sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Layanan streaming, makin berjaya di era Corona

Video berlangganan makin diminati di tengah penutupan bioskop dan tayangan televisi yang monoton.

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Sabtu, 12 Sep 2020 08:40 WIB
Layanan streaming, makin berjaya di era Corona
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 252923
Dirawat 58788
Meninggal 9837
Sembuh 184298

Tujuh bulan sudah Coronavirus merajalela di Tanah Air. Harus diakui, pandemi ini mendorong adanya perubahan kebiasaan masyarakat. Adanya pembatasan sosial dan imbauan #dirumahsaja 'memaksa' banyak orang mengisi waktu luang dengan kegiatan bersifat rumahan.

Salah satu cara menghibur diri yang menjadi pola gaya hidup baru adalah menonton tayangan streaming atau video berlangganan secara online. Survei McKinsey & Company pada akhir Maret lalu menyebut sebanyak 45% responden merogoh kocek lebih banyak untuk hiburan dalam rumah selama pandemi.

Di sisi lain, 85% responden mengurangi pengeluaran mereka untuk hiburan luar rumah. Layanan streaming video berlangganan (video-on-demand/VoD) menjadi salah satu pilihan hiburan yang bisa dilakukan di dalam rumah.

 
Valda Kustarini (28) adalah salah satunya. Ia memutuskan berlangganan platform VoD semenjak pandemi. Baginya, layanan streaming video menjadi sumber hiburan di sela-sela bekerja dari rumah akibat pandemi Covid-19.

“Awalnya, gue sering nonton serial, anime, atau film gitu, tapi selama pandemi enggak bisa ke bioskop. Biasanya kalau lagi bosen, ke situs-situs (streaming film) ilegal, tapi sekarang sudah di blok. Cuma makin ke sini, gue butuh langganan Netflix deh” ungkapnya kepada Alinea.id, Selasa (8/9).

Untuk menyiasati biaya berlangganan yang mencapai lebih dari Rp100.000, wartawati sebuah stasiun radio swasta ini menggunakan akun Netflix bersama dengan teman-temannya. Cara ini membuat biaya berlangganan lebih murah karena ditanggung bersama. Ia hanya perlu membayar Rp25 ribu saja per bulan. 

“Gue (nonton streaming) pakai WiFi di rumah. Kalau gue, kemana-mana tidak mengurangi keinginan untuk nonton, soalnya di kereta juga nonton,” ujar wanita yang berdomisili di Bogor, Jawa Barat ini.

Imbasnya, dia juga harus menghabiskan Rp80 ribu per bulan untuk paket data tak terbatas (unlimited) dari sebuah operator telekomunikasi swasta. Tak hanya itu, keluarganya juga berlangganan internet nirkabel lebih dari Rp300.000 per bulan. 

Ia mengaku gemar menonton film seri dari AS dan Eropa serta film anime (animasi Jepang). Dalam sehari, ia rata-rata menghabiskan waktu tiga jam untuk menonton film melalui platform streaming.

Sponsored

“Gue kasih batas sehari 10 episode tuh. Kalau serial, gue paling banyak lima sehari. Entah kenapa, si batas itu bergerak dengan sendirinya, tiba-tiba gue bisa menghabiskan 12-15 episode,” ujar wanita berhijab ini.

Jika bioskop dibuka kembali, Valda berminat pergi ke bioskop. Dengan catatan, filmnya menarik dan tidak ditayangkan dalam platform streaming. Pasalnya, ia masih khawatir dengan penerapan protokol kesehatan di gedung bioskop maupun para pengunjungnya.

Ilustrasi tayangan streaming/Pixabay.

Adapun Adhityo Guritno (24) mengandalkan layanan streaming untuk menonton film dan pertandingan sepak bola dari layar telepon genggamnya. Pria asal Pesisir Barat, Lampung ini memanfaatkan layanan internet nirkabel di rumahnya untuk menonton tayangan tersebut.

“Kalau dari HP (telepon genggam), badan kita lebih fleksibel, mau layarnya di atas kepala, kanan-kiri, atau sambil tengkurep, dan kita pakai headset bisa mengakomodir kebutuhan suara yang bagus. Kalau TV belum tentu bagus. Kalau pakai headset lebih bagus dan fokus buat nonton,” ungkapnya melalui sambungan telepon, Rabu (9/9).

Kurang lebih, sudah dua tahun ia berlangganan layanan streaming video. Berbeda dengan Valda, Adhit lebih memilih untuk membeli voucher langganan streaming dari marketplace e-commerce.

Voucher yang sedang promo kerap menjadi incarannya. Harga voucher yang dibelinya rata-rata tak sampai seratus ribu rupiah dengan jangka waktu berlangganan tertentu. Bila dihitung-hitung, voucher tersebut lebih murah dibandingkan tagihan bulanan kebanyakan VoD di Indonesia.

“Gue udah enggak tertarik lagi nonton TV karena kebutuhannya cukup di Youtube. Nonton TV enggak banyak bawa manfaat juga. Kalau kita nonton streaming video dan layanan Youtube, kita bisa atur (konten yang ditonton) dan punya input yang bisa didapat,” tuturnya.

Terus bertumbuh

Valda dan Adhit adalah salah dua contoh anak muda yang mulai meninggalkan hiburan konvensional seperti televisi. Pola ini terlihat dalam laporan Nielsen Total Audience Report tahun 2019 yang menunjukkan rendahnya durasi menonton televisi kelompok usia 18-34 tahun dibanding kelompok usia lainnya yang lebih tua.

Di negara Paman Sam misalnya, durasi menonton TV usia 18-34 tahun secara rata-rata hanya 1 jam 54 menit per hari. Nielsen juga melansir untuk usia 35-49 tahun mempunyai durasi lebih lama, 3 jam 43 menit. Kemudian usia 50-64 tahun 5 jam 50 menit dan usia di atas 64 tahun 7 jam 15 menit.

Patut diakui, layanan VoD menjadi salah satu bisnis digital yang mengalami pertumbuhan pesat. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2019, nilai ekonomi layanan berlangganan video dan musik di Asia Tenggara mengalami pertumbuhan 600% dari US$100 juta pada 2016 menjadi US$600 juta pada 2019. 

Pada 2025, nilainya diperkirakan mencapai US$3 miliar. Meskipun demikian, nilainya masih lebih kecil dibandingkan lini bisnis media daring lainnya yakni gim daring dan periklanan daring.

Belakangan, beberapa pemain global dan regional turut meramaikan pasar VoD Indonesia di antaranya Netflix, Disney+ Hotstar, Viu, HBO Go, dan iFlix. 

Juru Bicara Netflix menerangkan jumlah keanggotan Netfilx secara global meningkat 10,1 juta atau 5,52% menjadi 192,95 juta pada Kuartal II 2020 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Peningkatan ini lebih besar dibanding periode yang sama pada tahun lalu yang hanya mencapai 2,7 juta atau 1,81%. Di sisi lain, jumlah pelanggan di Asia Pasifik meningkat 2,66 juta atau 13,41% menjadi 22,49 juta pada periode yang sama.

“Kami juga mencatat total pendapatan sebesar 6,15 miliar dolar AS, naik 24,9% dibanding periode yang sama tahun lalu, di mana wilayah Asia Pasifik menyumbang 569 juta dolar AS,” ujar pihak Netflix melalui surat elektronik, Kamis (10/9).

Platform streaming asal Amerika Serikat ini selain menghadirkan tayangan-tayangan luar negeri, juga berinvestasi untuk mengembangkan industri kreatif. Khususnya perfilman di Indonesia. Netflix telah bekerjasama sama dengan rumah produksi besar di  Indonesia, seperti Starvision, Falcon Pictures, Visinema Pictures, Lifelike Pictures, MILES Films, BASE Entertainment, dan lainnya untuk menyediakan lebih dari 100 judul film lokal berbagai genre.

“Netflix bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendukung proses belajar dari rumah dan pengembangan industri kreatif. Bulan lalu, kami mengadakan workshop virtual untuk mengembangkan kapasitas profesional pascaproduksi film yang diikuti lebih dari 300 sineas lokal,” beber Juru Bicara Netflix.

Di sisi lain, pemain lokal seperti GoPlay dan Vidio juga tak mau kalah berunjuk gigi. Chief Executive Officer GoPlay Edy Sulistyo mengungkapkan pihaknya mencatatkan kenaikan durasi waktu penggunanya sebesar 10 kali lipat selama Semester I 2020.

Dia memaparkan mayoritas pengguna GoPlay berada pada rentang usia 18-35 tahun. Adapun konten yang menjadi favorit selama pandemi adalah film-film komedi, horor, dan berdurasi panjang.

“Menjadi bagian dari ekosistem Gojek, GoPlay dapat menjangkau lebih dari 125 juta pengguna Gojek. Hal ini juga memungkinkan GoPlay menjangkau lebih banyak pelanggan dengan program bundling atau promosi silang dengan berbagai produk dan layanan Gojek lainnya seperti GoFood, GoSend, atau GoTix,” terangnya kepada Alinea.id, Kamis (10/9).

Ilustrasi menonton layanan streaming via ponsel. Pixabay.

Edy menjelaskan konten-konten lokal berkualitas karya sineas Indonesia menjadi preposisi unik bagi GoPlay. Oleh karena itu, pihaknya memberi dukungan kepada sineas Tanah Air melalui program Script Doctor GoPlay, Festival Film dan Serial Online di GoPlay (FFSO), mencarikan pendanaan dan sponsor, serta berbagai dukungan lainnya.

“Sebenarnya, tidak ada winner-takes-all dalam kompetisi di industri VoD, mengingat banyaknya penonton di Indonesia yang belum terjangkau. Yang penting bagi saya adalah bagaimana masing-masing pelaku VoD dapat berkontribusi dengan unique value proposition masing-masing, dalam membangun industri perfilman dan kreatif di Indonesia. Upaya ini merupakan pekerjaan bersama, tidak mungkin dilakukan sendiri,” tuturnya.

Edy mengatakan pihaknya terus memperkaya katalog GoPlay Original dengan film-film lokal produksi sendiri dan GoPlay Exclusive dengan film bioskop, pemenang festival, dan dokumenter produksi sineas Indonesia. Dia melihat minat masyarakat terhadap film Indonesia semakin meningkat.

Selain itu, layanan streaming video besutan Gojek ini juga meluncurkan layanan baru selama pandemi, yakni GoPlay Live dan GoPlay Rental. GoPlay Live menampilkan konten-konten daring non-film seperti talkshow, kelas memasak, workshop interaktif, dan sebagainya. Sementara itu, GoPlay Rental menghadirkan konten-konten berbayar tiap penayangan (pay-per-view) sebagai wadah baru karya sineas di tengah pandemi. 

“Kehadiran berbagai inovasi ini diharapkan akan memperkuat strategi GoPlay sebagai platform digital OTT (Over The Top) dan strategi Gojek sebagai super app bagi pengguna, yang menawarkan rangkaian konten hiburan berkualitas dalam satu aplikasi,” katanya.

Sementara itu, Vice President Brand Marketing Vidio Rezki Yanuar mengklaim pihaknya mencatat peningkatan pengguna aktif cukup signifikan sejak bulan April yang bertepatan dengan awal masa pandemi.

Pada bulan April, aplikasi Vidio diunduh oleh 5 juta orang di Google Play, sehingga sempat menduduki peringkat pertama pada Top Chart App Store Google Play. Kemudian, aplikasi Video telah terunduh sebanyak 1 juta unit di dalam Smart TV selama April-Juli 2020.

Belum lagi kunjungan situs web yang mencapai 60 juta per bulan semenjak pandemi. Rizki juga mengklaim Vidio menjadi OTT dengan penjualan terbanyak di Shopee dan LinkAja pada bulan Juni 2020 berkat kerjasama yang terjalin dengan perusahaan. 

“Peningkatan ini menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap fitur dan layanan yang Vidio sajikan. Menariknya peningkatan ini terjadi di masa pandemi Covid-19, hal ini menunjukkan adanya perubahan kebiasaan masyarakat Indonesia dalam menikmati konten hiburan secara online,” terangnya melalui keterangan tertulis yang diterima Alinea.id, Jumat (11/9).

Platform VoD besutan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) ini terus memperkaya konten untuk menarik minat konsumen melalui penyiaran konten olahraga eksklusif (Shopee Liga 1, UEFA Champions League, UEFA Europa League, NGA, dan One Championship), Vidio Original Series, serta sinetron dan FTV Indosiar dan SCTV yang sama-sama berada di bawah naungan Grup Emtek. 

“Vidio juga terus memperkaya koleksi film-film nasional box office seperti Gundala dan film-film popular seperti Soekarno, Athirah, Yo Wis Ben, dan yang lainnya. Termasuk juga film-film India, Korea, Mandarin, Asia, dan Hollywood yang akan memuaskan kehausan penonton akan hiburan multi genre,” tuturnya.

Vidio mencatat pengguna didominasi pada kelompok usia Milenial. Adapun konten yang menjadi favorit adalah pertandingan sepak bola, serial drama, film-film lokal terbaik, dan video original series. Di sisi lain, tayanan serial drama Korea juga tengah naik daun.

“Fokus kami adalah mengembangkan peningkatan user berkualitas dengan cara selalu berinovasi dan memperkuat semua sumber daya yang kami miliki untuk dapat memberikan pelayanan terbaik kepada pengguna Indonesia,” jelasnya.

Beberapa platform video berbayar di Indonesia
Platform Biaya berlangganan Keunggulan
Netflix Rp54.000 (Paket Mobile), Rp120.000 (Paket Basic), Rp153.000 (Paket Standard/HD), dan Rp186.000 (Paket Premium/Ultra HD) Fitur khusus anak, film dan serial dari berbagai negara (Indonesia, Hollywood, Korea, Eropa, Jepang, dan lainnya), animasi, film original, dan film dokumenter
Disney+ Hotstar Rp39.000 (Paket bulanan) atau Rp199.000 (Paket tahunan) Film-film besutan studio di bawah naungan Disney dan Hollywood lainnya
Viu Paket Premium : Rp30.000/bulan dan Paket Dasar : Gratis Film dan serial Asia (Indonesia, Korea, Jepang, Mandarin, Thailand, dan sebagainya) serta film original
Vidio Rp29.000/bulan (Premier Gold), Rp29.000/minggu (Premium Platinum), Rp49.000 per bulan (Premier Platinum), dan Rp499.000/tahun (Premium Platinum), dan beberapa konten gratis Film dan serial (Indonesia, Asia, dan Hollywood) serta streaming TV nasional
GoPlay Rp60.000/dua minggu atau Rp89.000/bulan Konten lokal Indonesia dan konten original GoPlay
iFlix Rp1.900/hari, Rp9.900/minggu, Rp39.000/bulan, dan Rp374.400/tahun Film dan serial (Indonesia, Hollywood, Korea, Thailand, dan lainnya) serta animasi
HBO Go Rp60.000/bulan Film dan serial original HBO dan Cinemax

Gaya hidup baru

Peneliti Pusat Inovasi dan Ekonomi Digital Indef (Institute for Development of Economics and  Finance) Nailul Huda mengatakan pasar layanan streaming video Indonesia sangatlah potensial mengingat kelas menengah Indonesia yang terus bertumbuh dan meningkatnya penetrasi internet di Indonesia. 

Dia menyebut selama kurun waktu 2003-2017 jumlah kelas menengah Indonesia telah bertumbuh 100%. Kemudian, data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan tingkat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 64,1% per Desember 2019 atau setara dengan 175,4 juta penduduk. 

 

Di sisi lain, pandemi telah mendorong aktivitas ekonomi yang minim sentuhan (low touch economy) seperti layanan streaming. Hal ini lantaran adanya kewaspadaan masyarakat untuk menghindari penularan Coronavirus pascapandemi. 

“Maka bisa dipastikan pasar VoD atau streaming akan besar kedepannya. Saya rasa untuk TV dan bioskop lama kelamaan akan tergerus pasarnya di Indonesia. Saya rasa tidak perlu menunggu 20 tahun. Saya kira dalam waktu 5 tahun layanan streaming menjadi besar di Indonesia,” jelasnya kepada Alinea.id, Selasa (8/9).

Menurutnya, perkembangan streaming video membuat televisi semakin ditinggalkan oleh anak muda. Sebagaimana dilansir oleh Nielsen Total Audience Report tahun 2019 yang menunjukkan rendahnya durasi menonton televisi kelompok usia 18-34 tahun dibanding kelompok usia lainnya yang lebih tua.

Huda melihat persaingan bisnis layanan streaming video akan semakin ketat, terutama dari segi harga dan kualitas layanan. Bila platform mampu menampilkan banyak konten yang berkualitas, maka loyalitas pelanggan akan terbangun dengan sendirinya. Menurutnya, rata-rata pelanggan hanya berlangganan satu platform streaming video berbayar saja.

“Saya harap muncul paltform streaming lokal yang memberi konten-lokal lokal yang tidak kalah bagus dengan konten dari luar. Saya berharap film-film dokumenter dan film pendek seperti Tilik bisa masuk ke layanan streaming, bisa masuk film berbayar, sehingga menggairahkan industri film Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Managing Partner Inventure Yuswohady menganggap pasar streaming video relatif tak terbatas lantaran bergantung pada kreativitas para pembuat konten maupun platform dalam menyajikan tontonan yang disukai oleh masyarakat.

Hady menjelaskan terdapat dua pemain dalam bisnis streaming video yaitu platform VoD yang menampung dan menghasilkan konten dengan kualitas sinematik dan pembuat konten independen yang mempublikasikan karyanya melalui media sosial. Menurutnya, kedua pemain tersebut takkan saling ‘memakan’ lantaran memiliki segmen yang berbeda sesuai dengan konten yang ditampilkan.

“Bayangkan, konten itu bisa di set sedemikian luas dan tidak terbatas. Kita bikin konten kan enggak mahal. Modalnya kalau enggak ada kamera, handphone juga oke. Kalau kita bikin tulisan dan infografis bisa. Jadi gampang dan murah. Media sosial dan Youtube juga gratis. Ini potensi ekonominya luar biasa. Makanya ini terus berkembang jadi gaya hidup dan gaya bekerja baru,” terangnya kepada pewarta Alinea.id, Selasa (10/9).

Ia yakin keberadaan layanan streaming video takkan mematikan eksistensi media lainnya. Konsumen streaming video berasal dari orang yang sudah melek teknologi digital, sementara basis konsumen televisi lebih tradisional dan berasal dari kelas bawah. Namun, ia mengakui pertumbuhan paling moncer ada pada layanan hiburan berbasis internet.

“(Persaingan) Streaming dan TV kan masalah medianya, tapi yang penting sebenarnya kan kontennya. Yang sekarang terjadi adalah konten TV pun disalurkan via streaming. Nanti bergerak ke situ, medianya akan konvergen (TV dan VoD), tapi yang membedakan adalah segmen penonton dari kontennya,” tuturnya.

Sementara untuk pasar bioskop berasal dari kelas menengah dan atas yang kerap beririsan dengan konsumen streaming video. Menurutnya, penurunan popularitas bioskop selama pandemi lebih disebabkan oleh faktor keamanan dan kesehatan.

Bioskop masih dianggap lebih unggul dari televisi kaitannya dengan kualitas suara, ukuran layar, dan pengalaman menonton. Namun, Hady tidak optimis dengan keberlangsungan bioskop jika disandingkan dengan keunggulan layanan streaming.

“Menurut saya, keunggulan bioskop sudah mulai bisa dikompensasi oleh home entertainment melalui layanan streaming. Kalau pandemi terus berlangsung sampai tahun depan, bisa jadi popularitas bioskop berkuang karena sudah ada subtitusinya dengan layanan video-on-demand yang layanannya sama,” terangnya.
 

Berita Lainnya