sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Indef: Banjir aliran modal asing ke Indonesia hanya 'hot money'

Aliran modal asing pada 2019 sebesar Rp224 triliun hanya mendatangkan keuntungan jangka pendek atau hot money.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 23 Jan 2020 11:14 WIB
Indef: Banjir aliran modal asing ke Indonesia hanya 'hot money'
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.314.634
Dirawat 157.705
Meninggal 35.518
Sembuh 1.121.411

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan aliran modal asing (capital inflow) yang masuk ke Indonesia sepanjang 2019 hanya mendatangkan keuntungan jangka pendek atau hot money.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menjelaskan, dari Rp224 triliun aliran modal asing yang masuk sepanjang 2019, sebesar 75%-nya masuk ke surat berharga negara (SBN). Hal ini, kata Eko, disebabkan suku bunga yang ditawarkan pemerintah sangat menguntungkan.

"Kalau dari sisi pemerintah pasti bilangnya ini kepercayaan investor. Padahal mereka mau investasi di Indonesia karena bunganya tinggi. Jarang investor mempertimbangkan sisi makro secara dalam, lebih banyak karena untung-rugi," katanya di Jakarta, Rabu (22/1).

Eko mengungkapkan investor juga beralih ke negara-negara berkembang seperti Indonesia karena negara maju sedang melonggarkan kebijakan moneter. Sementara, Indonesia mematok bunga tinggi yang menggiurkan.

Untuk SBN 10 tahun saja, bunganya dipatok sebesar 6,6%. Angka ini sangat tinggi karena mengacu ke suku bunga Bank Indonesia (BI) yang juga tinggi di angka 5%.  Eko menyebut suku bunga BI ini lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia yang sebesar 3% dan Filipina sebesar 4%.

"Sehingga mereka kalau mau menaruh uang di negara maju daya tariknya kurang, maka dilarikan ke negara berkembang," ujarnya.

Eko pun mengatakan pemerintah gencar menerbitkan SBN karena penerimaan negara sepanjang 2019 anjlok. Sehingga melelang surat utang menjadi opsi untuk menggenjot pendapatan.

"Arena tidak tercapai target penerimaannya. Lalu menerbitkan SBN," ujarnya.

Sponsored

Padahal, penerbitan SBN yang besar akan meningkatkan utang pemerintah. Pasalnya, pembayaran imbal hasil dan pokok investasi dijamin oleh negara dengan membebankannya ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

"Itu menambah defisit anggaran. Sehingga defisit produk domestik bruto (PDB) tumbuh 2,2% atau Rp 353 triliun di 2019. Jadi besar sekali. Ini uang siapa? Uang asing," jelasnya.

Lebih lanjut, Eko menjelaskan strategi pemerintah untuk menggenjot perekonomian dengan menerbitkan SBN tidak dapat menjaga pertumbuhan ekonomi untuk jangka panjang. 

"Begitu dana asing masuk, nilai tukar kita menguat dan cadangan devisa meningkat, tapi bukan karena transaksi perdagangan barang dan jasa dari luar negeri. Bukan ekspor-impor sehingga sangat mungkin kita menduga hot money," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk melihat apakah dana asing yang masuk ke Indonesia karena kepercayaan investor atau tidak, BI dapat mengujinya dengan menurunkan suku bunga acuan kembali.

Apalagi, dengan suku bunga acuan yang masih tinggi dan inflasi yang terjaga rendah, masih ada peluang untuk memangkas suku bunga menjadi lebih rendah dari 5%.

"Usul kami perlu dilakukan pelonggaran bunga acuan. Sekaligus untuk seleksi pasar. Kalau benar-benar masuk karena aspek fundamental, dia (investor) akan tetap stay, tapi kalau tidak ya berarti hot money," jelasnya.

Berita Lainnya