Jelang tutup tahun, ekonomi bakal membaik?
Dinamika ekonomi di 2018 diwarnai ketegangan. Rupiah sempat jeblok menjauhi asumsi APBN, ekspor lesu, dan disertai dengan kian lebarnya defisit neraca perdagangan.
Bagaimana dengan kondisi akhir tahun?
Jelang tutup tahun, pemerintah cukup pede pertumbuhan ekonomi bakal membaik. Kementerian Keuangan yakin pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2018 bisa mencapai 5,2%. Pertumbuhan konsumsi dan investasi disebut-sebut menjadi salah satu penopangnya.
Masih pendapat pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan kondisi perekonomian Indonesia mampu bertahan, meski terdapat gejolak eksternal, yang memiliki potensi mengganggu proyeksi.
"Di tengah gejolak dan tekanan ekonomi dunia di tahun 2018, bisa ditandai dengan jelas bahwa ekonomi kita mampu bertahan dengan baik," kata Darmin dalam acara CEO Networking 2018 di Jakarta, Senin (3/12) lalu.
Dia bilang, kondisi makro ekonomi Indonesia berada dalam level aman. Pertumbuhan ekonomi hingga triwulan III-2018 tercatat 5,17% dan inflasi hingga November sebesar 3,23%. Indikator sosial juga menunjukkan adanya perbaikan, antara lain tingkat kemiskinan sebesar 9,82%, pengangguran sebesar 5,34%, indeks ketimpangan sebesar 0,389, dan indeks pembangunan manusia sebesar 70,81.
Angka itu disebut sebagai bukti keberhasilan pemerintah dalam menempatkan Indonesia dengan status pembangunan manusia “tinggi”.
Inflasi terkendali
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis ekonomi Indonesia berjalan pada kondisi yang baik. Inflasi November sebesar 0,27%, artinya sepanjang Januari hingga November angka inflasi mencapai 2,5%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi tahun ke tahun yang biasanya mencapai 3,23%. Sri menyebut, inflasi tahun ini masih dalam rentang target APBN.
"Saya rasa kalau inflasi masih dalam range APBN kita anggap itu baik. Apalagi ini masih di bawah 3,5%," katanya di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin (3/12).
Menurut Sri, masih terkendalinya inflasi menunjukkan ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang kuat di tengah gejolak ekonomi global. Sri menyebut, Indonesia dari sisi rekam jejak terhadap stabilitas harga-harga ini sekarang sudah semakin solid.
Sebab, selama empat tahun berturut-turut inflasi Indonesia berada sekitar 3%. Padahal, kondisinya saat ini tidak menguntungkan seperti nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang fluktuatif, serta harga minyak dunia yang terus susut.

Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dollar Amerika Serikat (AS) di Valuta Inti Prima, Jakarta, Selasa (27/11). (Antara Foto).
Sri pun optimistis angka inflasi tersebut menjadi modal bagi pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap Indonesia. Inflasi yang rendah juga menunjukkan keberhasilan dari kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga sektor riil.
"Sampai akhir tahun, inflasi menurut saya masih seperti yg disampaikan Presiden, pada posisi 3,2%," katanya.
Sentimen positif juga dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), yang merilis posisi inflasi pada November 2018 sebesar 0,27%. Dengan pencapaian inflasi itu, BPS optimistis inflasi akhir tahun akan tetap terkendali, tanpa ada lonjakan di komponen pangan. Kepala BPS Suhariyanto menilai, upaya pendendalian harga melalui operasi pasar cukup efektif di tahun ini.
“Selain itu, daya beli masyarakat juga masih bagus. Hal ini terlihat dari konsumsi rumah tangga yang menyumbang 5,01% ke PDB (Produk Domestik Bruto),” kata Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/12).
Suhariyanto berharap, tingkat konsumsi pada Desember 2018 bisa kembali menanjak, seiring dengan perayaan Natal dan Tahun Baru 2019.
Pesimistis
Namun, pendapat berbeda datang dari pelaku usaha dan pengamat. Mereka menyatakan pesimistis dengan membaiknya ekonomi yang ditargetkan pemerintah.
Dinamika ekonomi di 2018 diwarnai ketegangan. Rupiah sempat jeblok menjauhi asumsi APBN, ekspor lesu, dan disertai dengan kian lebarnya defisit neraca perdagangan.
Bagaimana dengan kondisi akhir tahun?
Jelang tutup tahun, pemerintah cukup pede pertumbuhan ekonomi bakal membaik. Kementerian Keuangan yakin pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2018 bisa mencapai 5,2%. Pertumbuhan konsumsi dan investasi disebut-sebut menjadi salah satu penopangnya.
Masih pendapat pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan kondisi perekonomian Indonesia mampu bertahan, meski terdapat gejolak eksternal, yang memiliki potensi mengganggu proyeksi.
"Di tengah gejolak dan tekanan ekonomi dunia di tahun 2018, bisa ditandai dengan jelas bahwa ekonomi kita mampu bertahan dengan baik," kata Darmin dalam acara CEO Networking 2018 di Jakarta, Senin (3/12) lalu.
Dia bilang, kondisi makro ekonomi Indonesia berada dalam level aman. Pertumbuhan ekonomi hingga triwulan III-2018 tercatat 5,17% dan inflasi hingga November sebesar 3,23%. Indikator sosial juga menunjukkan adanya perbaikan, antara lain tingkat kemiskinan sebesar 9,82%, pengangguran sebesar 5,34%, indeks ketimpangan sebesar 0,389, dan indeks pembangunan manusia sebesar 70,81.
Angka itu disebut sebagai bukti keberhasilan pemerintah dalam menempatkan Indonesia dengan status pembangunan manusia “tinggi”.
Inflasi terkendali
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis ekonomi Indonesia berjalan pada kondisi yang baik. Inflasi November sebesar 0,27%, artinya sepanjang Januari hingga November angka inflasi mencapai 2,5%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi tahun ke tahun yang biasanya mencapai 3,23%. Sri menyebut, inflasi tahun ini masih dalam rentang target APBN.
"Saya rasa kalau inflasi masih dalam range APBN kita anggap itu baik. Apalagi ini masih di bawah 3,5%," katanya di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin (3/12).
Menurut Sri, masih terkendalinya inflasi menunjukkan ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang kuat di tengah gejolak ekonomi global. Sri menyebut, Indonesia dari sisi rekam jejak terhadap stabilitas harga-harga ini sekarang sudah semakin solid.
Sebab, selama empat tahun berturut-turut inflasi Indonesia berada sekitar 3%. Padahal, kondisinya saat ini tidak menguntungkan seperti nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang fluktuatif, serta harga minyak dunia yang terus susut.

Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dollar Amerika Serikat (AS) di Valuta Inti Prima, Jakarta, Selasa (27/11). (Antara Foto).
Sri pun optimistis angka inflasi tersebut menjadi modal bagi pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap Indonesia. Inflasi yang rendah juga menunjukkan keberhasilan dari kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga sektor riil.
"Sampai akhir tahun, inflasi menurut saya masih seperti yg disampaikan Presiden, pada posisi 3,2%," katanya.
Sentimen positif juga dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), yang merilis posisi inflasi pada November 2018 sebesar 0,27%. Dengan pencapaian inflasi itu, BPS optimistis inflasi akhir tahun akan tetap terkendali, tanpa ada lonjakan di komponen pangan. Kepala BPS Suhariyanto menilai, upaya pendendalian harga melalui operasi pasar cukup efektif di tahun ini.
“Selain itu, daya beli masyarakat juga masih bagus. Hal ini terlihat dari konsumsi rumah tangga yang menyumbang 5,01% ke PDB (Produk Domestik Bruto),” kata Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/12).
Suhariyanto berharap, tingkat konsumsi pada Desember 2018 bisa kembali menanjak, seiring dengan perayaan Natal dan Tahun Baru 2019.
Pesimistis
Namun, pendapat berbeda datang dari pelaku usaha dan pengamat. Mereka menyatakan pesimistis dengan membaiknya ekonomi yang ditargetkan pemerintah.
Menurut Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 hanya dapat mencapai 5,15% (yoy). Eko mengatakan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% hingga akhir 2018 hampir pasti tak akan tercapai. Bahkan, Eko menuturkan, untuk mencapai target 5,2% seperti disebut pemerintah pun masih sangat berat.
“Butuh upaya yang tidak ringan mengingat defisit perdagangan masih terjadi, dan defisit transaksi berjalan justru melebar,” kata Eko, saat dihubungi Reporter Alinea.id, Rabu (5/12).
Lebih lanjut, Eko mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2018 saja sudah dipastikan akan lebih rendah dari triwulan III-2018. Menurut dia, ada sejumlah faktor yang menjadi sebab ekonomi Indonesia belum akan membaik hingga akhir tahun ini. Seperti, sektor konsumsi yang jadi andalan pemerintah justru di lapangan tidak mengalami perbaikan.
Eko mengatakan, konsumsi memang memiliki kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara sekitar 56%. Namun, produk hasil industri manufaktur dan lainnya belum terserap maksimal. Hal ini diakibatkan konsumsi yang digenjot pemerintah melalui bantuan sosial cukup mengganggu penyerapan di pasar.
“Konsumsi yang digenjot dengan bansos lebih ke produk pertanian, seperti beras dan industri pangan lainnya. Sehingga, efek ke industri lain masih kecil,” kata dia.
Pengendalian harga yang digadang-gadang pemerintah sudah berhasil dilakukan, nyatanya juga tak sepenuhnya terjadi. Kata Eko, pengendalian memang bisa menekan inflasi menjadi rendah per November 2018. Akan tetapi, harga pangan, terutama beras, naik lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Ke depan, pemerintah dinilai harus lebih cermat mendorong sektor konsumsi. Saat ini, konsumsi memang menjadi andalan, karena kerap tumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonomi, sebesar 5% per tahun.

“Konsumsi memang besar, karena jumlah penduduk juga besar,” ujar Eko.
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani memprediksi, pertumbuhan ekonomi hanya bisa mencapai 5,2% pada 2019. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan target pemerintah, yang tercantum dalam APBN 2019 sebesar 5,3%.
Hariyadi masih pesimistis, melihat sejumlah faktor internal dan eksternal yang akan mengganggu stabilitas ekonomi, yakni kondisi ekonomi global dan Pemilu. "Kami hanya menargetkan 5,2%, karena melihat beberapa faktor yang akan membuat pertumbuhan kita banyak tertekan. Seperti tahun ini, di mana salah satu faktornya adalah tekanan global," kata Hariyadi kepada Reporter Alinea.id, Rabu (5/12).
Sementara itu, hingga kini kondisi perekonomian global belum bisa diprediksi. Sebab, saat ini masih terjadi perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Jelas, hal itu bisa memengaruhi perekonomian Indonesia.
"Kita lihat di G20, AS dan China baru gencatan senjata dan 90 hari tidak ada kenaikan tarif. Tapi, kami tidak tahu seperti apa kondisinya. Jadi, tekanan ini kami pandang cukup berpengaruh besar ke ekonomi kita," katanya.


