sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Di balik gempita rekor 'Ikatan Cinta'

Sinetron Ikatan Cinta diperkirakan mendulang banyak cuan dari perolehan iklan.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Sabtu, 20 Mar 2021 15:34 WIB
Di balik gempita rekor 'Ikatan Cinta'

Kisah cinta Andin (Amanda Manopo) dan Aldebaran (Arya Saloka) dalam serial Ikatan Cinta berhasil mengaduk-aduk emosi pemirsanya. Sinetron yang tayang di RCTI setiap pukul 19.30 WIB ini, tak jarang menyedot perhatian. 

Opera sabun besutan MNC Pictures itu pun seringkali jadi buah bibir masyarakat. Cerita-cerita candu sinetron ini bahkan seringkali viral di lini media sosial. Mulai dari militansi penonton setianya, jumlah iklan di setiap segmen hingga pecah rekor rating.

Kisah unik soal militansi penggemar Ikatan Cinta salah satunya tampak kala para penggemar Andin dan Mas Al menggelar nonton bareng sekampung di pinggir jalan. Nobar itu dilakukan dengan memasang layar tancap di sebuah depan kios. 

Hingga saat ini, tayangan itu telah ditonton oleh lebih dari 177 ribu orang dengan ribuan komentar dan dibagikan lebih dari 2000-an kali. 

"Jadi di kampung gue lagi nobar Ikatan Cinta wkwk. Mantap banget kan bukannya sekeluarga lagi yang suka IC (Ikatan Cinta) tapi se-gang," ujar pemilik akun @fadiaagsn seperti dikutip dari akun TikToknya.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by MNC Pictures (@mnc_pictures)

 

Sponsored

 

Salah satu penonton setia Ikatan Cinta, Muyasaroh (47) mengaku terpikat dengan sinetron yang mulai tayang sejak 19 Oktober 2020 itu karena penjiwaan para pemainnya. Tak hanya itu, jalan cerita "Ikatan Cinta" juga selalu membuatnya penasaran. 

"Sepele sebenarnya ceritanya, tapi bikin penasaran. Kalau ketinggalan itu kayak menyesal," ujar Muyasaroh kepada Alinea.id, Jumat (19/3). 

Ibu rumah tangga dua anak itu tak menyangkal bahwa faktor jalan cerita yang emosional justru menjadikan sinetron itu makin seru. 

"Gemas sendiri. Apalagi Mas Al, yang cuek itu, bikin senyum-senyum hahaha," kata wanita yang tinggal di Jawa Timur ini.  

Pengaruh lainnya, menurut dia, juga berkaitan dengan faktor lingkungan di sekitarnya yang juga tengah keranjingan sinetron Ikatan Cinta. Dia bahkan tak jarang mendapati, teman-teman sebayanya yang ikut terbawa emosi saat menonton sinetron yang ditulis Theresia Fransisca ini.

"Ada yang cerita, sebel banget aku sama Elsa. Tetangga-tetangga suka heboh sendiri," ujarnya. 

Hiburan kala 'di rumah saja'

Kondisi pandemi Covid-19 yang menyebabkan kebiasaan 'di rumah saja' tak dimungkiri turut mengubah gaya hidup masyarakat. Tak terkecuali, dalam hal menonton televisi. Utamanya, yang berkaitan dengan berita seputar kebutuhan saat pandemi.

Pada masa awal pandemi, Nielsen Television Audience Measurement (TAM) melansir terdapat 11 kota menunjukkan rata-rata kepemirsaan TV mulai meningkat dalam seminggu. Dari rata-rata rating 12% di tanggal 11 Maret menjadi 13,8% di tanggal 18 Maret atau setara dengan penambahan sekitar 1 juta pemirsa TV. 

Durasi menonton TV pun mengalami lonjakan lebih dari 40 menit, dari rata-rata 4 jam 48 menit di tanggal 11 Maret menjadi 5 jam 29 menit di tanggal 18 Maret. 

Daya magnet terhadap televisi tersebut tak menutup kemungkinan bahwa masyarakat di saat yang sama juga mengkonsumsi tontonan yang bersifat menghibur. Kondisi stres dan tertekan karena pandemi, menyebabkan kebutuhan 'tontonan ringan' menjadi pilihan. 

"Begitu pandemi, tidak banyak kegiatan keluar. Ada kenaikan signifikan konsumsi media di kala pandemi," ujar Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Diponegoro, Lintang Ratri kepada Alinea.id, Kamis (18/3). 

Maraknya masyarakat yang menggemari sinetron yang penuh drama -bahkan cenderung melodrama- itu, menurut Lintang tak lepas dari kondisi sosial budaya masyarakat. Seperti diketahui, kesenjangan ekonomi di Tanah Air lumayan tinggi. 

Tak elak, mimpi dan kehidupan yang menyenangkan dalam tayangan sinetron itu, lantas menjadi sesuatu hal 'seksi' untuk dijual sebagai komoditi. 

"Sindrom Cinderella (Complex) itu selalu memikat, apalagi di kultur masyarakat Indonesia," ujarnya. 

Dilansir dari Halodoc, Sindrom Cinderella Complex ini mengacu pada kondisi psikologis wanita yang mematok kriterianya atas fantasi seorang putri dengan pangeran yang membuatnya bahagia. 

Ikatan Cinta pada awalnya bercerita tentang dua bersaudara Andin (Amanda Manopo) dan Elsa (Glenca Chysara). Tanpa saling mengetahui, keduanya mencintai pria yang sama yaitu Nino (Evan Sanders). Hubungan mereka berdua yang memang tidak pernah baik menjadi semakin buruk setelah Elsa tahu Nino akan menikahi Andin. 

Namun, cerita terus berkembang hingga akhirnya tokoh utama yakni Andin menjalin cinta dengan Aldebaran (Arya Saloka). Hingga saat ini, jumlah episode Ikatan Cinta sudah menyentuh angka lebih dari 200-an episode. Ceritanya mengandung bumbu romansa, asam manis kehidupan rumah tangga, tuduhan pembunuhan, perceraian, hingga balas dendam. 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by MNC Pictures (@mnc_pictures)

 

Pakar Komunikasi itu pun berpendapat, sinetron Ikatan Cinta masih akan terus berpotensi laku, selama masyarakat atau penontonnya masih mengelu-elukan 'mimpi dan harapan'. Termasuk, saat platform televisi sudah bergeser ke digital. 

"Cuma kalau TV digital, saya rasa yang menarik adalah pilihannya semakin banyak," kata dia. 

Mendulang cuan

Tingginya antusias masyarakat menonton Ikatan Cinta, ditengarai berimbas pula pada cuannya bisnis sinetron. Salah satu postingan yang diunggah netizen menunjukkan catatan jumlah iklan di salah satu episode Ikatan Cinta yang tayang tiap hari itu. Tercatat, ada 123 iklan yang diputar dalam satu episode. 

Sebuah akun pun iseng menghitung pendapatan sinetron ini dengan tarif iklan prime time RCTI yang sebesar Rp100 juta/30 detik berdasarkan komentar GM Sales SCTV dan Indosiar Michael Tjandra di akun instagram @IndoTVTrends. 

Terhitung, estimasi pendapatan iklan selama 178 hari penayangan mencapai Rp2,1 triliun. Itu belum termasuk iklan sisipan yang muncul saat sinetron berlangsung. Sinetron yang berdurasi 90-120 menit ini bahkan mencetak rekor rating beberapa kali.

Misalnya, catatan rekor Ikatan Cinta pada episode 25 Januari 2021 dengan rating 14,1% dan audience share 48,3%. Kemudian, pada 23 Februari, Ikatan Cinta kembali mencetak rekor dengan TVR 14,6% dan share 51,4%. 

Duduk di peringkat 2 sampai 5 ada Amanah Wali 4 (6/30,3), Putri Untuk Pangeran (3,9/19), Buku Harian Seorang Istri (3,7/15,3), dan Love Story The Series (3,6/13,2). Posisi 6 hingga 10 diduduki Dunia Terbalik (2,6/21,2), Upin & Ipin Bermula (2,6/12), Mega Series Suara Hati Istri (2,6/12,5), Dari Jendela SMP (2,5/14,6), dan Samudra Cinta (2,3/15). 

Ketua Umum Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Syafril Nasution mengatakan kontribusi perolehan cuan dari sinetron relatif rata dengan program lainnya. Namun, dia tidak memungkiri bahwa sinetron yang laris juga berdampak terhadap rating. 

"Lihat saja di Ikatan Cinta," kata Syafrul kepada Alinea.id, Kamis (18/3).

Direktur Corporate Secretary MNC Group tersebut mengatakan sinetron memang harus menarik agar bisa terus bertahan di hati penggemar. "Memperhatikan isi cerita sinetron," imbuhnya.  

Dengan pencapaian Ikatan Cinta dengan rating yang tinggi, Produser Eksekutif Ikatan Cinta, Rista Ferina mengaku bersyukur. "Sangat bersyukur dengan pencapaian ini, anugerah yang luar biasa," ujar Rista kepada Alinea.id, Kamis (18/3). 

Sebagai tim yang fokus di konten dan produksi, Rista mengatakan akan terus semaksimal mungkin memberikan tayangan yang terbaik untuk penggemar Ikatan Cinta. Hal itu juga berkaitan dengan proses kreatif Ikatan Cinta. Pihaknya mengaku terus berdiskusi dan bersinergi dengan penulis hingga bagian lainnya yang terlibat. 

"Perihal jumlah episode penayangan akan kembali kepada kebijakan stasiun TV yang menayangkan," katanya. 

Jaga mutu siaran publik

Meski bergelimang keuntungan, Pengamat media Mulharnetti Syas mengkritisi tayangan televisi utamanya sinetron yang selama ini ditayangkan di TV. Termasuk, Ikatan Cinta dan tayangan sejenisnya. 

Ilustrasi anak-anak dan televisi. Pixabay.com.

Selain ceritanya yang seringkali berbelit-belit akibat dikejar tayang dan berpatokan pada rating, juga karena programnya yang belum ramah anak. 

Dia mencontohkan, sinetron yang ditonton orang tua, biasanya juga menjadi konsumsi anak-anak dan remaja. Padahal isinya, banyak unsur kekerasan baik verbal maupun tindakan. 

"Terus ada juga kasus pembunuhan, cinta segitiga, perceraian, alur ceritanya dibuat konflik sedemikian rupa yang tidak bisa dicontoh," ujarnya. 

Belum lagi, kata dia, proses pembuatan sinetron yang seringkali kejar tayang, juga bisa membuat kualitasnya minim. 

Dia merujuk pada laporan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada 2020 lalu bahwa kualitas sinetron Indonesia memang belum cukup memuaskan. Indeks kualitas sinetron pun, kata dia, masih berada di level di bawah poin 3 atau di bawah standar KPI.

Berdasarkan data hasil riset 2020, tiga kategori program acara yang belum mampu mencapai nilai tiga antara lain kategori program acara sinetron (2,81), kategori program acara variety show (2,78), dan kategori program acara infotainment (2,68). 

"Kualitas sinetron di Indonesia memang rendah, empat tahun enggak pernah naik," katanya. 

Di satu sisi, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta itu mengatakan televisi yang berfungsi sebagai alat siaran publik belum berpihak pada kepentingan masyarakat. Yaitu: edukasi. 

Perempuan yang akrab disapa Netty itu, mengaku jengah dengan alasan perusahaan televisi yang menyajikan program termasuk sinetron, berdasarkan selera masyarakat. Padahal menurutnya, masyarakat mau menonton karena tidak memiliki pilihan. 

Hal senada diungkapkan Dosen Fisip UNDIP Lintang. Dia mengatakan bahwa selama ini televisi banyak abai terhadap hak publik. 

"Yang perlu kita cermati, benar enggak sih itu selera publik? Atau selera yang dikonstruksikan (perusahaan). Saya cenderung melihat ini selera yang dikonstruksikan," ujar Lintang. 

Lebih jauh, Lintang juga tidak sepakat terhadap stigma yang menyudutkan bahwa penonton sinetron seolah selalu dikaitkan dengan perempuan. Seolah-olah perempuan atau dengan sebutan lebih konkrit 'emak-emak' dikaitkan dengan sosok bawa perasaan (baper) yang menggemari sinetron. Padahal, tidak semua seperti itu. 

Baik Lintang ataupun Netty sepakat bahwa semestinya, ada teguran dan sanksi yang tegas bagi industri TV yang tidak memberikan tayangan yang sehat. Berbagai upaya pun bisa dilakukan untuk mencegah dampak buruk tayangan kurang mendidik. Seperti, literasi media yang dilakukan antar lembaga dan tokoh di masyarakat. 

"Terus ada yang bilang, remot ada di tangan penonton, ya itu enggak akan bisa ngaruh, kalau tayangan TV masih enggak bermutu. Kan hak publik dapat yang berkualitas," pungkas Netty.  


 

Berita Lainnya