sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jenama-jenama lokal yang makin berjaya, berdayakan perajin lokal dan raih omzet puluhan juta saat pandemi

Merek-merek lokal makin merajai negeri sendiri. UMKM fesyen dan makanan sanggup meraup omzet puluhan juta. 

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Selasa, 25 Jan 2022 11:12 WIB
Jenama-jenama lokal yang makin berjaya, berdayakan perajin lokal dan raih omzet puluhan juta saat pandemi

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang terdampak Covid-19. Namun, sebesar apapun pukulan yang menghantamnya, sektor akar rumput ini tetap bisa bertahan. 

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM), hingga Maret 2021 kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) sudah mencapai 61,07% atau senilai Rp8.573,89 triliun dengan jumlah UMKM mencapai 64,2 juta.

Capaian ini tidak jauh berbeda dengan kontribusi sebelum pandemi atau pada 2018, di mana UMKM menyumbang 61% dari total PDB atau sekitar Rp8.400 triliun.

Di sisi lain, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) terhadap 2.509 UMKM, menunjukkan hanya 1,8% yang tutup sementara akibat pagebluk di kuartal II-2021. Angka ini jelas turun, jika dibandingkan dengan penutupan UMKM pada periode Maret hingga April 2020, yang mencapai 54,4%. 

Dengan kondisi ini, tak heran jika kemudian pemerintah membidik kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional pada 2021 mencapai 62,36% dan menembus 65% di 2025.

Ilustrasi Pixabay.com

“Saat ini kontribusi UMKM kita baru 61%. Nanti di 2022 semoga bisa di 63%,” kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/12) lalu.

Di saat yang sama, selain masih bisa bertahan, ada pula UMKM yang justru semakin berjaya di masa sulit. Kata Teten, yang berjaya ialah mereka yang berani bangkit dan berinovasi mengembangkan produknya serta memperluas pemasaran melalui dunia digital. Bahkan, dengan digitalisasi, UMKM tak perlu repot-repot memboyong usaha yang telah dirintis ke Jakarta atau kota-kota besar lainnya.

Sponsored

Produk lokal makin meroket

Ialah Nokha, salah satu jenama sepatu asal Bandung yang selama pandemi justru bisa memperluas pasarnya hingga ke Amerika Serikat.  

Sadar betul tak bisa berlama-lama terpuruk karena pagebluk ditambah dengan melihat perkembangan zaman yang kian masif, CEO Nokha, Nopi Herlina Hadzic lantas menguatkan tekadnya untuk berfokus memasarkan produknya di dunia digital. Apalagi, produk fesyen yang lahir di tahun 2012 ini memang menyasar masyarakat muda. 

Kini, Nokha telah memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pelanggan lebih luas lagi, salah satunya melalui platform marketplace seperti Tokopedia. 
Semenjak memasarkan produknya di dunia digital, Nopi mengaku penjualannya semakin meningkat. Meski tentu saja sempat melambat di awal pagebluk.

Sebagai contoh, transaksi penjualan Nokha di Tokopedia saja sudah meningkat hingga tiga kali lipat. Bahkan, ketika mengikuti kampanye #BersebelasMelangkahBareng Tokopedia, Nokha berhasil mendapatkan 800 pesanan dan harus menyelesaikannya dalam waktu dua hari.

“Nokha juga rutin mengikuti kampanye Waktu Indonesia Belanja (WIB) Lokal,” kata Nopi, dalam keterangan resmi, Kamis (20/1).

Produk sepatu Nokha, UMKM asal Jabar yang terus beradaptasi lewat teknologi di masa pandemi. Dokumentasi Tokopedia.

Kesuksesan yang diraih Nokha tidak serta merta datang dengan sendirinya. Di awal berdirinya, jenama yang menawarkan produk fesyen seperti sepatu, jaket, kaos dan aksesoris lainnya itu hanya memiliki dua pegawai saja, seorang penjahit, dan tukang sol sepatu.

Belum lagi, usaha yang berawal dari garasi rumah Nopi ini juga sempat mengalami banyak kesulitan mulai dari mengalami penipuan hingga barang dagangan dibawa kabur. Namun, sembilan tahun berlalu, kini Nokha mampu mempekerjakan lebih dari 150 karyawan yang hampir 80% di antaranya adalah ibu rumah tangga hingga rekan difabel.

“Kuncinya adalah jangan takut gagal dan harus selalu ikuti perkembangan zaman,” kata perempuan yang ingin menjadikan Nokha sebagai salah satu brand ternama di dunia itu.

UMKM lain yang juga mengalami peningkatan penjualan selama pandemi melalui digitalisasi adalah Patrobas. Pemilik merek sneakers yang terkenal di kalangan anak muda terutama sneakers enthusiast, Sebastian Surya Sutantio, mengungkapkan sepatu El Clasico mereka yang dijual secara eksklusif di Tokopedia sempat habis terjual dalam waktu kurang dari 4 menit.

Capaian itu terjadi saat mereka mengikuti kampanye Sebelas Melangkah Bareng Never Too Lavish bersama Tokopedia, yang memang dihelat untuk mendukung kemajuan industri sepatu lokal. 

Tidak sampai di situ, selama kuartal-III 2021 transaksi Patrobas juga tercatat mengalami kenaikan hingga lebih dari 8 kali lipat. Jauh lebih tinggi ketimbang tiga bulan pertama saat bergabung di Tokopedia.

“Banyak kemudahan yang dirasakan sejak bergabung dengan Tokopedia pada 2018, di antaranya bisa memberdayakan sejumlah perajin sepatu lokal dari berbagai daerah. Bahkan selama pandemi, kami tetap bisa mempekerjakan para karyawan dan omzet kami bisa mencapai hingga puluhan juta,” kata pemilik pabrik sepatu yang sempat mengalami kebakaran di Agustus 2021 itu.

UMKM kuliner tak kalah berjaya

Selain produk-produk fesyen, UMKM kuliner juga mampu bertahan dan bangkit. Seperti Brookies misalnya, jenama kue kering artisan asal Bandung. 

Pemilik Brookies, Salsa Wigati mengatakan, pandemi tak hanya mendatangkan petaka saja bagi para pelaku bisnis. Sebaliknya, musibah karena virus SARS-CoV-2 ini bisa juga mendatangkan berkah bagi mereka yang berinovasi dan memperluas bisnisnya di dunia digital. 

Hal ini dibuktikannya melalui penjualan Brookies di Tokopedia. Meski baru saja berdiri di awal pagebluk, merek brownies dan cookies artisan ini langsung bisa melejit dan berhasil meraih omzet hingga Rp20 juta tiap bulannya. 

“Sejak bergabung Tokopedia pada Juli 2020, omzet Brookies bisa mencapai hingga Rp20 juta setiap bulannya. Pelanggan pun meluas hingga Aceh, Riau dan Kalimantan,” ujarnya.

Salsa Wigati memulai bisnis brownies dan cookies yang diberi nama Brookies pada awal Maret 2020. Dokumentasi Tokopedia.

Enggan berpuas diri, Salsa pun terus berinovasi dengan memproduksi varian rasa baru, seperti klepon cookies, goguma cookies, cookies monster, rose cookies, cinnamon cookies dengan topping biskuit atau cookies dengan tema hari raya Idul Fitri dan Natal. Selain itu, perempuan 26 tahun ini juga rajin memanfaatkan fitur flash sale dan mengikuti kampanye Tokopedia Nyam.

“Dari kampanye tersebut, Brookies bahkan bisa menerima pesanan hingga 70 paket cookies dalam waktu 1 jam," tambah Salsa.

Head of Regional Growth Expansion (RGX) Tokopedia, Trian Nugroho mengakui produk lokal makin diminati. Hal tersebut salah satunya terlihat dari transaksi UMKM Jawa Barat di Tokopedia yang meningkat hampir dua kali lipat selama 2021 dibandingkan 2020, berkat inisiatif Hyperlocal.

“Kategori makanan dan minuman, kesehatan dan perawatan diri, ibu dan anak, serta fesyen anak, kecantikan, hingga rumah tangga mengalami peningkatan transaksi paling tinggi di Jawa Barat selama 2021,” ujar Trian.

Program turunan inisiatif Hyperlocal seperti Kumpulan Toko Pilihan (KTP), Digitalisasi Pasar, Sekolah Kilat Seller, Tokopedia Nyam dan masih banyak lainnya, merupakan upaya Tokopedia untuk mendekatkan pembeli dengan penjual terdekat.

“UMKM lokal di seluruh penjuru Indonesia, termasuk Brookies dan Nokha, bisa punya kesempatan yang sama untuk bertumbuh. Jadi tidak perlu pindah ke ibu kota untuk menjadi juara,” tambah Trian.

Juara ketimbang merek asing

Sementara itu, Pakar Pemasaran Yuswohady mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir, produk lokal, khususnya fesyen dan kecantikan menjadi tren di masyarakat. Bahkan, khusus untuk fesyen, menurutnya bisa bergerak lebih lincah ketimbang brand-brand fesyen besar, seperti Zara, H&M, Brooks Brothers, Victoria's Secret, Century21, Muji, hingga JCPenney yang memiliki banyak toko fisik di Indonesia.

Bertahannya jenama-jenama lokal ini disebabkan oleh kecepatan kemampuan pelaku UMKM untuk beradaptasi dan melakukan berbagai inovasi, dibandingkan brand-brand besar. Apalagi, produk yang dikeluarkan sektor akar rumput ini sifatnya jauh lebih fungsional dengan harga jauh lebih terjangkau.

“Berkembangnya merek lokal juga didukung dengan semakin banyaknya UMKM yang saat ini sudah go digital,” kata Managing Partner Inventure ini, saat dihubungi Alinea.id, Jumat (21/1).

Tokopedia menggelar virtual media gathering dengan tema Wilujeng Sumping 2022, UMKM Jawa Barat Semakin Juara Bareng Tokopedia. Dokumentasi Tokopedia.

Dengan berkembangnya teknologi dan perubahan pola konsumsi masyarakat yang menjadi lebih banyak berbelanja online, lantas membuat para pelaku UMKM berbondong-bondong masuk ke ekosistem niaga-el.

Berdasarkan data Kemenkop UKM, ada sebanyak 16,4 juta UMKM yang sudah go digital pada 2021. Angka itu naik dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 2020, yang hanya mencapai 8 juta UMKM saja.

“Secara keseluruhan, mungkin konsumsi produk lokal mengalami penurunan, tapi dengan banyaknya yang buka toko di marketplace, menjadikan tren belanja produk UMKM enggak pernah sepi,” imbuhnya.

Namun, menurut Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti, jika dilihat secara keseluruhan, konsumsi produk lokal masih kalah ketimbang impor, terutama untuk barang fesyen, kecantikan dan elektronik. Sebaliknya, merek-merek lokal di sektor makanan dan minuman justru merajai pasar dalam negeri.

Untuk itu, penting bagi UMKM guna meningkatkan kemampuan (upskilling) mereka. Hal ini harus dibarengi juga dengan peningkatan teknologi. “Hal tersebut harus dilakukan bersama-sama, antara UMKM dan pemerintah harus saling dukung,” imbuh Esther.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mendorong pelaku UMKM agar meningkatkan daya saing mereka. Pasalnya, meski platform niaga-el dapat meningkatkan pendapatan pelaku usaha lokal, namun di sisi lain juga harus bersaing bebas dengan pengusaha-pengusaha dari berbagai dunia. Belum lagi, penetrasi produk asing di dalam negeri masih sangat tinggi.

Di saat yang sama, pemerintah melalui Kemenkop UKM, berkomitmen untuk terus membantu mengembangkan kapasitas dan daya saing sektor akar rumput. Hal ini dilakukan tak hanya untuk meningkatkan pendapatan para UMKM, namun juga guna mengungkit perekonomian nasional.

“Kalau daya tahan itu biasa. UMKM kita biasa lapar, kuat dari krisis ke krisis. Tapi kami tidak mau sekadar daya tahan, namun harus punya daya saing,” kata Teten, di Jakarta, Rabu (19/1).

Ilustrasi Alinea.id/Firgie Saputra.

Berita Lainnya