sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Indonesia – Filipina berunding perdagangan kopi

Pemerintah Indonesia akan melakukan perundingan dengan Filipina terkait Special Safeguard (SSG) atas komoditas kopi dan olahannya.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Rabu, 27 Mar 2019 20:02 WIB
Indonesia – Filipina berunding perdagangan kopi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 392.934
Dirawat 61.851
Meninggal 13.411
Sembuh 317.672

Pemerintah Indonesia akan melakukan perundingan dengan Filipina terkait Special Safeguard (SSG) atas komoditas kopi dan olahan asal Indonesia di Filipina. Melalui perundingan ini, diharapkan Filipina tidak lagi menerapkan aturan SSG untuk produk dan olahan kopi dari Indonesia.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, pihaknya bersama pemerintah telah melakukan negosiasi dengan Filipina terkait hal tersebut. 

"Kita sudah saling menyiapkan kalau (Filipina) meminta apa, dan kita bisa memberikan apa. Supaya bisa saling menguntungkan. Kira-kira itu yang sudah kita siapkan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini," kata Adhi saat ditemui di Jakarta, Rabu (27/3). 

Special Safeguards (SSG) merupakan salah satu instrumen kebijakan perdagangan yang diatur oleh organisasi dagang dunia atau WTO berupa pengenaan tarif bea masuk tambahan produk impor yang dianggap memonopoli atau menguasai pasar dalam negeri. Kebijakan ini disebut bisa merugikan petani negara pengimpor. 

Kemudian, sejak April 2018, pemerintah Filipina telah menerapkan Special  Safeguards (SSG) duty atas produk kopi dan olahan kopi asal Indonesia, salah satunya untuk produk kopi instan. 

Adanya SSG yang dilakukan Filipina terhadap Indonesia untuk produk kopi olahan ini dipicu oleh rasa keberatan Filipina atas kebijakan Indonesia terkait adanya pembatasan impor bawang merah. Selain itu, regulasi kesehatan yang dianggap menghambat penjualan tembakau Filipina di tanah air. 

Adhi menilai, dalam perundingan ini, pemerintah tidak bisa bergerak sendirian dan pelaku usaha perlu dilibatkan. Pasalnya, nilai investasi ekspor kopi dan olahan dari Indonesia ke Filipina juga terbilang besar, yakni mencapai US$600 juta pada 2018. 

"Dari pemerintah dan dunia usaha harus bersatu, apa yang menjadi hambatan, permintaannya apa, dan kami menyiapkan permintaan apa. Memberikan apa, supaya bisa saling menguntungkan," ujarnya. 

Sponsored

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan Muhri mengatakan penjajakan bilateral memang sedang dilakukan dengan pemerintah Filipina. 

Salah satu fokus pemerintah saat ini salah satunya penghapusan SSG produk kopi demi mempelancar ekspor Indonesia. Apalagi nilai produk yang dihambat juga cukup besar yakni mencapai US$600 juta.

Dari hasil kajinnya, Kasan menyebut ini merupakan adanya dampak dari proteksionisme yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump ke beberapa mitra dagangnya. 

"Saya memahami ini sebagai nasionalism protectionist. Negara lain latah dan menyadari adanya dampak Trump Effect ini, melalui perang dagang dan lainnya," ujarnya. 

Berita Lainnya