sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Eks Menteri ESDM sebut pemburu rente ganggu kebijakan energi

Sudirman Said ungkap hambatan tercapainya kebijakan energi terbarukan.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Sabtu, 31 Okt 2020 18:18 WIB
Eks Menteri ESDM sebut pemburu rente ganggu kebijakan energi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2014-2016 Sudirman Said menyebut ada pihak-pihak yang terlibat langsung dengan impor minyak dan gas yang sengaja mengganggu kebijakan pengembangan energi terbarukan nasional.

Dia mengatakan, saat menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, pihaknya mencoba untuk mendorong pengembangan energi terbarukan lebih banyak. Namun terganjal kepentingan dari para pemburu rente.

"Kami dulu di kementerian mencoba mem-push ini sangat kuat, tapi push back-nya juga kuat. Dan pihak-pihak yang mungkin berkepentingan dengan impor minyak terus menerus mengganggu policy making proses ke sana," katanya dalam webinar, Sabtu (31/10).

Padahal, sambung dia, Undang-Undang Energi Nasional sudah mengarah pada pengembangan energi terbarukan, di samping pemanfaatan energi fosil.

Hal itu terlihat dari UU No.30/2007 tentang Energi dan UU No.30/2009 tentang Ketenagalistrikan. Tak hanya di UU, arah kebijakan energi nasional dengan pemanfaatan energi terbarukan juga diatur dalam Peraturan Pemerintah No.79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional.

"UU kita sudah baik, yang difokuskan dalam UU kita adalah soal renewable. Tapi ada pengingkaran UU yang terus berlangsung dan kelihatannya ada pihak-pihak yang kuat menjaga ini," ucapnya.

Menurut Sudirman, tak tercapainya kebijakan energi yang lebih ramah lingkungan tersebut disebabkan karena beberapa hal. Pertama, karena tidak memiliki transparansi pengelolaan di sektor energi.

"Selain itu, pemainnya sedikit dan kebanyakan orang-orang yang punya power, dan policy maker mengalami influence yang luar biasa karena jangka pendek. Pemerintahan kita yang dalam jangka lima tahunan agak susah mikir bagaimana energi kita dalam 30 tahunan itu yang bikin tantangan," ucapnya.

Sponsored

Kedua, pemerintah masih menempatkan energi sebagai komoditas bukan sebagai penggerak ekonomi. Ketiga, lanjut Sudirman, perburuan rente masih berlangsung. 

"Setiap hari ada orang yang berkepentingan mengimpor 800.000 barel, dan itu jumlahnya (orang) tidak banyak karena itu orang-orang itu sangat kuat memperoleh margin itu, dan mempengaruhi kebijakan," tuturnya.

Padahal, lanjutnya, saat dia menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2014-2016, pemerintah sudah memperkirakan bahwa cadangan minyak nasional akan habis dalam kurun 10hingga 12 tahun, gas 30 tahun, dan batu bara 60 tahun.

"Sekarang artinya sudah lewat dan mungkin minyak tinggal 7 tahun lagi, kalau tidak ditemukan cadangan baru. Dan meski ditemukan tetap saja energi fosil akan habis. Dan harusnya dengan sadar kita push habis-habisan renewable energy," ujarnya. 

Berdasarkan data dari World Resources Institute (WRI), potensi terbarukan Indonesia sangat besar dan belum digarap dengan optimal.

Untuk energi panas bumi atau geothermal, Indonesia memiliki potensi hingga 29.544 megawatt dan baru dimanfaatkan sebesar 4,9% atau 1.438 megawatt. Sedangkan energi hydro potensinya mencapai 94.476 megawatt, namun yang dimanfaatkan hanya sebesar 7,4% atau 5.024 megawatt.

Lalu energi matahari atau solar energy yang potensinya sangat besar hingga 207.898 megawatt, dan baru dimanfaatkan 0,04% atau 78,5 megawatt. Kemudian energi angin yang potensinya 60.647 megawatt, yang dimanfaatkan hanya sebesar 0,002% atau 31 megawatt.

Sedangkan energi gelombang laut potensinya sebesar 17.989 megawatt, tapi yang dimanfaatkan hanya 0,02% atau 0,2 megawatt.

"Sebetulnya, kalau digarap dengan baik kita punya potensi 441.000 megawatt, artinya ini sama dengan enam kali lipat dari kapasitas sekarang. PLN punya pembangkit 65 megawatt, kita punya potensi 441.000 megawatt. Dan baru 2% dimanfaatkan," pungkasnya.

Berita Lainnya
×
img