sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

IKAPPI: Kedelai langka karena distribusi seret

Harga kedelai yang dijual ke perajin tahu dan tempe mengalami kenaikan.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 05 Jan 2021 20:32 WIB
IKAPPI: Kedelai langka karena distribusi seret
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri, mengatakan kelangkaan kedelai yang terjadi di pasaran disebabkan oleh abainya Kementerian Perdagangan (Kemendag) terhadap distribusi yang terjadi di bawah.

"Kelangkaan ini bermula dari gejolak harga internasional. Kenapa kelangkaan ini terjadi, karena Kemendag abai terhadap proses distribusi yang terjadi di bawah," katanya kepada Alinea.id, Selasa (5/1).

Menurutnya, harga kedelai yang dijual ke perajin tahu dan tempe mengalami kenaikan saat Kemendag sebelumnya menyebut bahwa stok kedelai masih mencukupi untuk dua bulan. Saat itu, tutur Abdullah, Kemendag mengatakan masih ada kapasitas sebesar 450.000 ton.

Akibatnya, perajin kesulitan untuk berproduksi.

"Logikanya kalau stok masih 450.000 ton yang itu diasumsikan masih bisa dua bulan, harusnya harga masih sama dengan yang lama, namanya juga stok. Tapi faktanya, dijual ke perajin dengan harga yang baru. Ini persoalan pertama," ujarnya.

Di sisi lain, dia menyebut belum ada solusi dari pemerintah untuk mengeluarkan stok sebanyak 450.000 yang terdapat di gudang importir dan menjual ke perajin dengan harga yang sama sebelum kenaikan terjadi.

"Ini masih belum ada solusi. Sebenarnya yang kami minta ke pemerintah adalah bisa menekan importir untuk mengeluarkan stok yang 450.000 ke perajin dengan harga yang lama, bukan yang sekarang," ucapnya.

Saat ini pun, katanya, pedagang pasar terpaksa bersiasat dengan menipiskan potongan tahu dan tempe yang dijual demi tidak menaikkan harga produk. Pasalnya, jika dinaikkan waktunya tidak pas karena konsumsi masyarakat sedang menurun akibat pandemi Covid-19.

Sponsored

Sementara jika harga tidak dinaikkan, maka keuntungan yang diterima perajin tidak menutupi ongkos produksi. Dia menghitung, jika pedagang mengerek harga tahu dan tempe, hanya mampu sebesar 20% dari harga normal.

"Akhirnya ada jalan tengah, oke kami naikan atau kemungkinan produknya akan kami buat lebih tipis dari biasanya. Misalnya biasanya kami jual satu papan penuh, akhirnya sekarang satu papan terpaksa kami kurangi (jumlahnya)," tuturnya.

Berita Lainnya

Maksud Jokowi baik, ajak cinta produk lokal

Sabtu, 06 Mar 2021 15:13 WIB

Bank Indonesia kembali diserang hacker

Senin, 08 Mar 2021 15:45 WIB