sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

BUMN Karya: Utang melambung tak bikin untung

Utang luar negeri BUMN per Agustus 2019, nilainya mencapai US$51,07 miliar setara Rp714,98 triliun.

Sukirno
Sukirno Selasa, 05 Nov 2019 06:06 WIB
BUMN Karya: Utang melambung tak bikin untung

Presiden Joko Widodo menggenjot pembangunan infrastruktur melalui penugasan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak memimpin Indonesia pada 2014.

 

Tampaknya, penugasan kepada BUMN itu berdampak besar bagi kinerja keuangan emiten pelat merah dalam lima tahun terakhir.

 

Hasil riset Alinea.id terhadap kinerja keuangan empat BUMN Karya menunjukkan, laju pertumbuhan nilai utang melesat lebih kencang ketimbang lonjakan pendapatan dan laba bersih.

 

Empat emiten BUMN Karya tersebut adalah PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Untuk selanjutnya, masing-masing akan disebut sesuai kode saham yang tercatat di PT Bursa Efek Indonesia, yakni ADHI, PTPP, WIKA, dan WSKT.

 

Analisis berangkat dari data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SUNLI) yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) pada 15 Oktober 2019. Secara keseluruhan, utang luar negeri Indonesia tumbuh 9,8% year-on-year (yoy) menjadi US$393,5 miliar setara Rp5.505 triliun per Agustus 2019.

 

Khusus utang luar negeri BUMN per Agustus 2019, nilainya mencapai US$51,07 miliar setara Rp714,98 triliun. Utang tersebut dimiliki oleh BUMN perbankan, lembaga keuangan non bank, dan lembaga non keuangan.

 

Jika diteliti lebih dalam, pertumbuhan utang luar negeri BUMN selama lima tahun mencapai 66,35%. Laju pertumbuhan utang tercepat terjadi pada lembaga keuangan non bank yang melonjak 151,23% dalam lima tahun terakhir.

 

Akan tetapi secara nominal, BUMN non lembaga keuangan memiliki utang luar negeri terbanyak senilai US$39,51 miliar setara Rp553,14 triliun. Pertumbuhan utang kelompok BUMN non keuangan ini mencapai 57,83% sejak 2014 hingga 2019.