harga

Pakar Marketing Yuswohady bilang, ada beberapa hal yang membuat toko ritel bisa tetap bertahan, bahkan semakin berkembang di kala pandemi. Pertama ialah harga yang lebih kompetitif dibanding toko ritel lainnya. Kedua, aksesbilitas layanan serta layanan kepada konsumen. Ketiga, adanya sistem member dan terakhir adalah perihal lokasi. 

“Karena memang di Superindo dan Tip Top ini harga barang yang dijual lebih murah. Dan ini penyebab utama orang datang ke sebuah supermarket,” jelasnya, kepada Alinea.id, melalui sambungan telepon, Kamis (3/4). 

Selain itu, untuk Superindo, sejak awal sudah memiliki positioning atau tata letak barang yang jelas. Terlebih, jaringan ritel milik PT Lion Super Indo itu memang difokuskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Pekerja mengatur tata letak barang kebutuhan sehari-hari di Ramayana Medan, Sumatera Utara. Foto Reuters/Aditya Sutanta.

Seiring dengan itu, baik Superindo maupun Tip Top memberikan layanan yang baik kepada konsumen. Selain berupa diskon dan pelayanan yang ramah, konsumen juga diberikan pilihan untuk mengemas belanjaannya dengan kantong belanja atau kardus. 

Di sisi lain, kedekatan lokasi toko ritel dengan pemukiman penduduk hingga parkir gratis juga menjadi pertimbangan tersendiri.

“Kalau perlu ada online store dan layanan delivery-nya. Karena ini enggak bisa dipungkiri, sekarang banyak juga konsumen yang memilih belanja online,” tambahnya. 

Pola belanja online

Di sisi lain, menurut Yuswohady, saat ini e-commerce sudah mulai mengambil segmen pasar ritel. Selain menyediakan bahan-bahan pokok dan kebutuhan dasar rumah tangga, perdagangan daring juga mendulang jumlah pelanggan melalui tawaran diskon atau promo lainnya.

Semakin menggeliatnya bisnis e-commerce tampak dari laporan Google, Temasek dan Bain & Company soal e-Conomy 2020. Riset itu menyatakan waktu yang disediakan orang untuk masuk ke platform online meningkat pada masa pandemi dari semula 3,7 jam per hari menjadi 4,7 jam per hari.

Bank Indonesia juga sebelumnya memperkirakan transaksi e-commerce pada tahun ini meningkat menjadi Rp337 triliun. Angka itu naik dari Rp235 triliun sepanjang 2020. 

Karenanya, untuk bertahan dari gempuran e-commerce peritel harus mengikuti pola perubahan belanja masyarakat itu. Seperti halnya yang dilakukan oleh PT Indomarco Pristama atau Indomaret. 

“Pola hidup khususnya pola belanja berubah sejak masa pandemi. Sektor ritel tentunya terdampak situasi ini. Intinya bagaimana ritel dapat berubah mengikuti situasi yang juga berubah,” tutur Marketing Director Indomarco Prismatama Wiwiek Yusuf di Jakarta, Kamis (3/6).

Pada kesempatan lain, Head of Retail Services Colliers Indonesia Sander Halsema menguraikan, untuk bertahan di tengah pandemi, peritel harus mau mengubah pola hingga orientasi bisnis mereka. 

Salah satunya adalah dengan berubah menggunakan konsep pop-up store atau cloud kitchen. Dengan dua konsep itu, selain hanya membutuhkan sedikit modal, secara bersamaan peritel juga bisa memperluas jangkauan pasar mereka. 

Untuk pop-up stores, membutuhkan biaya yang lebih terjangkau karena hanya memerlukan area yang lebih kecil. Selain itu,biaya fit-out juga lebih rendah, periode sewa lebih pendek, dan membutuhkan staf yang lebih sedikit. 

"Selain itu, pop-up stores juga biaya operasionalnya yang lebih rendah dan lebih fleksibel dalam memperluas gerai ke lokasi baru dan menutup gerai yang kinerjanya kurang optimal," jelasnya, kepada Alinea.id, melalui pesan singkat, Rabu (27/5).

Selain konsep di atas ada beberapa alternatif lain yang digunakan, yakni semi-outdoor. Terlebih, dengan adanya peraturan pembatasan sosial, banyak pengunjung yang akhirnya mulai mencari pusat perbelanjaan, toko atau bahkan restoran yang memiliki ruang terbuka. 

Kucuran insentif

Sementara itu, untuk membangkitkan kembali bisnis ritel yang terpuruk karena pandemi, Ketua Umum Aprindo Roy Mandey meminta kepada pemerintah agar mempertimbangkan pemberian insentif terhadap pelaku usaha ritel, termasuk ritel modern. Insentif tersebut dapat berupa kucuran stimulus dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Adapun insentif yang diperlukan pelaku usaha antara lain dengan membantu merestrukturisasi kredit komersial pada bank. Lalu, pelaku ritel pun berharap ada bantuan pemerintah berupa subsidi gaji, misalnya dengan mekanisme langsung kepada karyawan dengan subsidi gaji 50%. Secara operasional, peritel juga meminta bantuan dari pemerintah, misalnya dalam diskon biaya listrik. 

"Apalagi untuk ritel yang sudah sekarat atau yang sudah menggunakan dana operasionalnya dari dana cadangan," ungkap Roy.

Tak hanya soal insentif, Roy pun meminta adanya prioritas vaksinasi terhadap para karyawan ritel. Hal itu dinilai penting lantaran interaksi di pusat perbelanjaan dan ritel juga tinggi dan terjadi setiap hari.

Ilustrasi Alinea.id/Oky Diaz.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan stimulus ekonomi berupa pembiayaan berbunga kompetitif bagi pelaku usaha sudah digelontorkan oleh pemerintah. Namun demikian, pihaknya mengakui, stimulus tersebut memang belum mampu membendung tutupnya sejumlah ritel modern.

“Dengan stimulus pembiayaan berbunga kompetitif bagi pelaku usaha di berbagai bidang artinya sudah mencakup semua aspek,” kata Oke, kepada Alinea.id, melalui pesan singkat, Jumat (28/5).

Kendati demikian, penutupan beberapa gerai ritel merupakan keputusan internal. Meski begitu, menurutnya stimulus tersebut merupakan salah satu upaya terbaik pemerintah untuk membantu dunia usaha agar tetap bertahan dari dampak pandemi. 

“Rupanya bagi beberapa perusahaan belum bisa membantu sehingga harus menutup sebagian gerainya karena pandemi yang berdampak multidimensi,” tutupnya.

Sementara itu, menurut Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono, saat ini pihaknya tengah mengkaji pemberian insentif pajak untuk pengusaha ritel. Dirinya pun juga telah bertemu dengan sejumlah stakeholder untuk membahas insentif yang diusulkan oleh para pengusaha ritel tersebut. Meski begitu, dia masih enggan menyebutkan, secara terperinci terkait insentif pajak itu.

“Untuk insentif pajak ritel, masih dibahas dengan teman-teman di Kemenkeu (Kementerian Keuangan), mengenai teknis dan skemanya,” ujar dia singkat, kepada Alinea.id, Senin (7/6).

Berita Lainnya