sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Impor barang tertinggi masih dari China

China masih menjadi negara asal impor terbesar ke Indonesia.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 15 Okt 2019 18:01 WIB
Impor barang tertinggi masih dari China

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan nilai impor Indonesia pada September 2019 mencapai US$14,258 juta. Angka ini kembali mengalami kenaikan 0,63% dari Agustus 2019 sebesar US$14,169 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan mengatakan kenaikan impor ini disebabkan meningkatknya impor non migas September sebesar US$127,4 juta atau 1,02% dibanding Agustus 2019.

“Sementara impor minyak sebesar US$45,2 juta atau 4,50% dan gas sebesar US$12,2 juta atau 7,23%," katanya di Jakarta, Selasa (15/10).

BPS juga menyatakan China masih menjadi negara asal impor terbesar ke Indonesia. Untuk barang impor non migas selama Januari hingga September 2019 dipasok oleh China US$32,35 juta atau 29,34%. Disusul oleh Jepang US$11,82 juta (10,72%) dan Thailand sebesar US$7,06 juta (6,41%).

Sementara, jika dilihat dari sisi kawasan untuk impor non migas, ASEAN menyumbang sebesar US$21,680 juta (19,66%) dan Uni Eropa sebesar US$9,305 juta (8,44%).

Jika dilihat secara bulanan, pada September 2019 impor terbesar datang dari Tiongkok sebesar US$3,878 juta atau mendominasi 29,34% total impor. Disusul dari Korea Selatan US$649 juta (4,93%), dan MalaysiaUS$518 juta (3,95%).

Barang impor

Menurut data BPS, impor serealia pada September mencapai US$311 juta, atau naik dari Agustus yang sebesar US$185,7. Lalu, golongan kapal laut dan bangunan terapung sebesar US$165,8 juta di September, naik dari Agustus US$63 juta.

Sponsored

Sementara untuk kendaraan dan bagiannya pada September 2019 sebesar US$643,9 juta, naik dari Agustus US$546,7 juta.

Untuk migas, impor pada September 2019 US$1,591 juta, naik 2,36% dari Agustus sebesar US$1,630 juta.

Dan jika dilihat secara kumulatif, impor sepanjang tahun berjalan hingga September  2019 mengalami penurunan sebesar 9,12% atau senilai US$126,115 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan terjadi pada impor migas sebesar US$197,5 juta atau 28,09% dan non migas sebesar US$6,463 juta atau 5,54%. Penurunan impor migas disebabkan oleh turunnya seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah US$2,969 juta atau 42,7%.

Untuk hasil minyak juga mengalami penurunan sebesar US$2,834 juta atau sebesar 22,06% dan gas sebesar US$393,4 juta atau 17,43%.

Berita Lainnya