sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Cari akal mengelola sampah e-commerce

Tingginya aktivitas jual-beli secara online berimbas terhadap sampah plastik yang semakin menggunung.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Kamis, 17 Des 2020 06:54 WIB
Cari akal mengelola sampah e-commerce
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Praktis, aman, dan nyaman. Sederet alasan itu memicu melonjaknya transaksi belanja online saat pandemi.

Setidaknya, hal itu yang diakui oleh Igna Ardiani. Perempuan 38 itu kian rajin membeli kebutuhannya melalui platform e-commerce. 

Igna melakukan transaksi secara daring minimal sebulan sekali.  Bahkan, hampir tiap minggu selalu ada produk yang dibeli secara online. 

Barang yang dibeli beragam. Mulai dari makanan, produk elektronik, atau fashion. Khusus untuk dua jenis produk yang disebut terakhir, dia beli apabila ada diskon.  

"Seringnya makanan," ujar Igna kepada Alinea.id, Selasa (15/12). 

Hal yang sama juga dialami oleh Ian Aziz (25). Dia yang sebelumnya tidak gemar berbelanja e-commerce, kini menjadi keranjingan beli-beli. Mulai dari produk kesehatan seperti masker, vitamin, makanan, minuman penambah stamina tubuh, hingga fashion, buku, dan produk elektronik. 

Tiap minggu, selalu ada produk yang dibeli oleh karyawan asal Jawa Timur ini. Terlebih jika sedang ada promosi potongan harga atau gratis ongkir, dia bisa memborong dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. 

Namun, tingginya aktivitas jual-beli secara online berimbas terhadap sampah plastik yang semakin menggunung. Hal itu terlihat dari studi yang dirilis Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Penelitian terkait Dampak PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dan WFH (work from home) Terhadap Sampah Plastik di kawasan Jabodetabek itu dilakukan melalui survei online pada 20 April hingga 5 Mei 2020. 

Sponsored

Hasil survei, mayoritas warga Jabodetabek yang melakukan belanja online cenderung meningkat. Dari sebelumnya hanya satu hingga lima kali sebulan, menjadi satu hingga 10 kali selama PSBB atau WFH. Begitu pula dengan penggunaan layanan delivery makanan lewat jasa transportasi online yang menunjukkan kenaikan.

Padahal, 96% paket dibungkus dengan plastik yang tebal, ditambah bubble wrap, selotip, hingga bungkus plastik. Bubble wrap merupakan pembungkus berbahan plastik yang paling sering ditemukan. Bahkan di kawasan Jabodetabek, jumlah sampah plastik dari bungkus paket mengungguli jumlah sampah plastik dari kemasan yang dibeli.

Pengelolaan sampah

Survei yang sama juga menunjukkan masih minimnya kesadaran masyarakat soal pengelolaan sampah e-commerce .

“Hanya separuh dari warga yang memilah sampah untuk didaur ulang. Hal ini berpotensi meningkatkan sampah plastik dan menambah beban tempat pembuangan akhir selama PSBB/WFH,” ujar peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Intan Suci Nurhati, dikutip dari situs resmi LIPI. 

Serupa seperti yang diakui Aziz dan Igna. Aziz mengatakan tak memilah sampah plastik dan membuangnya bareng dengan jenis yang lain. 

"Tapi ada juga yang biasanya saya pakai lagi atau dikasih ke pemulung," ujar Aziz ketika berbincang dengan Alinea.id, Selasa (12/16). 

Pun demikian dengan Igna. Pekerja di salah satu perbankan di Jakarta ini mengatakan plastik pembungkus belanjaan online-nya menumpuk. 

"Kalau plastik kresek, biasanya saya simpan untuk wadah sampah. Bubble wrap kadang saya simpan, tapi kadang saya buang. Kalau kardus, biasanya saya buang," jelas Igna. 

Circular Economy Strategist of Consult Departement Waste4Change, Adhitya Prayoga mengungkapkan terjadi peningkatan sampah sektor rumah tangga (household) selama pandemi. Termasuk, dimungkinkan berasal dari belanja e-commerce

Waste4Change sebagai kewirausahaan sosial yang memberi solusi terhadap permasalahan sampah itu, memiliki mitra kerja sama dengan berbagai stakeholder untuk mengelola sampah dari hulu ke hilir. Mulai dari pengumpulan hingga daur ulang. 

Dia bilang, setidaknya ada sebanyak 15 ton sampah per hari di Jabodetabek yang kini dikelola perusahaannya. Sampah itu berasal dari sekitar 2.000 kepala keluarga (KK) hingga lebih dari 60 sektor komersial. Seperti bisnis ritel hingga kantor pemerintahan.

"Sejak Maret-April, aktivitas di sektor komersial menurun, sedangkan sampah di household menjadi lebih banyak," kata Adhit dihubungi Alinea.id, Senin (14/12). 

Tidak hanya aktivitas pengelolaan sampah langsung, Waste4Change juga aktif melakukan berbagai kampanye dan sosialisasi untuk bijak mengelola sampah. Tak terkecuali, menyoal sampah e-commerce ini.

Baru-baru ini, Adhit bilang, pihaknya menggandeng e-commerce Blibli untuk program cinta bumi dan lingkungan, yang implikasinya ke pengurangan sampah. 

"Aksi cinta bumi, itu sesuatu inisiasi yang mengembalikan packaging e-commerce, bisa ke titik poin Blibli. We try to do," ujarnya. 

VP of Public Relations Blibli, Yolanda Nainggolan mengatakan inisiatif ramah lingkungan dengan pengurangan sampah dalam operasional bisnisnya sudah dijalankan melalui kampanye #BlibliCintaBumi #AksiCintaBumi. 

"Program ini ditujukan guna mengedukasi karyawan dan mengajak pelanggan Blibli mulai menjalankan gaya hidup peduli lingkungan untuk kelangsungan hidup alam Indonesia yang sehat dan bersih," kata Yolanda kepada Alinea.id, Selasa (15/12).

Mekanismenya, Blibli mengajak karyawan dan konsumen untuk mengelola sampah plastik dan mengembalikan kardus bekas yang mereka miliki, baik dari hasil berbelanja di Blibli ataupun dari tempat lain. 

Sampah plastik dan kardus bekas ini, dapat diberikan ke Blibli melalui kurir internal alias Blibli Express Service (BES) pada saat mengantar barang pesanan kepada pelanggan atau melalui #BlibliCintaBumi Collection Boxes yang tersebar di berbagai titik lokasi Jabodetabek.  

"Hingga kini, ada lebih 5.000 orang dari beberapa daerah di Jabodetabek yang berpartisipasi mengumpulkan kardus bekas Blibli yang diberikan melalui kurir BES," imbuhnya.  

Selain itu, pada halaman khusus #BlibliCintaBumi terdapat kurasi produk ramah lingkungan yang terdiri dari beberapa produk dari kategori galeri Indonesia, home dan living, kesehatan dan kecantikan, fashion wanita, fashion pria, olah raga dan aktivitas ruang, serta kategori ibu dan anak. 

Ilustrasi belanja online. Foto Pixabay.

Berdasarkan data internal Blibli, rangkaian Hari Belanja Nasional (Harbolnas) sejak Oktober 2020 lalu, mencatat kenaikan. Pembelanjaan kebutuhan rumah tangga di Blibli Mart melonjak lima kali lipat, kesehatan dan kecantikan meningkat tujuh kali, serta ibu dan anak meningkat enam kali dibandingkan rata-rata. 

Kebutuhan elektronik pun juga meningkat di pembelanjaan Blibli, seperti ponsel, tablet dan wearable gadget naik lima kali didorong oleh WFH dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang mengharuskan siswa untuk belajar dari rumah. 

Sementara itu, menyoal upaya pengurangan sampah e-commerce, Senior Corporate Communication Manager Bukalapak, Gicha Graciella mengaku menyerahkannya ke kebijakan masing-masing pelapak dan pilihan pembeli. 

Namun, dia mengklaim pihaknya berkomitmen menjaga transaksi online dapat terlaksana secara aman dan nyaman untuk seluruh masyarakat, termasuk soal upaya pengurangan sampah e-commerce.

"Pada dasarnya Bukalapak mendukung dan menghargai segala upaya yang dilakukan masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan," ujar Gicha dihubungi Alinea.id, Selasa (15/12).

Selama Maret 2020, Bukalapak telah mencatatkan kenaikan nilai transaksi sebesar 20% dari bulan sebelumnya. Di periode sama, kenaikan bahan pokok mencapai 3,5 kali lipat, produk makanan dan minuman naik dua kali. Adapun, yang banyak dicari ialah bumbu herbal, bumbu instan, hingga minuman herbal seperti jahe dan curcuma.

Produk kesehatan dan penunjang WFH selama pandemi pun meningkat. Permintaan masker naik 90%, produk vitamin 30%, hingga hobi dan games naik 70%. Perlengkapan berkebun hingga aquarium tercatat paling banyak dicari. 

Butuh regulasi

Adhitya Prayoga dari Waste4Change mengatakan pengelolaan sampah e-commerce perlu taktik.

Persoalan sampah e-commerce dinilai masih baru apabila dibandingkan dengan peritel yang kampanyenya mulai digerakkan nyaris satu dekade lalu.

Apalagi, sampah e-commerce relatif sulit diidentifikasi apabila dilihat dari karakteristiknya. Jumlah penjual online di e-commerce juga banyak dan beragam.  

Menurutnya, perlu regulasi untuk mengatur pemakaian plastik pada transaksi belanja online. "Misalnya dengan menetapkan batas maksimum layer (lapisan bungkus plastik) dan bekerja sama dengan perusahaan logistik supaya handle barang lebih baik. Sesuai kebutuhannya saja, enggak perlu diekstra-ekstrain bungkusnya," jelas Adhit. 

Selain soal pembatasan, dia juga menyoroti agar perusahaan e-commerce melakukan pengurangan sampah yang konkret. Dia mencontohkan, perusahaan bisa mendorong inisiasi pengembalian bungkus produk dengan sistem menarik dan iming-iming poin khusus. 

"Kami juga berandai-andai, sistemnya bisa re-package. Bungkus e-commerce bisa digunakan lagi, jadi setelah diterima oleh pembeli, bisa langsung diberikan ke kantor pos," lanjutnya. 

Tidak hanya mengandalkan inisiasi di masyarakat, upaya pengelolaan sampah e-commerce ini juga dinilai perlu infrastruktur kebijakan dari pemerintah yang mumpuni. Selain soal aturan, juga perlu aksi penegakan aturan. 

"Di Indonesia ini, aturan pengelolaan sampah sudah bagus, tapi penegakannya yang belum. Jadi, perlu memikirkan cara penegakan hukum yang baik," ujarnya.

Berita Lainnya