sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Game online dan e-sport, mainan baru orang-orang paling kaya RI

Potensi bisnis e-sport global Rp2,8 kuadriliun menarik minat para konglomerat Tanah Air untuk turut berinvestasi di ranah game online.

Fajar Yusuf Rasdianto
Fajar Yusuf Rasdianto Senin, 10 Feb 2020 17:17 WIB
Game online dan e-sport, mainan baru orang-orang paling kaya RI
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Turnamen Piala Presiden Esport (PPE) 2020 memang sudah selesai pada Minggu (3/2) lalu. Tetapi euforia yang dipercikan oleh salah satu perlombaan gim (game online) terbesar di Indonesia itu masih terasa sampai sekarang.

Euforia itu bergema bukan hanya lantaran hadiahnya yang mencapai Rp1,6 miliar, melainkan lantaran menggambarkan betapa besarnya ekosistem e-sport yang tumbuh dari perhelatan akbar tersebut.

Reporter Alinea.id sempat merasakan sendiri betapa besarnya animo penonton dalam acara Grand Final PPE 2020 pada 2-3 Februari lalu. Rasanya tidak jauh berbeda dengan menonton langsung pertandingan sepak bola klub-klub besar Indonesia di dalam stadion.

Ada koreografi dari para suporter, yel-yel, dan bahkan komentator serta analisis pertandingan. Atmosfer pertandingan yang betul-betul membuat bulu kuduk nyaris merinding.

Ketegangan dan kegembiraan terasa saat tim kesayangan mereka saling beradu taktik pada layar besar yang terpampang di sisi kanan dan kiri venue pertandingan. 

Ajang PPE 2020 benar-benar menjadi gambaran betapa besarnya ekosistem e-sport Indonesia. Animo penontonnya nyaris tak terbendung. Pun begitu dengan jumlah pesertanya yang jauh melampaui ekpekstasi. 

Ketua Panitia PPE 2020, Giring Ghanesa bahkan mencatat, total atlet e-sport yang mendaftar dalam ajang PPE tahun ini meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Yang tahun lalu hanya sekitar 18.000 orang, sekarang sudah mencapai 117.000 orang peserta yang daftar,” kata mantan vokalis band Nidji saat konferensi pers, di ICE BSD Tangerang, Banten, Minggu (3/2).

Sponsored

Tidak hanya dari jumlah peserta, ekosistem e-sport yang semakin besar itu juga terlihat dari masifnya dukungan pemerintah dan sponsor.

Giring mengatakan, setidaknya empat institusi pemerintahan terlibat langsung dalam penyelenggaraan PPE 2020, antara lain Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), serta Kantor Staf Kepresidenan.

Sementara dari sisi sponsor, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Global Digital Niaga (GDN) Blibli ikut terlibat sebagai penyokong utama dalam penyelenggaraan tersebut. Sponsor lainnya ada PT XL Axiata Tbk. (EXCL) melalui brand AXIS, lalu Samsung Galaxy A Series, PT Pharma Health Care melalui produk tetes mata Insto dan sejumlah perusahaan lainnya.

Direktur BCA Santoso Lim (kedua kanan) bersama Sandiaga Uno (tengah) memberikan hadiah juara kepada Aby Ramadhan (kedua kiri) pada Final Piala Presiden Esport di ICE BSD, Tangerang, Banten, Minggu (2/2). Aby Ramadhan keluar sebagai juara Piala Presiden Esport pada kategori Mobile Premier League. / Antara Foto

Semakin dewasa

Jika berkaca pada data Newzoo, salah satu lembaga riset yang fokus pada perkembangan industri e-sports dunia, Indonesia tercatat sebagai salah satu pengguna gim daring terbesar dunia pada 2019. Indonesia berada pada urutan ke-17 dengan total 52,6 juta pemain.

Dengan jumlah pemain sebanyak itu, Indonesia menyumbang US$941 juta atau setara Rp13 triliun untuk pendapatan gim online dunia sepanjang 2019. Jumlah ini diyakini akan meningkat dua kali lipat pada 2022.

Dewan Pembina Pengurus Besar (PB) Esport Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno memperkirakan, potensi industri e-sport Tanah Air pada 2022 nanti bisa menyentuh angka Rp25 triliun. Sementara untuk industri e-sports global akan tumbuh hingga menyentuh angka US$200 miliar setara Rp2,8 kuadraliun dalam dua tahun mendatang.

“Jadi jumlahnya besar banget. Pasar dari industri gaming ini sudah sama besarnya dan akan melampaui pasar alat konstruksi,” ungkap Sandi saat berbincang dengan Alinea.id di Jakarta, Selasa (4/2).

Untuk itu, Sandi menilai, amat wajar jika kini banyak perusahaan besar berani menggelontorkan uang di industri e-sport. Dana itu tidak hanya diberikan dalam bentuk sponsor, melainkan juga investasi di klub e-sport, selayaknya yang terjadi di sepak bola atau olahraga lainnya.

“Saya senang banget nih, banyak sekali perusahaan-perusahaan besar yang ikut terjun. Perusahan-perusahaan besar juga punya tim juga. Ini jadi satu dorongan yang merupakan kolaborasi antara public, private, partnership,” tambah ia saat sesi wawancara khusus untuk podcast Alinea Bercengkerama. Bisa didengarkan di sini.

Apa yang dikatakan Sandi itu benar belaka. Salim Group, perusahaan yang sohor dengan produk mi instan Indomie tersebut juga sudah mulai berekspansi ke ranah e-sport sejak awal tahun lalu. Simak daftar konglomerat terkaya RI tahun 2019 di sini.

Adrian Lim, Direktur Perusahaan Inovasi Salim Group seperti dinukil Antara, telah menandatangani kemitraan strategis bersama Electronic Sports League (ESL) untuk menjadi tuan rumah kejuaraan e-sport di Indonesia.

Berdasarkan penelusuran Alinea.id, perusahaan yang dimiliki Anthoni Salim, orang terkaya nomor enam versi Forbes 2019 itu juga menaruh dana di dua klub e-sport Indonesia, yaitu Evos Esport dan Rex Regum Qeon (RRQ).

Tidak diketahui seberapa besar investasi yang digelontorkan Salim Group di kedua klub tersebut. Namun yang pasti, pada November 2019, manajemen Evos sempat mengumumkan bahwa pihaknya telah mendapatkan suntikan dana sebesar US$4,4 juta atau setara Rp61 miliar dari para investor.

Selain Anthoni Salim, konglomerat lain yang juga sudah merambah e-sports adalah Keluarga Hartono, Michael dan Robert Budi Hartono. Melalui Bank BCA dan Blibli, orang terkaya nomor wahid selama 11 tahun berturut-turut di Indonesia itu mulai melirik e-sport dengan berkomitmen menjadi sponsor utama pada turnamen e-sport PPE selama dua tahun terakhir.

Tidak hanya Djarum Group dan Salim Group, perusahaan besar lain yakni Sinarmas Group yang dinakhodai mendiang Eka Tjipta Widjaja juga kini turut bermain dalam industri e-sports. Melalui Sinar Mas Land, almarhum Eka Tjipta meniti investasinya dari bidang pendidikan.

Dalam rilis resminya, Irawan Harahap, Project Leader Digital Hub Sinar Mas Land mengatakan, pihaknya akan memberikan beasiswa keahlian teknologi digital kepada para gamers profesional dari NXL E-Sport Center melalui kerja sama dengan Creative Nest Indonesia.

“Bidang e-sport saat ini banyak disukai oleh generasi muda. Namun begitu, bermain gim dengan baik saja tidak cukup. Oleh sebab itu, Sinar Mas Land membekali para pro gamers NXL dengan beasiswa di bidang teknologi digital untuk mendukung mereka menggali potensi dan mengembangkan keahliannya,” kata Irawan pada November 2019 lalu.

Pengunjung menyaksikan Tim atlet esports bertanding game Free Fire pada Final Kualifikasi Regional Barat Piala Presiden Esports 2020 di Paskal 23 Mall, Bandung, Jawa Barat, Minggu (19/1). Sebanyak 204 atlet Esport dari wilayah Barat Indonesia mengikuti pertandingan yang terdiri dari game Free Fire, Pro Evolution Soccer (PES) dan Mobile Premiere League untuk memenangkan tiket Final Nasioal yang akan diselenggarakan di Jakarta yang juga mengikutsertakan atlet esports dari sejumlah negara Asia Tenggara. / Antara Foto

Kejar pajak dan regulasi

Masuknya para konglomerat ke ranah e-sport semakin mengukuhkan besarnya potensi e-sport Indonesia di tahun-tahun mendatang. Namun, untuk memaksimalkan segala potensi besar tersebut, Indonesia masih harus menyelesaikan banyak pekerjaan rumah (PR).

Sandi dan Giring sepakat bahwa saat ini yang masih menjadi PR Indonesia dalam mengembangkan ekosistem e-sport adalah regulasi. Indonesia, kata Giring, memerlukan regulasi yang fleksibel dan mencakup segala kepentingan dalam bisnis e-sport.

Beberapa hal yang menjadi fokus antara lain kesejahteraan para atlet, pengembangan kemampuan atlet dan regenerasinya, serta wadah yang bisa membangun ekosistemnya.

Di luar itu, ada juga regulasi yang harus bersahabat kepada sisi komersialnya, termasuk hak siar, dan profesi yang kelak akan dilahirkan oleh e-sport supaya bisa berpretensi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

“PR-nya beberapa regulasi, lalu bagaimana aspek ekosistem yang ada di e-sport semua core player-nya bisa sejahtera. Core-nya antara tim, player, dan fans-nya supaya bisa memberikan dampak yang signifikan buat ekonomi,” kata Giring.

Di samping itu, pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana cara untuk mengakomodir pajak dari para pegiat e-sport, mulai dari pemain, pemilik modal, dan sejumlah stakeholder lainnya.

Beberapa hal ini mesti mendapatkan perhatian khusus pemerintah agar potensi besar e-sport Tanah Air—yang disinyalir bakal mencapai dobel digit pada 2022—bisa tertampung dan berkontribusi pada pendapatan negara.

Contoh sederhana, saat ini banyak atlet e-sport profesional yang tidak hanya mendapatkan penghasilan dari gaji semata, tapi juga dari pelbagai macam platform digital lain. Dengan memanfaatkan ketenaran sebagai pemain profesional, mereka bisa meraup pundi-pundi uang dari platform video seperti Youtube dan Nimotv.

Belum lagi endorsement yang datang dari sponsor. Jumlah pengikut media sosial yang banyak ini tak pelak juga bakal memberikan penghasilan besar bagi para pemain profesional e-sport.

Akan tetapi faktanya, hingga kini Direktorat Jenderal Pajak (DJP) saja masih kesulitan memburu pajak dari para influencer dan vlogger yang ada di Indonesia. Direktur Penyuluhan, Pelayanan, Hubungan Masyarakat DJP Hestu Yoga Pratama bahkan mengakui bahwa hal demikian itu masih menjadi PR bagi DJP.

Pihaknya pun, kata dia, saat ini tengah fokus untuk memburu kepatuhan pajak Wajib Pajak (WP) non-karyawan seperti influencer, youtuber, termasuk gamers

“Sebab potensi di sana masih besar, tapi penerimaannya masih belum maksimal. Entah karena kepatuhan pajaknya yang masih rendah, atau kami yang kurang sosialisasi. Jadi sementara kami fokus ke situ dulu,” pungkasnya.

Infografik para konglomerat kepincut bisnis game online dan esport. Alinea.id/Dwi Setiawan

Berita Lainnya