sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Grup Astra tahan suku bunga acuan

Lini bisnis sektor jasa keuangan Grup Astra International menahan suku bunga acuan saat Bank Indonesia berencana meninggalkan bunga rendah.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Rabu, 25 Jul 2018 05:27 WIB
Grup Astra tahan suku bunga acuan

Lini bisnis sektor jasa keuangan Grup Astra International menahan suku bunga acuan saat Bank Indonesia berencana meninggalkan rezim bunga rendah.

Direktur PT Astra International Tbk. (ASII) yang juga menjabat sebagai  Director in Charge Astra Financial, Suparno Djasmin, menuturkan akan mempertahankan suku bunga pada lini usaha pembiayaan. Namun, Astra tetap memantau kebijakan moneter pemerintah dan Bank Indonesia.

"Sejauh ini, masih bertahan. Soal kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia ini, kami akan terus cermati apakah nanti akan meningkatkan cost of fund perusahaan,” ungkap Suparno di Jakarta, Selasa (24/7).

Suparno atau yang sering akrab dipanghil Abong itu menjelaskan, penaikkan BI 7-days reverse repo rate diperkirakan akan mengerek biaya penyaluran kredit. Sehingga, manajemen bakal melakukan kajian untuk menyesuaikan tingkat suku bunga.

Menurutnya, penyesuaian yang akan ditempuh oleh entitas pembiayaan Grup Astra telah dilakukan bertahap sehingga kinerja perusahaan tetap baik. Sejauh ini, emiten dengan kode saham ASII tersebut menilai belum ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga kredit.

Sebagai informasi, laba bersih lini jasa keuangan Astra International mencapai Rp3,76 triliun pada 2017 atau meningkat 376% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi segmen tersebut mencapai 19,87% terhadap total laba bersih ASII.

Kenaikan kontribusi tersebut merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan lini entitas anak Grup Astra lainnya. Adapun, laba bersih sektor jasa finansial Astra didongkrak oleh PT Bank Permata Tbk. (BNLI) yang untuk pertama kalinya kembali membukukan untung pada 2017, dan kontribusi dari Astra Sedaya Finance, Federal International Finance, dan Asuransi Astra Buana.

"Kontribusi Astra Financial akan membaik setelah perusahaan melakukan konsolidasi dengan mengakuisisi ASF dari Bank Permata. Sedangkan, target perseroan adalah mengelola dengan prudent dan manajemen risiko yang baik,” pungkasnya.

Sponsored

Bank Permata

Semantara itu, Direktur Utama Bank Permata Ridha Wirakusumah mengatakan, permintaan kredit modal kerja mengalami kenaikan pada semester I/2018. Namun sayangnya, dia belum mau merinci realisasi kredit termasuk kredit modal kerja Bank Permata sampai Juni 2018. 

"Permintaan kredit modal kerja mengalami kenaikan," kata Ridha. Kredit modal kerja Bank Permata ini selain disumbang kredit ke sektor perdagangan juga dari kredit komoditas.

Seiring dengan pertumbuhan kredit modal kerja, Ridha mengaku kualitas kreditnya makin membaik. Ini ditunjukkan dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang makin membaik. 

"Untuk mengatasi NPL, bank bekerjasama dengan tim penagihan. Jika ada debitur yang nakal, Bank Permata tak segan membawanya ke ranah hukum," jelasnya.

Selanjutnya Ridha menhungkapkan, salah satu opsi hukum yang bisa diambil terkait dengan debitur bermasalah ini adalah melalui penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Sementara itu, dia menegaskan, pemegang saham mereka masih berkomitmen dan belum berencana melakukan pelepasan saham di Bank Permata.

Saat ini, pemegang saham Bank Permata terdiri dari Astra Internasional dan Standard Chartered bank yang masing-masing memiliki 44,6 % saham. Sementara sisanya, 10,88% dimiliki publik.
 

Berita Lainnya