sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jualan di Tokopedia, pengusaha dimsum ini tambah 120 karyawan saat pandemi

UMKM sebagai tulang punggung perekonomian bangsa dapat bertahan di masa pandemi dengan bergabung dalam ekosistem digital.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Selasa, 21 Sep 2021 06:52 WIB
Jualan di Tokopedia, pengusaha dimsum ini tambah 120 karyawan saat pandemi

Marketplace atau e-commerce sudah semakin lekat dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Keuntungan menggunakan marketplace dalam kehidupan sehari-hari juga sangat terasa.

Seperti halnya dialami oleh Gatot (39). Bapak tiga anak ini setia menggunakan marketplace untuk mencari bahan baku produk dagangannya. Sesekali, ia juga mencari kebutuhan-kebutuhan yang mendukung hobinya yakni bersepeda.

Dengan belanja online, ia juga tak perlu berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk mencari suatu barang yang dibutuhkan. “Yang jelas enggak ribet, tinggal scroll cari di marketplace,” tuturnya saat berbincang dengan Alinea.id, Minggu (12/9).

Keuntungan lainnya, kata warga Tangerang Selatan ini, marketplace mempunyai fitur yang membuat pembeli bisa melacak posisi pengiriman barang. Ada pula fitur chat yang memungkinkan pembeli untuk bertanya seputar produk dan mengutarakan keluhan jika barang yang diterima tidak sesuai.

“Nanti komplainnya akan ditanggapi sama adminnya. Pembeli bisa lebih aman, selama barangnya bermasalah, duit kita juga masih aman,” sebutnya.

Tidak hanya bagi konsumen, marketplace juga menjadi etalase bagi beragam produk hasil usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di masa pandemi, keberadaan marketplace bagi para penjual juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pengembangan bisnis.

Ilustrasi Pexels.com.

Kolaborasi dengan marketplace pun menjadi kunci bagi UMKM untuk berkembang saat ini. Salah satunya Muhammad Kautsar, pemilik jenama kuliner lokal, Dimsum 49.

Sponsored

Sebelum sukses sebagai pengusaha makanan, Kautsar mengalami kebimbangan. Kala itu, selepas lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), ia harus menghadapi kenyataan keluarganya terlilit utang dalam jumlah besar. Ia akhirnya turut banting tulang melunasi utang keluarga. Bahkan, sebagai anak bungsu, lelaki berkacamata ini tak sanggup meminta orang tua untuk membiayai kuliahnya.

“Akhirnya saya putuskan berjualan siomay keliling dari bazar ke bazar,” katanya, dikutip dalam tayangan YouTube INSPIRASIONAL! Cerita jatuh bangun berbisnis makanan dari 0.

Siomay yang dijual dibuatnya dari hasil mengulik resep sang ibunda. Ia pun rajin menjajakan siomay itu ke berbagai event pada tahun 2015. Namun setahun kemudian, Kautsar akhirnya banting setir dengan berjualan dimsum.

Awalnya, ia menjual dimsum produksi pabrik lain. Ternyata, respons pembeli cukup positif hingga akhirnya ia memproduksi dimsum sendiri. Kali ini, ia bertekad menghasilkan produk dimsum dengan harga terjangkau, namun dengan rasa yang enak.

“Siomay ini ada di mana saja, dari gerobakan sampai restoran juga ada. Tapi, kami sadar bahwa dimsum ini belum banyak. Kami buat yang benar-benar sesuai ekspektasi pelanggan,” tutur Kautsar.

 

 

Bisnis Dimsum 49 yang menyasar pembeli partai besar, reseller dan restoran berlangsung baik-baik saja sebelum akhirnya pandemi Covid-19 menyerang. Restoran tak bisa lagi diandalkan karena kebijakan pembatasan sosial yang berlaku di wilayah sekitar. Namun, ada harapan dari pembeli rumahan yang kian ramai.

Ia pun memutuskan fokus berjualan online dengan bergabung ke dalam ekosistem Tokopedia. Marketplace yang berdiri sejak 2009 itu nyatanya membuat angka penjualan melonjak drastis.

“Perbedaan terasa dari jumlah sales, sales kami naik dua kali lipat dari total pendapatan harian,” ungkapnya.

Kautsar kerap memanfaatkan berbagai program untuk menarik lebih banyak pembeli. Misalnya flash sale maupun Waktu Indonesia Belanja (WIB). Tak dinyana, seiring situasi pandemi pada tahun 2020, Dimsum 49 justru kebanjiran order. Tak hanya itu, banyak permintaan untuk menjadi reseller Dimsum 49, jumlahnya fantastis yakni mencapai 1.000 pemain.

“Tahun 2020, banyak permintaan reseller karena adanya PHK (pemutusan hubungan kerja) dan pembeli reguler juga mulai ramai,” sebutnya.

Lalu, melalui Tokopedia Nyam, kampanye dari Tokopedia yang menggandeng pelaku usaha makanan dan minuman , Dimsum 49 telah merasakan peningkatan transaksi hingga hampir dua kali lipat.

Bahkan, Dimsum 49 kini bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi 200 karyawan atau naik dari sebelum pandemi yang awalnya hanya terdapat 80 karyawan. Selain itu juga menambah penghasilan bagi sekitar 3.000 reseller yang mayoritas ibu rumah tangga dan karyawan yang terdampak pandemi.

 

Mendorong transformasi digital

Dimsum 49 adalah satu dari banyak pelaku UMKM yang terbantu dengan penjualan daring. Berdasarkan catatan Indonesia E-Commerce Association (idEA), sebelum pandemi, 8 juta UMKM terhubung ke ekosistem digital. Jumlah tersebut dicapai dalam waktu delapan hingga 10 tahun.

Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki menuturkan meningkatnya jumlah UMKM yang masuk ke ekosistem e-commerce disebabkan situasi yang mendorong pelaku segera melakukan adaptasi digital. Tren ini diprediksi akan semakin kuat karena belanja di platform online bisa semakin murah.

“Target kami di 2024 ada 30 juta UMKM yang terhubung platform digital,” kata dia dalam webinar Mendorong transformasi digital UMKM melalui e-commerce, Agustus lalu.

Teten optimistis dengan tingginya angka pertumbuhan jumlah UMKM yang masuk ke e-commerce tersebut. Hal itu sekaligus menghapus kekhawatiran dari riset Asian Development Bank (ADB) yang memprediksi separuh UMKM di Indonesia akan gulung tikar akibat pandemi.

“Dari survei terakhir BPS (Badan Pusat Statistik) dan Mandiri Institute di kuartal I-2021, UMKM sudah mulai ada pemulihan,” tambahnya.

Dampak pandemi bagi UMKM memang tidak main-main. Di Kota Bandung misalnya, tercatat 90% UMKM terdampak pagebluk berdasarkan data Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) Kota Bandung.

Pemerintah daerah pun tak tinggal diam untuk membantu tulang punggung perekonomian bangsa ini. Salah satunya dilakukan dengan mendorong akselerasi UMKM terhadap platform digital seperti marketplace. Adopsi digital ini menjadi keniscayaan di tengah pergeseran perilaku belanja masyarakat dari offline ke online selama pandemi.

“Digitalisasi merupakan salah satu upaya untuk menjawab tantangan akan surutnya bisnis UMKM imbas pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat,” kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam keterangan pers, Rabu, (8/9).

Menurutnya, dorongan pemda terhadap digitalisasi UMKM itu juga dilakukan untuk menyelamatkan perekonomian daerah yang juga terdampak pandemi. Karenanya, Kang Emil - demikian ia akrab disapa - bilang migrasi para pelaku usaha menuju digital merupakan hal yang wajib. 

Dia menambahkan pertumbuhan ekonomi kreatif di Jawa Barat yang menerapkan digitalisasi mengalami pertumbuhan sebesar 40% di tengah pandemi. Karenanya, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung telah mengimbau para pelaku usaha mengadopsi platform digital.

“Para pelaku usaha, khususnya UMKM, terus didorong untuk masuk ke pasar daring atau marketplace, contohnya Tokopedia atau Blibli. Hal tersebut juga merupakan upaya menggerakkan roda perekonomian di tengah pandemi Covid-19,” ujar Kepala Disdagin Kota Bandung, Elly Wasliah, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menyebut UMKM masih menghadapi masalah infrastruktur digital. Dia melihat, akses internet di tingkat kabupaten atau kota masih rendah.

“Jadi memang enggak mudah untuk meningkatkan digitalisasi begitu saja, karena pasar, bahkan di Jawa pun masih belum semuanya terkoneksi dengan internet bahkan telepon genggam,” tutur dia.

Aviliani memandang hal ini merupakan pekerjaan rumah pemerintah untuk membangun infrastruktur yang memadai. Karena itu, ekonom senior ini menekankan agar pemerintah bisa meningkatkan kelas UMKM agar memperoleh nilai tambah, dan terhubung dengan rantai pasok.

Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo.
 
 

Berita Lainnya