sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Diversifikasi usaha, kargo sumbang 30% dari pendapatan Garuda Indonesia

Kargo merupakan lini terpenting dalam pendapatan usaha Garuda pada saat ini.

 Ratih Widihastuti Ayu Hanifah
Ratih Widihastuti Ayu Hanifah Senin, 20 Des 2021 17:24 WIB
Diversifikasi usaha, kargo sumbang 30% dari pendapatan Garuda Indonesia

PT Garuda Indonesia (Perseroan) Tbk. (GIAA) mencatatkan pertumbuhan 89,66% pada bisnis kargo internasional di kuartal III-2021, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. 

Capaian kinerja itu, selaras dengan fokus diversifikasi bisnis Garuda pada bisnis kargo udara, menyusul tekanan pendapatan usaha pada lini bisnis angkutan penumpang.

Direktur PT Garuda Indonesia (Perseroan) Tbk. Irfan Setiaputra menjelaskan, kargo merupakan lini terpenting dalam pendapatan usaha Garuda pada saat ini.

“Kami meyakini performa kinerja usaha yang mulai menunjukan pertumbuhan kondusif menjadi basis penting langkah pemulihan kinerja yang terus kami akselerasikan ke depannya," ungkap Irfan, dikutip dalam keterangan persnya, Senin (20/12).

Salah satu upaya mengoptimalkan pendapatan dari lini bisnis kargo adalah dengan mengoperasikan dua armada preighter (Passenger Freighter) A330-300, yang turut melayani perluasan jaringan penerbangan kargo.

Di sisi lain, peningkatan jumlah penumpang hingga awal kuartal III-2021, khususnya dari periode Agustus ke September 2021 yang sebesar 83,14%, turut meningkatkan optimisme perusahaan.

“Meskipun belum dapat dikatakan pulih sepenuhnya dari masa sebelum pandemi. Tetapi ini menunjukkan bahwa iklim industri penerbangan semakin kondusif, di tengah langkah pemulihan kinerja yang sedang Garuda laksanakan. Terutama melalui proses restrukturisasi yang sedang berlangsung," kata Irfan.

Untuk diketahui, pembatasan pergerakan penumpang pada masa PPKM Jawa-Bali hingga awal kuartal III-2021 berdampak cukup signifikan terhadap pendapatan usaha perseroan. Hal tersebut tercermin pada catatan pendapatan usaha yang turun sekitar 17,54% menjadi US$939,02 juta, jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, yaitu sebesar US$1.138 miliar.

Sponsored

“Tentunya menjadi keniscayaan bagi kami untuk terus beradaptasi menghadapi tantangan bisnis yang ada. Upaya tersebut terus kami percepat dengan mengoptimalkan kargo, yang kami proyeksikan dapat menembus 30% dari total pendapatan operasi pada akhir 2021," jelas Irfan.

Langkah pengelolaan kinerja usaha juga terus Garuda maksimalkan. Salah satunya melalui pengelolaan beban operasional penerbangan, yang pada akhir kuartal II-2021 berhasil ditekan hingga 14,45% menjadi US$1,11 miliar, dibandingkan periode yang sama pada kuartal III-2020 sebesar US$1,3 miliar.

Hal itu diselaraskan dengan penerapan prinsip cost leadership, yang sesuai dengan basis pengelolaan cost structure. Diperkuat dengan upaya negosiasi bersama lessor untuk membahas beban sewa pesawat, serta restrukturisasi jaringan penerbangan agar fokus pada rute yang menguntungkan dan memiliki prospek menjanjikan.

”Berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya adaptasi manajemen, yang memprioritaskan upaya transformasi Garuda menjadi entitas bisnis yang lebih agile dan berdaya saing dalam menjawab tantangan di masa depan," jelas Irfan.

"2022 menjadi tahun konsolidasi bagi Garuda. Kami akan lebih berupaya mengurangi beban biaya operasional serta menyesuaikan fixed cost menjadi variable cost. Kami berharap langkah ini dapat didukung oleh seluruh pihak, terutama kreditur Garuda. Mengingat ini menjadi milestone penting dalam upaya kami bertransformasi menjadi perusahaan yang semakin sehat. Tidak hanya bagi keberlangsungan usaha ke depan tetapi juga ekosistem bisnisnya," tutup Iran.
 

Berita Lainnya