sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

CEO Tokopedia, William Tanuwijaya sabet Innovation Leadership Achievement Award dari The Asian Banker

Kiprah William Tanuwijaya memimpin Tokopedia telah diakui di kawasan Asia Pasifik.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Jumat, 30 Jul 2021 16:55 WIB
CEO Tokopedia, William Tanuwijaya sabet Innovation Leadership Achievement Award dari The Asian Banker

William Tanuwijaya, Pendiri sekaligus CEO Tokopedia menyabet Innovation Leadership Achievement Award dari majalah ekonomi terkemuka di Asia, The Asian Banker. Lelaki asal Pematang Siantar, Sumatera ini menjadi satu-satunya orang Indonesia yang bersanding dengan jajaran CEO top se-Asia Pasifik lainnya.

Penghargaan serupa juga diberikan kepada CEO industri finansial lain dari China, Australia, India, Singapura, dan Vietnam. Gelaran penghargaan tiga tahunan itu juga memberikan penghargaan khusus untuk Bank Indonesia (BI). Bank sentral dinobatkan sebagai Best Systemic and Prudential Regulator in Asia Pacific.

Perjalanan William membangun Tokopedia memang bukan seperti membangun Roma yang selesai dalam satu malam. Namun, proses membangun aplikasi marketplace ini tidak ubahnya seperti menciptakan suatu peradaban besar di sebuah kota.

Hijrah ke ibu kota

William menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota kelahirannya Pematang Siantar, Sumatera Utara. Selepas Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk pertama kalinya William menginjakkan kaki di kota lain: Jakarta.

Tahun 1999, William masuk ke Universitas Bina Nusantara dan menempuh pendidikan di jurusan Teknik Informasi. 

"Baru dua tahun kuliah, ayah saya jatuh sakit," ceritanya di podcast Deddy Courbuzier yang rilis di kanal YouTube, dikutip Jumat (30/7).

Tak berdiam diri, William pun mengambil pekerjaan sebagai penjaga warung internet (warnet) saat malam hari demi bisa menopang kehidupan di ibu kota. Namun ini justru menjadi kegiatan yang mempertemukannya dengan mimpi besar: membangun ekosistem digital raksasa.

Sponsored

"Blessing in disguise. Internet saat itu menjadi sesuatu yang mewah, tapi kala itu justru saya bisa menggunakannya, jadi luar biasa," tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, William mampu menyelesaikan studi dalam kurun empat tahun. Ia pun langsung terjun ke dunia kerja. Dalam dua tahun, William merintis karir di tiga perusahaan. Hingga pada tahun 2007, ia mulai merealisasikan mimpinya.
 
Dari kamar kosnya, William memikirkan kemungkinan bisnis untuk dapat menempatkan etalase toko besar di awan digital. Ide itu muncul ketika William membaca sebuah artikel di majalah The Economist dengan judul ‘Bright Lights, Big Cities’.

Artikel tersebut mengupas persoalan klasik yang dihadapi hampir semua kota besar di Indonesia, yakni urbanisasi. The Economist meramal, pada 2030 nanti kota-kota besar termasuk Jakarta akan semakin gendut dan terseok-seok menggendong warganya.

Cerita soal ‘ibu kota lebih kejam dari ibu tiri’ seakan tak pernah membuat para perantau gentar untuk datang ke Jakarta atau kota-kota besar lainnya.

“Urbanisasi ini adalah lingkaran setan yang perlu diselesaikan,” kata William saat mengenang riuh-rendah perjalanannya membangun Tokopedia.

Bersama dengan Leontinus Alpha Edison, Vice Chairman & Co-founder Tokopedia, ia pun memulai perjalanan panjang aplikasi bercorak hijau ini. Mereka bercita-cita untuk membangun suatu ‘peradaban baru’ dalam etalase digital yang memungkinkan setiap orang punya kesempatan yang sama untuk berusaha tanpa perlu datang ke Jakarta. Cita-cita itu kemudian semakin kuat ketika William mudik ke kampung halamannya.

Di sana, ia melihat harga-harga barang di pasar tradisional jauh lebih mahal dibandingkan di Jakarta. Memang, masalah distribusi dan ketidaksetaraan harga bahan pokok kala itu menyebabkan harga-harga di sejumlah daerah jauh lebih mahal dibandingkan ibu kota.

Founder dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya. Foto dokumentasi Tokopedia.

Dia juga melihat keberhasilan perusahaan digital besar seperti Google dan Facebook yang semakin meyakinkannya untuk membangun Tokopedia. Tetapi seperti halnya anak-anak muda lain yang selalu punya mimpi besar, tanpa kemampuan finansial, upaya William pun harus terbentur masalah permodalan.

"Inovasi yang kamu lahirkan bukan sesuatu yang baru, raksasa global akan masuk (ke Indonesia) bagaimana bisa bersaing?" ujarnya menirukan ucapan seseorang yang ditemuinya kala merintis Tokopedia.

Selama dua tahun pada 2007 sampai 2009, William berupaya meyakinkan investor untuk memberikan permodalan akan idenya, namun gagal. Mencoba lagi, gagal lagi, mencoba lagi dan lagi, tetapi gagal lagi dan lagi.

“Terbentur, terbentur, terbentuk,” seperti halnya pernah diungkapkan Tan Malaka. Begitulah yang terjadi pada akhirnya. 

Singkat cerita, pada 2009, William mendapatkan permodalan pertamanya dari PT Indonusa Dwitama senilai Rp2,5 miliar.

Tokopedia pun resmi diluncurkan di tahun yang sama. Hanya ada 70 pedagang yang bergabung dengan Tokopedia kala itu. Tetapi perjalanan baru saja dimulai. Ini hanya titik awal bagi William dan kawan-kawan untuk membuktikan bahwa gagasannya merupakan sebuah ide brilian.

Tokopedia menggaet boyband asal Korea Selatan, BTS sebagai brand ambassador. Tangkapan layar channel Youtube Tokopedia.

William berhasil membuktikan kata-katanya. Pada 2013, Tokopedia sukses membukukan setidaknya 2 juta penjualan melalui platformnya. Kepercayaan yang dibayar tuntas itu pun akhirnya membawa Tokopedia ke titik yang jauh lebih tinggi.

Hasilnya, pada 2014, Tokopedia kembali memperoleh pendanaan dari SoftBank Internet and Media Inc. (SIMI) dan Sequoia Capital dengan nilai mencapai Rp1,2 triliun.

“Pendanaan ini juga menjadikan Tokopedia perusahaan pertama di Asia Tenggara yang mendapat pendanaan US$100 juta dari SoftBank dan Sequoia,” ungkap William.

Tanpa privilege

Jalan panjang mencari pendanaan bagi ide bisnisnya memang tak mudah. William mengaku, calon investor yang ia temui  tak jarang mengulik masa lalunya. 

"Mereka akan selalu mencari rekam jejak pribadi. Kamu dari keluarga siapa? Lulusan universitas mana?" cetusnya.

Padahal, William hanya anak muda kebanyakan. Sang ayah yang memintanya kuliah di Jakarta sakit ketika ia menginjak tahun kedua di bangku kuliah. Akhirnya, ia memutuskan kuliah sambil bekerja. Sedangkan sang ibu, hanya ibu rumah tangga biasa.

Pendidikan tingginya pun tidak berasal dari kampus bergengsi di luar negeri. Ia menggali ilmu hanya dari sebuah kampus swasta. 

"Masa lalu tidak bisa kita ubah, tapi masa depan bisa kita cetak," ujarnya kepada Deddy Courbuzier.

William pun mengaku beruntung karena telah menemukan tujuan hidupnya kala kuliah tersebut. Hal itu membuatnya tak patah arang meski berkali-kali gagal menemukan permodalan untuk mewujudkan mimpinya.

"William, jangan bermimpi di siang bolong," ujarnya menceritakan komentar orang-orang yang ia temui.

Pernah pula ia 'ditolak' karena tak mampu berbahasa Inggris kala mencari permodalan dari luar negeri. Namun, satu jargon terus terngiang di kepalanya: "Bermimpilah setinggi langit!"

Pesan dari bapak bangsa, Soekarno yang terus memacunya maju. William pun akhirnya mewujudkan mimpi. Karenanya, ia mengharapkan anak muda Indonesia tak kehilangan kemerdekaannya, bahkan untuk sekadar bermimpi.
Ilustrasi Alinea.id/Muji Prayitno. 
 
 

 

Berita Lainnya