sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Holding BUMN farmasi Bio Farma resmi akuisisi KAEF dan INAF

Bagaimana prospek saham PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) dan PT Indofarma Tbk. (INAF) usai resmi bergabung dalam holding farmasi Bio Farma?

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 30 Okt 2019 12:10 WIB
Holding BUMN farmasi Bio Farma resmi akuisisi KAEF dan INAF

Emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) dan PT Indofarma Tbk. (INAF) resmi berubah status dari persero menjadi non-persero, setelah resmi bergabung dengan holding BUMN farmasi Bio farma.

Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo menjelaskan pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah 76/2019 tentang penambahan penyertaan modal negara Republik Indonesia ke dalam modal saham perusahaan perseroan (Persero) PT Bio Farma.

Berdasarkan peraturan tersebut, 4,99 miliar saham seri B milik Negara Republik Indonesia di Kimia Farma akan dialihkan ke Bio Farma sebagai tambahan penyertaan modal negara.

"Akibat transaksi tersebut, saham seri B sebesar 90,02% akan dimiliki oleh Bio Farma dan sebesar 9,98% dimiliki oleh publik," kata Verdi dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (29/10)

Sementara itu, Direktur Utama Indofarma Arief Pramuharto, mengatakan dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (30/10), saham seri B perseroan sebesar 80,6% atau sebanyak 2,49 miliar lembar saham akan dimiliki oleh holding Bio Farma dan publik sebesar 19,3%.

Lalu, bagaimana prospek kedua emiten farmasi ini di bawah holding Bio Farma ini?

Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya, mengatakan prospek kedua saham emiten farmasi tersebut, untuk digenggam dalam jangka panjang masih menarik.

"Sahamnya bisa di-hold cukup lama, bisa dua sampai lima tahun," kata William ditemui di BEI, Jakarta, Rabu (30/10).

Sponsored

William melanjutkan, apabila investor belum memiliki saham kedua emiten tersebut, bisa membelinya mulai saat ini untuk hold jangka panjang.

William melihat, beberapa tahun ke belakang ini, saham Kimia Farma bergerak naik secara signifikan. Tercatat, pada awal tahun 2014, saham KAEF masih berada pada level Rp735 per lembar saham. Sementara, pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (29/10), saham KAEF berada di level Rp2.780 per lembar saham.

Sementara, untuk saham INAF, pada awal 2014 saham INAF masih berada pada level Rp164 per lembar saham. Lalu, pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (29/10), saham INAF berada di level Rp1.135 per lembar saham.

William menilai, dengan bergabungnya dua emiten farmasi ini dalam satu holding, kolaborasi antara kedua emiten ini akan cukup bagus. Sebab, William melihat INAF lebih fokus ke arah obat generik dan KAEF lebih ke arah retail.

"Tinggal bagaimana manjemen mengolah, mensinergikan, dan mempertahankan kinerjanya, karena kita tahu generik pasti butuh jualan. Setidaknya jualan ke retailnya KAEF, atau ke dokter-dokter di rumah sakit, jadi yang saya lihat seperti itu," tutur William.