close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Alinea.id/Muji Prayitno.
icon caption
Ilustrasi Alinea.id/Muji Prayitno.
Bisnis
Kamis, 19 November 2020 07:04

Memberdayakan warung dengan teknologi digital

Sentuhan teknologi digital mampu menggenjot pendapatan warung dan toko kelontong.
swipe

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) adalah penggerak utama perekonomian Indonesia. Menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM), UMKM berkontribusi terhadap 61,07% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2018. 

Sebagian pelaku UMKM nasional bergerak di bidang perdagangan melalui warung dan toko kelontong. Setelah pandemi Covid-19, peran keduanya semakin penting mengingat lokasinya yang dekat dari rumah seiring dengan anjuran pembatasan sosial untuk menghindari penularan. 

Di sisi lain, platform digital semakin digandrungi oleh masyarakat karena berbagai kemudahan yang ditawarkannya. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh DBS Indonesia pada September silam, 21% responden memilih aplikasi daring sebagai pilihan utama berbelanja, naik dari 3% ketika sebelum pandemi. 

Digitalisasi menjadi kunci sukses bagi para pelaku ritel di era normal baru pascapandemi, termasuk pelaku warung dan toko kelontong. Di lain pihak, Kemenkop UKM mencatat baru sekitar 13% pelaku UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital. Melihat fenomena tersebut, Tokopedia meluncurkan platform Mitra Tokopedia sejak November 2018 lalu. 

Head of New Retail Tokopedia Doni Nathaniel Pramana mengatakan platform tersebut merupakan bagian dari misi perusahaannya untuk mendorong pemerataan ekonomi digital dengan menjembatani dunia ritel daring (online) dengan dunia ritel luring (offline). Pihaknya berharap aplikasi tersebut dapat mempermudah semua orang dalam memulai dan mengembangkan usaha mereka. 

Doni menambahkan kehadiran Mitra Tokopedia sangatlah penting lantaran besarnya kontribusi UMKM bagi perekonomian Indonesia serta vitalnya peran warung dan toko kelontong dalam memenuhi kebutuhan masyarakat selama pandemi. 

“Tidak bisa dipungkiri, menjembatani offline dan online memang tidaklah mudah, tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah untuk memperkenalkan Mitra Tokopedia ke para warung sebagai target utama. Kurangnya literasi teknologi yang dimiliki oleh para pemilik warung membuat Mitra Tokopedia harus melakukan pendekatan secara perlahan dan terus menerus kepada para pemilik warung,” terangnya kepada Alinea.id.

Ilustrasi. www.shutterstock.com.

Sadar akan tantangan tersebut, aplikasi Mitra Tokopedia berusaha mengawinkan pendekatan teknologi dengan pendekatan humanis melalui layanan penjualan grosir dan produk digital. Layanan produk digital telah menjangkau lebih dari 50 juta pelanggan di 500 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, sedangkan fitur grosir sudah bisa digunakan oleh para pemilik warung, toko kelontong, dan usaha sejenis lainnya di lebih dari 70 kabupaten/kota di Indonesia, mulai dari Banda Aceh hingga Manado (Sulawesi Utara). 

Berdasarkan survei internal Tokopedia pada Oktober 2020, sebanyak 80% Mitra Tokopedia mendapat lebih banyak pelanggan setelah menggunakan aplikasi tersebut. Hal ini berdampak pada meningkatnya keuntungan hampir 80% anggota Mitra Tokopedia sebanyak hampir dua kali lipat.

Kemudian, 9 dari 10 mitra mengaku menjual lebih banyak produk di warung atau toko kelontong mereka. Adapun produk digital yang paling laris adalah pulsa telekomunikasi, pembayaran tagihan (listrik, PDAM, dan BPJS), serta voucher game daring. 

“Ini menjadikan aplikasi Mitra Tokopedia sebagai platform pengalaman berbelanja O2O (online-to-offline) dengan cakupan paling luas di Indonesia, melayani lebih dari 50 juta masyarakat Indonesia,” katanya.

Dampak positif lainnya, 5 dari 10 mitra memiliki tabungan tambahan. Selain itu, hampir 100% pengguna mampu menghemat biaya transportasi lebih dari Rp50.000 tiap pekan melalui fitur grosir.  

“Mimpi kami, Mitra Tokopedia bisa menjadi solusi bagi para pemain ritel tradisional untuk dapat ikut serta berpartisipasi dalam tren perkembangan teknologi, khususnya terkait perdagangan online, dengan cara yang lebih mudah, cepat dan efisien, dan turut berkontribusi mendorong pemerataan ekonomi secara digital di Indonesia. Motto kami adalah 'Kesejahteraan bagi seluruh warung Indonesia',” tuturnya. 

Beberapa pengusaha warung dan toko kelontong telah merasakan manfaat dari kehadiran Mitra Tokopedia, salah satunya adalah Mostakim yang telah menjadi mitra sejak Februari 2020. Sebelumnya, ia harus menutup warung sekitar 3 jam untuk belanja ke pasar. 

Semenjak bergabung menjadi pengguna aplikasi Mitra Tokopedia, dirinya tak perlu menutup lagi warungnya karena dapat belanja melalui ponsel miliknya dan hanya perlu menunggu pengiriman barang.

“Pendapatan bulanan warung saya jadi meningkat hingga Rp5 juta karena Mitra Tokopedia. Selain jualan, saya bisa sekalian menabung untuk dapat poin lewat fitur Poin Hadiah. Saya bisa tukar poin yang didapat setiap transaksi dengan hadiah, seperti emas atau kesempatan menang paket Umrah,” ungkap warga Bogor, Jawa Barat tersebut.

Sementara itu, Ina Febriana banyak meraup cuan dari penjualan produk digital setelah bergabung menjadi Mitra Tokopedia pada Maret 2020. Ibu rumah tangga asal Jakarta ini berniat mencari penghasilan tambahan semenjak munculnya pandemi Covid-19. 

Selain menjual berbagai produk digital, usaha warung yang dimilikinya mendapat kepercayaan dari para pelanggannya untuk menyalurkan bantuan sembako kepada para pengemudi ojek daring. 

“Selama pandemi, transaksi di warung saya meningkat signifikan. Dengan memanfaatkan fitur Grosir, pendapatan saya bisa mencapai puluhan juta tiap bulannya. Mitra Tokopedia juga memfasilitasi saya untuk bisa menambah pemasukan dengan berjualan produk digital,” katanya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda melihat keberadaan platform perdagangan elektronik (e-commerce) mampu membuka akses pasar bagi para pelaku UMKM sebagaimana yang terjadi pada anggota Mitra Tokopedia sebelumnya. 

Menurutnya, kehadiran pemain e-commerce mampu membuka peluang lebih banyak bagi masyatakat untuk berpartisipasi dalam perdagangan elektronik, baik sebagai penjual maupun pembeli. 

“Kalau kita membuka baras ruang, maka yang masuk semakin banyak. Saya bilang e-commerce ini sangat potensial banget dalam mengembangkan UMKM. Saya rasa e-commerce jadi jalan utama bagi UMKM untuk naik kelas,” katanya beberapa waktu lalu. 

Meskipun demikian, Huda mengakui masih sedikit pelaku UMKM, termasuk pemilik warung dan toko kelontong yang masuk ke dalam ekosistem akibat keterbatasan informasi dan penguasaan teknologi. Oleh karena itu, peningkatan daya saing dan ekosistem digital yang mendukung menjadi kunci sukses terhadap upaya digitalisasi pelaku UMKM.

“Pertama, mengurangi kesenjangan digital. Kedua, memperbanyak kerjasama dengan platform lokal dan asing untuk menyediakan lapak khusus bagi pelaku UMKM. Ketiga, pemerintah harus membantu UMKM, tidak hanya berdagang saja, tapi bisa efisien sehingga bisa berasing secara harga,” jelasnya mengenai cara meningkatkan akses pelaku UMKM terhadap pasar digital.

img
Syah Deva Ammurabi
Reporter
img
Kartika Runiasari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan