sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jurus pemerintah & BI redam gejolak kurs rupiah

Nilai tukar rupiah terus tertekan oleh dollar Amerika Serikat hingga menyentuh angka Rp14.000/US$.

Sukirno
Sukirno Rabu, 02 Mei 2018 22:43 WIB
Jurus pemerintah & BI redam gejolak kurs rupiah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 127083
Dirawat 39082
Meninggal 5765
Sembuh 82236

Nilai tukar rupiah terus tertekan oleh dollar Amerika Serikat hingga menyentuh angka Rp14.000/US$.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai penyesuaian suku bunga acuan bisa menjadi salah satu cara untuk meredam perlemahan rupiah yang terpengaruh oleh tekanan global.

"Itu salah satu cara yang biasanya berpengaruh kepada meredam atau memperlambat, kalau bisa menghentikan (tekanan) kurs," kata Darmin di Jakarta, dilansir Antara, Rabu (2/5).

Darmin mengatakan kenaikan  suku bunga acuan Bank Indonesia 7-days reverse repo rate ini bisa menahan depresiasi rupiah agar tidak terus-terusan terpengaruh oleh sentimen negatif dari membaiknya perekonomian AS.

"Kalau tekanan kursnya berjalan terus, pasti adjustment-nya di tingkat bunga," katanya.

Pengamat ekonomi Tony Prasetiantono sebelumnya mengatakan, kenaikan suku bunga acuan bisa menjadi upaya jangka pendek yang dilakukan bank sentral untuk menekan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sempat menyentuh Rp13.900 per dollar AS.

"Jangan alergi dengan menaikkan suku bunga karena ini bagian dari taktik jangka pendek," kata Tony.

Tony mengatakan kenaikan suku bunga acuan dari saat ini sebesar 4,25% bisa menjadi alternatif bank sentral untuk menjaga fluktuasi kurs rupiah agar tidak sepenuhnya bergantung dari cadangan devisa.

Sponsored

"Kalau naik setidaknya 25 basis poin, mudah-mudahan rupiah masih terselamatkan," kata pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada ini.

Dia meyakini dengan kenaikan suku bunga acuan tersebut maka pergerakan kurs rupiah terhadap dollar AS dapat lebih terkendali.

BI gelontor cadangan devisa

Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo mengatakan jumlah cadangan devisa hingga akhir April 2018 masih mencukupi untuk menahan gejolak nilai tukar rupiah, meskipun tekanan arus modal keluar cukup kencang dipicu sentimen dari dinamika perekonomian Amerika Serikat.

"Indonesia tidak panik. Kita yakinkan kita punya devisa yang cukup untuk jaga ekonomi kita," kata Agus di sela Festival Ekonomi Syariah Regional di Semarang.

Pernyataan Agus tersebut untuk merespons kembali melemahnya nilai tukar rupiah pekan ini. Kurs refrensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) yang diumumkan BI pada Senin ini menyebutkan nilai tukar rupiah sebesar Rp13.936 per dollar AS atau menunjukkan pelemahan 59 poin dibandingkan dengan Jumat yang sebesar Rp13.877 per dollar AS.

Rupiah melemah awal pekan ini karena pelaku pasar berkeyakinan inflasi di Amerika Serikat akan meningkat pada beberapa bulan mendatang. Pasalnya biaya bahan baku di negara "Paman Sam" itu meningkat dan juga beberapa indikator inflasi di AS menunjukkan laju inflasi makin mendekati target Bank Sentral Federal Reserve di 2,0%.

Adapun hingga akhir Maret 2018, cadangan devisa Indonesia sebesar US$126 miliar atau turun US$2,06 miliar dari jumlah pada Februari 2018. Salah satu penyebab penurunan devisa itu untuk stabilisasi nilai tukar rupiah di pasar. BI akan mengumumkan cadangan devisa April 2018 pada 8 Mei 2018.

Selain devisa yang mencukupi, Agus mengatakan BI juga sedang memperkuat kerja sama dengan sesama kolega Bank Sentral di negara-negara lain untuk memperkuat ketahanan lapis kedua perekonomian (second line of defense) agar menjamin ketersediaan likuiditas valuta asing.

Saat ini, BI memiliki second line of defense dalam bentuk kemitraan bilateral untuk menjaga likuiditas valas melalui swap atau billateral currency swap agreement (BCSA) dan juga dalam cakupan mutilateral seperti Chiang Mai Initiative Multilateralisation.

"Kita juga punya hubungan dengan bank-bank sehtral mitra kerja kita untuk sama sama menjaga likuiditas," ujarnya.

Agus kembali menekankan arah kebijakan moneter BI saat ini adalah membuka peluang untuk penyesuaian suku bunga acuan 7-days reverse repo rate jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut serta berpotensi menghambat pencapaian sasaran inflasi dan mengganggu stabilitas sistem keuangan.

"Rupiah memang ada tekanan di dua pekan terakhir karena tekanan ekonomi eskternal, tetapi begitu juga mata uang negara-negara lain. Pelemahan rupiah 0,88% sejak 1 hingga 26 April 2018 (month to date/mtd). Negara-negara lain melemah lebih dalam dari itu," kata Agus.

Berita Lainnya