close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Dokumentasi Bakrie & Brothers.
icon caption
Ilustrasi. Dokumentasi Bakrie & Brothers.
Bisnis
Jumat, 10 Desember 2021 15:28

BNBR ungkap transformasi bisnis green energy

Transformasi ini sesungguhnya merupakan langkah lanjutan, amplifikasi dan pengembangan bisnis sebelumnya.
swipe

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tengah mempercepat transisi bisnis dengan fokus pada pengembangan di bidang elektrifikasi dan energy transition menuju green energy. BNBR merasa perlu terus bertransformasi mengembangkan industri kendaraan listrik serta mulai merambah industri energi baru dan terbarukan sebagai strategi perusahaan mengembangkan bisnisnya.

“Dunia berubah total ketika perubahan iklim, digitalisasi, dan pandemi Covid-19 terjadi. Saat ini pun kita masih berada dalam krisis, dan baru mau memulai upaya pemulihan ekonomi. Transformasi yang kali ini kami jalani menjadi langkah penting bagi perusahaan untuk menyiasati dan mengubah situasi krisis ini menjadi peluang dan kesempatan untuk berkembang,” kata Direktur Utama PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) Anindya Novyan Bakrie, dalam Paparan Publik Tahunan perusahaan yang diselenggarakan secara virtual di Jakarta, Jumat (10/12).

Transformasi ini sesungguhnya merupakan langkah lanjutan, amplifikasi dan pengembangan bisnis sebelumnya yang lebih mengandalkan bidang industri manufaktur dan infrastruktur sebagai pilar utamanya. Bahkan pada usianya yang mencapai hampir satu abad produksinya tetap bertransformasi dan berkembang di masyarakat.

“Pada usia menjelang 80 tahun ini, Bakrie Group telah bertransformasi dari bisnis perdagangan umum menjadi manufacturer pipa baja, kemudian berkembang melalui agribisnis, pertambangan dan industri energi. Hingga menangani proyek-proyek infrastruktur nasional. Kita perkuat basis manufaktur sambil memulai bisnis baru. Kini saatnya kita masuk elektrifikasi dan energi terbarukan,” ujar Anin.

Secara khusus saat ini perusahaan mengakselerasi transisi dari industri manufaktur komponen otomotif menuju industri kendaraan listrik  khususnya bus listrik, selain memasuki pengembangan renewable energy dan prefab housing & 3D printing; serta penjajakan beberapa bisnis berbasis teknologi yang dilakukan antara lain bersama-sama dengan perusahaan venture capital dan private equity, Quantum Venture Fund.

"Melalui anak usaha PT BBI, perusahaan berfokus pada Proyek Strategis Nasional (PSN) 1 juta rumah pemerintah dan rumah komersial. BBI berkomitmen menjadi salah satu penyedia jasa rumah pre-fabrikasi yang ramah terhadap lingkungan dengan aplikasi yang lebih cepat dan mudah. Selama ini, perusahaan telah membangun rumah dengan teknik prefab housing sebanyak 851 unit rumah. Ke depan, kami melihat terdapat potensi bisnis yang menjanjikan setidaknya sebanyak 21.000 unit rumah di tahun depan,” kata Anin.

Kemudian, dia memaparkan kinerja keuangan selama pandemi Covid-19 mengalami tekanan ekonomi yang menjadikan 2021, sebagai tahun yang penuh tantangan bagi BNBR. Hal ini terlihat dimana pendapatan BNBR mengalami penurunan hingga 21% menjadi Rp1,570 triliun pada kuartal III-2021 dari periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp1,979 triliun.

“Meski demikian, pada kuartal III-2021 ini perusahaan mencatatkan EBITDA positif sebesar Rp78 miliar. Nilai ini naik signifikan jika dibandingkan EBITDA periode yang sama di 2020 yang sebesar Rp17 miliar. Hal ini menunjukkan upaya positif dan resiliensi Perseroan dalam melakukan efisiensi dan cost control yang berakibat baik untuk kinerja perusahaan,” jelas Anin

Saat ini juga berhasil menurunkan rugi bersih dibanding periode yang sama pada 2020 sebesar Rp240 miliar, menjadi sebesar Rp45 miliar di kuartal III-2021. Adapun total aset BNBR juga mengalami peningkatan dari Rp13,99 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp15,12 triliun pada kuartal III-2021. Nilai aset yang meningkat pada sembilan bulan pertama 2021 ini adalah dampak dari kenaikan investasi jangka pendek dan piutang usaha pihak ketiga.

Kemudian, melalui anak usaha PT Bakrie Power, BNBR belum lama ini menyepakati kerja sama dengan PT PLN (Persero) dalam proyek pengadaan dan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Hybrid di Desa Parak, Bontomanai, Selayar, Sulawesi Selatan berkapasitas sebesar 1,3 Mega Watt peak, dan diproyeksikan akan mulai beroperasi secara resmi pada akhir tahun ini.

"Proyek-proyek di bawah PT Bakrie Power ini dikerjakan oleh PT Helio Synar Energi. Selain Selayar, dua jenis proyek EBT berikutnya yang akan kami fokuskan di antaranya adalah de-dieselisasi (de-dieselization) dan PLTS Atap (C&I Rooftop PV). De-dieselisasi market size-nya cukup besar, yakni sebesar US$ 2 miliar dan PLTS Atap sebesar US$650 juta,” tutur Anin.

Lebih jauh penjelasan dalam rapat, Direktur Utama PT Bakrie Power Dody Taufiq Wijaya menambahkan, PLTS Hybrid Selayar merupakan proyek penting yang menandai dimulainya era konversi pembangkit diesel ke pembangkit renewable yang lebih bersih.

“Di seluruh Indonesia ini masih ada ratusan pembangkit listrik bertenaga diesel yang kini dioperasikan PLN. Ini menjadi potensi amat besar untuk dapat dikonversi menjadi pembangkit EBT, seperti yang kami lakukan di PLTS Hybrid Selayar ini,” tutup Dody.

img
Ratih Widihastuti Ayu Hanifah
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan