sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

LRT Jabodebek baru 58%, beroperasi April 2021

Konstruksi kereta api ringan (light rail transit/LRT) Jabodebek baru mencapai 58% dan akan resmi dioperasikan pada April 2021.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Kamis, 14 Feb 2019 05:19 WIB
LRT Jabodebek baru 58%, beroperasi April 2021

Konstruksi kereta api ringan (light rail transit/LRT) Jabodebek baru mencapai 58% dan akan resmi dioperasikan pada April 2021.

Direktur Operasional II PT Adhi Karya Tbk. (ADHI) Pudjung Setya Brata mengatakan LRT Jabodebek akan testing dan commisioning pada Maret 2021 dan beroperasi penuh pada April 2021.

Hingga Februari 2019, pembangunan proyek yang menghubungkan Bogor-Depok-Jakarta dan Bekasi-Jakarta telah mencapai 58%. Progres pembangunan konstruksi LRT Jabodebek yang paling cepat adalah trase Cibubur-Cawang yang telah lebih dari 78%.

Sementara untuk seksi Bekasi Timur-Cawang, proyek konstruksi masih terkendala pembebasan lahan milik masyarakat. Tercatat, masih ada sekitar 12 hektare di Bekasi Timur yang disebut-sebut menjadi penghambat.

Meski belum rampung, empat rangkaian kereta LRT sudah terparkir di belakang Cibubur, dua kereta di Dukuh Atas, empat kereta di Cawang, dan sisanya diparkir di Depo PT Kereta Api Indonesia (Persero). Totalnya ada 31 rangkaian kereta yang masing-masing terdiri dari enam gerbong.

"Satu kereta akan dites track dulu di lintasan dari Cawang ke Cibubur. Secara bertahap akan dikirim LRT dari PT INKA (Persero). Saatnya mencoba buatan anak bangsa," tutur Pundjung di Jakarta, Rabu (13/2).

Dirjen Perkeretaapian, Zulfikri membenarkan keterangan dari Pundjung Setya Brata terkait proyek LRT Jabodebek yang menemui pelbagai kendala, serta mengalami cukup banyak kemajuan.

"LRT Jabodebek masih dalam masa pembangunan. Tadi sudah saya sampaikan, progres sudah sekitar 58%, dan progres yang cukup cepat, yakni diatas 70% adalah segmen dari Cibubur sampai Cawang. Akan tetapi, masih tidak sesuai target, karena masih banyak masalah terkait dengan Depo, dan segala macamnya, sehingga cenderung agak mundur," ujarnya pada kesempatan yang sama.

Sponsored

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno berpendapat proyek pembangunan LRT ini membutuhkan dukungan dari pemerintahan daerah. Sebab, pemerintah daerah mempunyai andil dalam membantu proses pembebasan lahan. 

Selain itu, pemerintah daerah dapat pula menunjang kepentingan untuk menggiring warganya beralih ke transportasi umum berbasis kereta LRT.

"Ini juga perlu dukungan pemerintah daerah. Pemerintah daerah mampu enggak? Dalam hal ini, pusat tetap membantu, cuma bagaimana, jangan sampai sudah disubsidi, tapi penumpangnya masih sedikit. Jadi dukungan pemerintah daerah itu penting," kata dia yang juga merupakan dosen Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

#SobatADHI, menurut survei Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) tahun 2015, sebanyak 996,000 kendaraan masuk memenuhi jalanan ibukota setiap harinya. Sekitar 69% kendaraan asal Bogor, Depok dan Bekasi memadati ruas jalan Tol Jagorawi dan Cikampek. __ Agar kemacetan dapat terurai, maka diperlukan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan dalam membenahi masalah kemacetan di sekitar Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi. Setelah dilakukan berbagai petimbangan, LRT (Light Rail Transit) hadir sebagai solusi kemacetan. LRT merupakan salah satu sistem Kereta Api Penumpang tipe Kereta Api Ringan yang dapat beroperasi di kawasan perkotaan dengan konstruksi yang ringan. Kini, pembangunan LRT Jabodebek masih dilakukan. Pembangunan ini didasari oleh keputusan pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 98 Tahun 2015, tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/ Light Rail Transit (LRT) Terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (JABODEBEK), dan Perubahannya. __ #KupasTuntasLRTJabodebek #LiterasiADHI #ADHIKarya #BeyondConstruction

A post shared by PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (@adhikaryaid) on