sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

KSEI jelaskan rencana strategis pada 2019

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyiapkan beberapa langkah strategis pada 2019.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Senin, 31 Des 2018 12:54 WIB
KSEI jelaskan rencana strategis pada 2019

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyiapkan beberapa langkah strategis pada 2019. Hal itu terkait upaya meningkatkan kualitas layanan kepada emiten, investor, dan pemegang rekening, serta peningkatan kepercayaan dan perluasan jangkauan investor.

"Secara garis besar, tujuan rencana jangka panjang KSEI sejak 2016 adalah membangun kapasitas dan kapabilitas perusahaan yang setara dengan lembaga penyimpanan dan penyelesaian di tingkat regional dalam menghadapi tantangan global, mendukung perkembangan industri pasar modal, serta meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi pemakai jasa KSEI," kata Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi di Jakarta.

Dalam Rencana Anggaran Tahunan Persero Tahun Buku 2019, KSEI menargetkan pendapatan usaha akan meningkat sebesar 14% dari Rp431 miliar pada 2018, menjadi Rp491 miliar di 2019.

Selain itu, wanita yang akrab disapa Kiki ini mengatakan, untuk C-Best Next-G, pada 2019 KSEI akan melakukan pengembangan lanjutan berupa pengadaan modul corporate action (CA) untuk meningkatkan automasi penanganan kegiatan CA yang lebih terintegrasi dan terotomasi.

Pada 2019 nanti, KSEI juga berencana melakukan perluasan fungsi S-Invest, yakni penyediaan infrastruktur Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Program ini merupakan kelanjutan dari tahun sebelumnya dan sebagai wujud dukungan terhadap program pemerintah. Pengelolaan dana Tapera dalam bentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) Tapera, akan dicatat serta diadministrasikan dalam sistem serupa S-Invest yang disediakan KSEI.

Sementara, untuk pengembangan AKSes Financial Hub, KSEI melakukan pengembangan secara bertahap sejak 2014 melalui kerja sama dengan perbankan melaui co-branding fasilitas AKSes. Untuk mendukung fasilitas AKSes sebagai Financial Hub, maka KSEI merencanakan untuk mengembangkan fasilitas AKSes agar terintegrasi untuk seluruh pengguna jasa KSEI, yaitu pemegang rekening, emiten, dan investor.

"Pengembangan ini akan dilakukan bertahap dan sudah dimulai sejak 2017 melalui AKSes Next Generation (AKSes Next-G). Pada 2019, AKSes Next-G akan diperluas, sehingga dapat juga digunakan oleh emiten dan BAE," jelasnya.

Lebih lanjut Kiki menyebutkan jika platform e-proxy dan e-voting merupakan inisiatif KSEI agar proses RUPS dapat berjalan efisien dan efektif di antara pihak-pihak terkait, salah satunya memberikan kuasa untuk menghadiri RUPS dan memberikan hak suara melalui platform e-proxy dan e-voting. Untuk pengembangan tersebut, KSEI menunjuk Central Securities Depository (CSD) of Turkey-MKK (Merkezi Kayit Kurulusu) sebagai mitra untuk melakukan pengembangan kedua platform tersebut.

Sponsored

"Proyek ini di bagi dalam dua tahap, yaitu penerapan e-proxy untuk jangka pendek dan penerapan e-voting untuk jangka panjang," terangnya.

Menurutnya, insiatif simplifikasi pembukaan Rekening Efek (RE) dan Rekening Dana Nasabah (RDN) sejalan dengan arah pengembangan sektor jasa keuangan Indonesia yang tercantum dalam master plan sektor jasa keuangan Indonesia 2015-2019. Tujuan program kerja ini dilakukan agar pembukaan RE dan RDN lebih mudah, cepat, dan menjangkau lokasi yang lebih luas, sehingga investor dapat segera melakukan transaksi di pasar modal.

Sebenarnya, KSEI telah memulai inisiatif ini sejak 2016 dengan target awal adanya pedoman untuk penggunaan aplikasi elektronik dalam pembukaan rekening, serta pedoman untuk pembukaan RE agar dapat dilakukan melalui cabang-cabang bank administrator RDN.

"Tahap selanjutnya akan dilakukan pengembangan infrastruktur untuk mendukung mekanisme simplifikasi pembukaan RE dan RDN melalui AKSes Financial Hub di 2019," ucap Kiki.

Saat ini, KSEI sedang mengkaji kemungkinan penerapan dematerialisasi secara penuh di pasar modal Indonesia. Dematerialisasi akan mencatatkan saham berbentuk fisik (script) ke dalam sistem yang dimiliki oleh KSEI. Salah satu tujuannya agar pasar modal dalam negeri menjadi lebih aktif lagi.

"Dematerialisasi ini akan lebih mengaktifkan pasar. Saham script akan lebih tradeable daripada hanya dipegang dan disimpan saja oleh investor," katanya.

Kiki mengungkapkan dari total nilai kapitalisasi pasar modal dalam negeri saat ini yang senilai Rp 6.900 triliun, yang tersimpan di KSEI hanya sebanyak Rp 4.100 triliun. Sehingga masih ada Rp 2.800 triliun saham yang berbentuk fisik beredar di kalangan investor.

Selain itu, dengan penerapan dematerialisasi saham KSEI akan lebih mudah untuk memantau seluruh saham yang ada di pasar modal. Pasalnya, KSEI kerap kali mendapatkan informasi hilangnya saham berbentuk fisik yang disimpan oleh investor.

Untuk itu, KSEI terus melakukan studi mengenai dematerialisasi agar bisa diterapkan secara penuh di Indonesia seperti pasar modal di negara-negara lain. Pasar modal yang sudah menerapkan dematerialisasi saham secara penuh antara lain Jepang dan Taiwan.

Meski begitu, Kiki belum bisa memastikan apakah dematerialisasi saham ini akan cocok diterapkan di Indonesia atau tidak. Nantinya, KSEI akan melakukan konsultasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk pembahasan  terkait regulasi yang akan mengatur dematerialisasi saham