logo alinea.id logo alinea.id

Menangkal influencer Instagram nakal

Negara-negara di Asia, seperti India, Jepang, dan Indonesia merupakan pasar terkemuka penipuan di Instagram.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Jumat, 02 Agst 2019 22:04 WIB
Menangkal influencer Instagram nakal

Di era perkembangan teknologi dan media sosial saat ini, influencer—seseorang yang punya followers (pengikut) banyak di media sosial, biasanya Instagram, dan memiliki pengaruh kuat bagi followers mereka—menjadi penting dalam mempromosikan produk sebuah perusahaan atau merek dagang.

Sebuah perusahaan lazim memanfaatkan jasa seorang influencer untuk memasarkan produk mereka. Biasanya, seorang influencer adalah artis, selebgram, atau youtuber. Orang yang tak punya latar belakang sebagai publik figur pun bisa menjadi influencer.

Cara influencer bekerja

Denny Delian merupakan salah seorang influencer, yang khusus mengulas hotel di Instagramnya. Hingga kini, dia memiliki 21.100 followers. Dia membeberkan bagaimana cara influencer bekerja.

Untuk menjadi seorang influencer yang bakal kebanjiran order, menurut dia, selain branding, konten akun Instagram harus mampu menarik perhatian orang. Setiap konten yang dia unggah, harus sesuai minat followers.

“Misalnya, followers saya lebih suka saya pose begini, tone warna seperti ini, posting foto kamar saja, atau foto berserta muka saya,” kata Denny saat dihubungi Alinea.id, Kamis (2/8).

Selain itu, menurut dia, seorang influencer harus mampu mengoptimalkan berbagai fitur media sosial, dan mengikuti setiap informasi pembaruan tools di media sosial itu.

Selesai mengulas sebuah hotel, terkadang Denny hanya mengunggah story Instagram saja. Foto-foto baru dia unggah saat jam-jam sibuk yang tepat agar bisa menjaring banyak pengunjung.

Sponsored

Jika banyak pengunjung yang melihat foto unggahannya, maka peluang like dan komentar semakin tinggi. Hal ini berpeluang besar masuk ke dalam beranda mesin pencarian Instagram. Untuk menaikkan engagement (keterlibatan), menurutnya, seorang influencer harus rajin mention dan membalas komentar pengunjung.

“Itu penting supaya klien tahu bahwa followers-nya aktif. Terkadang banyak sekali orang bertanya, ‘Kak ini di mana sih?’ ‘Kak ini harganya berapa sih?’ ‘Kak ini apa?’,” ujar pemilik akun Instagram @namaku_de ini.

Instagram bisa menjadi mata pencaharian influencer dengan mempromosikan produk. /Pexels.com

Vice President Himpunan Humas Hotel Jakarta sekaligus Marketing Communication Manager Artotel Grup Andri Meilani mengaku kerap menjumpai influencer, dari yang sudah terkenal hingga yang masih merintis.

Para influencer itu acap kali menginap gratis dan berswafoto di perusahaan tempat dirinya bekerja untuk keperluan konten mereka. Dari mulai foto, mengulas makanan, hingga merasakan menginap. Namun, Andri tak merasa risih.

“Biasanya influencer mengajak berkolaborasi karena kebetulan sedang ada urusan mengunjungi daerah di mana hotel kami berada,” kata Andri saat dihubungi, Kamis (2/8).

Terkadang, influencer mengucapkan kode untuk mengajak kerja sama, seperti “lagi ingin main-main” atau “weekend staycation”. Meski begitu, Andri mengatakan, pihaknya tak langsung menerima tawaran.

“Memilah-milah influencer berlandaskan kriteria engagement yang sehat,” ucapnya.

Andri menuturkan, influencer yang sehat bisa dilihat dari persentase interaksi, yang mencapai 5% hingga 7% dari total followers mereka. Menurutnya, influencer yang akan bekerja sama dengan hotel tempatnya bekerja, harus meneken kontrak, memaparkan dengan jelas berapa banyak followers-nya, dan jumlah orang yang terpancing mengunjungi akun Instagram resmi hotel.

Dia mengatakan, influencer berpengaruh terhadap promosi hotel dari sisi impresi kepercayaan. "Influencer itu punya integritas yang tidak bisa dibayar. Kalau mereka post ya mereka post karena true to yourself," ucapnya.

Penipuan influencer

Andri bersyukur, hingga kini tak pernah bersentuhan dengan influencer yang hanya mengemis dan memaksa. Namun, dia mengaku pernah bertemu seseorang yang menganggap dirinya influencer, tetapi nyaris seluruh follower-nya berupa akun palsu.

"Mungkin orang awam lihat seperti dengan jumlah follower yang banyak, namun engagement dalam like dan comment sangat kecil," ujar Andri.

Meski demikian, kecurangan yang dilakukan para influencer nyata ada. Menurut hasil riset perusahaan rintisan asal Swedia A Good Company dan HypeAuditor, dikutip dari situs Mumbrella Asia, negara-negara di Asia, seperti India, Jepang, dan Indonesia merupakan pasar terkemuka penipuan di Instagram. Riset ini digagas CEO dan Co-Founder A Good Company, Anders Ankarlid.

Riset ini dilakukan terhadap 1,84 juta akun di seluruh dunia. Amerika Serikat dan Brasil ada di urutan teratas yang terdampak penipuan lewat Instagram.

Sementara India dan Indonesia ada di urutan ketiga dan keempat. Diestimasikan, US$744 juta melayang akibat bot dan followers palsu. Survei ini menyebut, sebanyak 58 juta akun bot dan followers palsu terdapat di India, Indonesia, dan Jepang.

Perusahaan atau brand memanfaatkan jasa influencer untuk promosi. /Pexels.com.

Riset ini menyimpulkan empat temuannya, yakni data pengguna aktif Instagram per bulan jumlahnya berlebih hingga 45%; ukuran pasar bersih pada 2019 adalah US$956 juta, turun 45% dari sebagian besar prediksi jumlah laporan konservatif; banyak brand yang mengeluarkan jumlah uang yang terlalu besar untuk memburu engagement dan like; dan para micro-influencer merupakan pihak yang paling banyak mencurangi sistem.

Micro-influencer merupakan orang biasa yang dibayar oleh sebuah brand untuk mempromosikan produk mereka di media sosial. Mereka memiliki followers 2.000 hingga 100.000.

Salah satu masalah terbesar yang dicatat adalah engagement pods—pengaturan keadaan saat para influencer tergabung dalam gerakan kolektif yang rutin memberi like dan komentar. Keadaan ini sering kali dilakukan micro-influencer. Sayangnya, studi ini tak menampilkan lebih jauh kasus di Indonesia.

Tak bisa disangkal, promosi produk memang terbilang efektif dan bisa memangkas pengeluaran perusahaan dengan jasa influencer. Hanya membayar jasa influencer dalam bentuk uang atau produk gratis, perusahaan dapat keuntungan dengan promosi di media sosial.

Akan tetapi, masalahnya—seperti yang diungkap dalam studi A Good Company tadi—tak sedikit influencer yang hanya akal-akalan belaka.

Tak teperdaya influencer nakal

Sementara itu, pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengingatkan, sebuah brand yang salah menggunakan jasa influencer, bisa hanya buang-buang uang karena kontennya tak sampai ke publik.

Di sisi lain, belakangan ini Instagram tengah melakukan uji coba menghilangkan like, yang diperoleh pengguna usai mengunggah foto atau video. Kebijakan ini dilakukan untuk mencari jalan keluar dari kritik yang menyebut jumlah like dapat membandingkan pengguna Instagram satu dengan yang lainnya.

Di samping itu, banyaknya influencer yang memanfaatkan bantuan bot untuk menambah jumlah like juga menjadi penyebab pihak Instagram melakukan uji coba penghapusan like. Tentu saja, influencer terancam dengan kebijakan ini. Selama ini, jumlah like menjadi daya tarik mereka untuk menggaet brand atau perusahaan untuk endorse.

Pratama mengatakan, praktik “memoles” performa akun Instagram bisa merugikan pihak yang meminta endorse.

Menurutnya, Instagram menjadi sarang bot karena ketiadaan fitur ads bawaan yang bisa menambahkan followers asli atau akun otentik. Fitur dan tools iklan di Facebook, kata dia, jauh lebih lengkap dibandingkan Instagram.

Facebook memiliki fitur bawaan yang dapat menambah jumlah like, mengajak sebanyak mungkin akun untuk melihat video dan foto, membeli, bahkan menginstal aplikasi dan layanan dari pihak ketiga.

Sementara di Instagram, beberapa fitur, seperti swipe dan IG TV 60 menit hanya bisa aktif dengan beberapa prasyarat. Salah satunya jumlah followers harus di atas 10.000. Sedangkan IG TV harus lebih dari 10 menit akun verified.

Sejumlah influencer menggunakan cara-cara nakal untuk menambah daya tarik.

“Prasyarat inilah yang membuat orang ingin cepat menambah jumlah followers dengan memilih membeli,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, Hariqo Wibawa Satria menyarankan para pengguna jasa influencer mengajak mereka kopi darat untuk memastikan keaslian followers, dengan mengecek interaksi komentarnya.

“Karena berpotensi merugi. Influencer dapat saja bekerja sama dengan puluhan atau ratusan akun palsu untuk berkomentar di akunnya,” kata Hariqo saat dihubungi, Kamis (2/8).

Menurut Hariqo, kebanyakan pengguna jasa influencer masih teperdaya dengan melihat jumlah followers. Seharusnya, kata dia, dilihat lebih komprehensif, mulai dari konten, interaksi, integritas, dan aspek lainnya.

“Ini harus dicermati juga. Jangan sampai pengguna influencer tertipu,” ujar Hariqo.

Hariqo menuturkan, di masa depan, influencer memang berpotensi mengalahkan iklan konvensional. Namun, kepercayaan harus dibangun. Dia menyarankan, ada perjanjian yang jelas di atas materai.

“Kepercayaan ada selama ada kejujuran kan? Sekali dia bohong, ya pihak yg menggunakannya sebaiknya mengumumkan,” tuturnya.