logo alinea.id logo alinea.id

BNI terseret gagal bayar utang Duniatex

PT Delta Merlin Dunia Textile, anak usaha dari Dunitex Grup gagal bayar kupon obligasi sebesar US$300 juta setara Rp4,2 triliun.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 23 Jul 2019 21:34 WIB
BNI terseret gagal bayar utang Duniatex

PT Delta Merlin Dunia Textile, anak usaha dari Dunitex Grup gagal bayar kupon obligasi sebesar US$300 juta setara Rp4,2 triliun. 

Obligasi Duniatex yang jatuh tempo 10 Juli lalu mengejutkan pasar keuangan. Pasalnya, rekam jejak perusahaan tekstil ini kepada para krediturnya pada bulan sebelumnya masih baik-baik saja.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) turut menjadi salah satu kreditur Duniatex. Direktur Manajemen Risiko BNI Bob Tyasika Ananta mengatakan BNI memiliki eksposur kredit senilai Rp301 miliar ke Duniatex.

"Duniatex ini kami ada sindikasi Rp301 miliar ekuivalen dan juga ada di bilateral sekitar Rp158 miliar. Jadi kalau ditotalkan kita di tekstilnya Duniatex itu Rp459 miliar," kata Bob usai paparan kinerja semester I BNI di Graha BNI, Jakarta, Selasa (23/7).

Bob mengatakan, untuk mitigasi risiko, sindikasi Duniatex ini telah dilindungi oleh jaminan. Jaminan tersebut, kata Bob, memiliki nilai di atas 250% dari total eksposur kredit. Dengan demikian, BNI telah memiliki cukup cover untuk melakukan mitigasi risiko.

"Intinya sampai posisi akhir Juni kemarin mereka masih melakukan pembayaran normal. Dengan kejadian ini, memang kemudian kami lakukan antisipasi, kira-kira di bulan Juli ini akan kami lihat seperti apa mereka memenuhi kewajibannya," ujar Bob. 

Sebelumnya pada 16 Juli 2019, lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) memangkas rating PT Delta Mandiri Dunia Textile (DMDT) dari BB- menjadi CCC-. S&P dalam rilisnya mengatakan DMDT menghadapi permasalahan likuiditas yang serius. 

Selain itu, perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga turut memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Selain terkena dampak dari perang dagang, S&P juga mengatakan DMDT juga terkena imbas dari pemilu 2019 yang memperlemah permintaan domestik.

Sponsored

S&P memprediksi DMDT juga tak bisa membayar pinjaman sindikasi sebesar US$5 juta yang akan jatuh tempo pada September 2019. 

S&P juga mengatakan mereka bisa saja mengurangi lagi peringkat perusahaan ke level Selective Default (SD) jika perusahaan tak mampu membayar obligasi mereka tepat waktu. S&P juga bisa saja memangkas lagi peringkat perusahaan menjadi D jika Duniatex Grup memasukkan DMDT dalam skema restrukturisasi utang.

Untuk diketahui seperti yang tercantum di laman resmi perusahaan, Duniatex adalah perusahaan tekstil yang fokus pada pemintalan, penenunan, pencelupan, dan finishing. Perusahaan ini terdiri dari 18 perusahaan terbatas, tersebar di beberapa lokasi di lebih dari 150 hektare lahan. 

Duniatex didirikan pada tahun 1974 dengan nama CV Duniatex di Surakarta, kemudian beroperasi di industri finishing pada tahun 1988. Kemudian, pada tahun 1992, Duniatex mengambil alih PT Damaitex berlokasi di Semarang yang beroperasi di industri finishing

Selanjutnya, Duniatex memperluas operasi tenunnya pada tahun 1998 dengan mendirikan PT Dunia Sandang Abadi dan PT Delta Merlin Dunia Tekstil. Kemudian pada 2003, Duniatex mendirikan PT Delta Merlin Sandang Tekstil dan PT Delta Dunia Tekstil pada 2006, disusul dengan pendirian PT Delta Dunia Sandang Tekstil pada 2010.

Dengan sertifikasi standar mutu ISO: 9001:2000, Duniatex tercatat memiliki lebih dari 40.000 pekerja. Pelanggan Duniatex pun tersebar di beberapa negara di empat benua yang berbeda, yaitu Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika.