close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.
icon caption
Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.
Bisnis
Kamis, 28 Juli 2022 16:23

Mengawal pertumbuhan generasi alpha di era gadget dan internet

Pola asuh generasi alpha berbeda dengan generasi sebelumnya terutama dalam hal paparan digital.
swipe

Tidak ada konsep baku yang menjadi pedoman Hilda (42) dan sang suami dalam mengasuh kedua buah hati mereka. Mengalir saja, begitulah cara ia menjaga dan merawat anak-anaknya yang masih berusia sekolah dasar.

Meski demikian, bukan berarti Hilda tidak menyelesaikan segala hambatan pengasuhan dewasa ini termasuk dalam hal pemakaian gadget. “Pesona gadget enggak pernah luntur yah, mengalahkan segalanya,” sebut warga Tangerang Selatan ini saat berbincang dengan Alinea.id, Rabu (27/7).

Sebagai ibu rumah tangga, ia mengakui sangat sulit ‘menyaring’ tontonan anak-anak via gadget. Apalagi, ia dan suami juga memiliki kesibukan sehingga tidak bisa mendampingi anak-anak setiap saat, terutama saat ber-gadget.

“Penginnya kami benar-benar terlibat ikut menonton atau ikut bermain dengan anak pada saat pakai gadget, supaya nantinya akan ada diskusi sama anak, namun kenyataannya saya belum bisa kaya gitu. Jarang banget lah,” bebernya.

Untuk itu, Hilda pun menyiasatinya dengan memberi anak-anak kegiatan positif yakni mengaji dan berenang setelah pulang sekolah. “Harapannya bisa mengalihkan perhatian mereka dari gadget,” cetusnya.

Adapun Renita (36) dan suaminya, mengaku strict dengan jadwal anak screen time. Kedua anaknya, paling tidak hanya boleh menatap layar gadget baik tablet, handphone dan lainnya maksimal 3 jam per hari.

“Jam main laptop dan HP (ponsel) setiap hari ada maksimalnya. Aku sama suami cenderung orang tua yang keras,” ujarnya kepada Alinea.id, Rabu (27/7).

Dengan pola asuh yang cenderung otoriter, Rere–demikian ia karib disapa– akan meminta anak-anaknya yang juga berusia SD untuk berhenti kala sudah melewati batasan waktu. “Ya kadang lewat dikit lah. Kalau weekend waktunya ditambah jadi 4,5 jam sehari,” ungkap mantan pramugari ini.

Tak lupa, Rere dan sang suami juga mengakomodir keinginan anak untuk berkembang di ranah digital. Misalnya dengan belajar coding atau bahasa pemrograman. “Coding itu kan untuk melatih cara berpikir. Jadi boleh saja kalau mau belajar coding,” sebutnya.

Dokumentasi Tokopedia.

Sisanya, kata dia, anak-anak juga mendapatkan tambahan les misalnya berenang maupun bulu tangkis. Selain itu, ia juga senantiasa menyediakan penganan bernutrisi demi menunjang pertumbuhan anak laki-laki dan perempuannya.

“Aku menghindari minuman yang manis. Buat anak-anak jarang sih minum minuman kemasan gitu. Karena anak-anak aku suka roti seperti bolu gitu,” bebernya.

Tantangan pengasuhan

Di era digital ini, tantangan pengasuhan bagi para orang tua milenial memang sangat berbeda dibanding generasi orang tua baby boomers. Pola asuh juga berkembang seiring perkembangan zaman.

“Dulu (pola asuh) otoriter, semua harus ikut kata orang tua. Kalau sekarang cenderung neglect atau terserah anaknya,” kata Dokter Anak, Citra Amelinda, dalam virtual media gathering Hari Anak Nasional, Tokopedia Gandeng Dokter Anak Bagikan Tips Tingkatkan Kualitas Pola Asuh Anak, Jumat (22/7).

Pola asuh neglect atau membiarkan tersebut, kata Citra, tak lepas dari keadaan orang tua yang bekerja sehingga cenderung merasa bersalah pada anaknya. Maka dari itu, mereka akan melakukan apapun agar anaknya nyaman dan bahagia.

“Akhirnya lebih nurut sama anak seperti memanjakan, makanya cari jalan tengahnya,” tambah dia.

Citra justru menyarankan pola asuh responsif sebagai jalan tengah yakni orang tua tetap punya pegangan agar tidak selalu menuruti permintaan anak tapi juga tidak otoriter. Pasalnya, anak-anak zaman sekarang merupakan generasi alpha atau generasi Z yang tumbuh di era perkembangan internet sangat pesat.

“Mereka adalah anak-anak yang sangat melek teknologi,” sebut dia.

Karena itu, dia menekankan agar orang tua memberikan penjelasan, pengetahuan, dan menerapkan batasan screen time. Tujuannya, agar anak-anak bisa menyaring segala informasi yang beredar di internet.

Dokumentasi Tokopedia.

“Mau enggak mau anak terpapar lebih dari kita, bentengi anak dengan sex education misalnya beritahukan ada private part yang tertutup pakaian dalam. Itu tidak boleh dilihat orang dan sebaliknya anak-anak juga tidak boleh melihat punya orang lain,” paparnya.

Kedua, tambah dia, sadari bahwa anak-anak juga punya batasan dengan diri dan fisik mereka. “Kita harus respect kalau mereka enggak nyaman disentuh orang lain,” sebutnya.

Menurutnya, jika orang tua cenderung tidak menghargai anak, maka mereka bisa berkembang tidak sesuai potensinya. Apalagi jika penerapan pola asuh otoriter masih diterapkan. “Anak justru akan sungkan dan enggak berani cerita,” ujarnya yang juga konsultan menyusui dan penulis buku parenting ini. 

Sesuai tahapan, papar Citra, anak di enam bulan pertamanya akan merasa sebagai satu kesatuan dengan orang tua sehingga cenderung ‘nempel’ terus terutama dengan sang ibu. kemudian di usia setahun anak mulai memiliki kemauan dan bisa mengungkapkannya dengan bahasa verbal. Kemudian di atas 3 tahun, anak mulai lancar berbicara dan menunjukkan minat atau kesukaannya.

“Di generasi alpha paparan gadget banyak, sehingga anak kurang connect dengan (perasaan) dirinya, ini perlu diajarin mana perasaan enggak nyaman, cemburu, dan lain-lain. Orang tua harus ngeh sama perasaan anak agar anak juga sadar sama perasaannya,” bebernya.

Kiat mengasuh anak 

Citra juga memberikan tips seputar pola asuh. Pertama, terlibat dalam kegiatan anak, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan anak yang dimulai dari janin. Selain memberi asupan makanan bernutrisi, orang tua juga perlu melimpahkan kasih sayang untuk menumbuhkan rasa aman bagi anak. Di masa ini, perkembangan organ dan panca-indera anak sangat pesat.

“Begitu anak lahir kita berikan stimulasi yang sesuai tumbuh kembangnya,” ungkap dokter anak yang berpraktik di RS Murni Teguh Sudirman Jakarta dan Primaya Hospital, Bekasi Timur itu.

Kedua, dia menekankan pentingnya komunikasi orang tua pada anak meski si kecil belum bisa berbicara. Bahkan sejak dalam kandungan untuk memberikan kecerdasan mental sejak dini.

“Kemampuan bahasa enggak hanya bicara tapi dia paham dan mendengar. Oleh karena itu penting ajak omong dari kecil,” kata dia. 

Dia menyarankan agar orang tua responsif atau segera bereaksi ketika anak menyampaikan bahasa komunikasinya. “Menangis juga sudah komunikasi, lihat apa yang anak suka, berikan sesuai yang anak butuhkan,” ungkap dia.

Ketiga, terapkan disiplin sejak dini. Caranya dengan menerapkan jadwal rutin untuk makan, tidur, dan bermain. Pasalnya, pada bayi kebutuhan tidur sangat besar untuk perkembangan otak. Sementara makan menjadi aktivitas yang menunjang pertumbuhan. Karena itu, terakhir tips yang penting adalah pemberian nutrisi terbaik yakni protein nabati dan hewani, karbohidrat, dan serat.

Kebutuhan nutrisi ini berbeda di setiap tahap usia. Di mana pada bayi di bawah tiga tahun, protein hewani sangat penting menunjang pertumbuhan. Beda halnya dengan orang dewasa yang lebih membutuhkan buah dan sayur.

“Jadi kalau ada satu potong ayam di rumah yang perlu makan adalah batitanya, karena orang tua hanya butuh sayur,” selorohnya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan para orang tua milenial dalam memenuhi nutrisi anak adalah membeli makanan siap saji ketika orang tua tidak sempat memasak. Hal ini menjadi inspirasi bagi Steven Hadi Gunawan pada awal masa pandemi lalu.

Ia bersama keluarga melihat peluang tingginya keinginan para orang tua memberikan nutrisi terbaik namun kesulitan memasak. Usaha kecil bernama Resep Roemah pun lahir pada Agustus 2020 lalu.

Resep Roemah, papar Steven,menyediakan setidaknya 80 menu mulai dari lauk pauk, kudapan, bumbu instan, side dish, hingga menu family. “Semua kami buat natural dan tidak menggunakan bahan pengawet ataupun penguat rasa. Bahan-bahan yang kami gunakan juga halal dan fresh. Semua menu makanan menyesuaikan kebutuhan anak mulai anak 1 sampai 10 tahun, karena idealnya anak makan cukup banyak 3-4 kali sehari,” tambahnya.

Meski usaha makanan frozen tersebut belum genap dua tahun, Steven mengaku mengalami pertumbuhan penjualan karena memiliki lapak online di marketplace Tokopedia. Hal ini tak lepas dari testimoni positif dari pelanggan yang menjadi bukti kepercayaan pada produk makanan sehat ini.

“Selama semester I-2022, kenaikan transaksi hampir 3 kali lipat dibanding semester II-2021. Sebesar 60% kontribusi disumbang dari penjualan di Tokopedia,” ungkapnya. 

Menurutnya, ia selalu mengikuti setiap event yang digelar Tokopedia, misalnya pada saat Ramadan lalu, Resep Roemah mengalami peningkatan penjualan tiga kali lipat berkat kampanye-kampanye di e-commerce besutan William Tanuwijaya itu.

Pascaramadan, penjualan tetap stabil dan bahkan cenderung naik. Selain adanya customer loyal, ada pula penambahan pelanggan-pelanggan baru. Bahkan, ia menghitung ada sekitar 50 pengiriman paket sehari. Dengan setiap transaksi minimal terdiri dari tiga menu sehingga total paket menu yang terjual setiap hari setidaknya 150 paket sehari.

“Kiat kami mempertahankan pelanggan dengan menambah menu baru,” ujarnya.

Menurutnya, bisnis yang ia bangun relatif mudah karena resep berasal dari keluarga sehingga ia tidak membutuhkan waktu untuk berinovasi. Adalah sang ibunda yang berada di balik menu-menu Resep Roemah yang mengantongi resep keluarga turun temurun.

“Ibu kami sekarang sudah kewalahan, juga karena terbatasnya ruang dapur dengan peralatan masak seadanya,” bebernya. 

Ke depan, Steven pun menghadapi tantangan dengan terus menambah juru masak dan investasi peralatan masak. Ia kini sudah memiliki dapur memasak dengan mengontrak rumah dan merekrut beberapa juru masak. Steven juga membuka cabang di Surabaya yang juga memiliki jumlah pesanan luar biasa yakni sekitar 200 menu sehari.

“Menu yang paling banyak dibeli kategori sup atau berkuah, rawon, sop,” sebut dia.

Menu Rawon milik Resep Roemah. Dokumentasi.

Tantangan lainnya adalah pengiriman karena makanan tidak berpengawet. Bagi pengiriman dalam kota, Steven menyediakan pengiriman same day maupun instan yang sampai di hari yang sama. Sementara untuk pengiriman luar kota, ia meminta pelanggan menambah penggunaan styrofoam agar makanan awet.

“Pengiriman paling jauh sampai ke Indonesia Timur di Makassar banyak sekali di sana, NTB, tambahnya.

Ekosistem untuk orang tua

Lebih lanjut, Tokopedia mencatat kategori ibu dan anak menjadi salah satu yang paling populer sepanjang semester I-2022 terutama setelah pandemi. Head of Category Development Tokopedia Ramadhan Niendraputra menilai hal ini karena orang tua mulai terbiasa mencari kebutuhan anak-anak secara online

“Banyak keuntungan buat semua, dari sisi penjual akses lebih besar, seluruh orang Indonesia, terus pembeli bisa akses ke banyak toko dengan cepat,” ungkapnya dalam kesempatan yang sama.

Produk paling laris

Kategori Jenis
Fesyen tas ransel, kaus, dress anak
Kebutuhan ibu hamil dan menyusui  Asi booster, dress dan terusan ibu hamil, susu ibu hamil
Mainan anak Mainan montessori, plastisin lilin, mainan peralatan masak

Ramadhan menilai yang paling menarik adalah jumlah pembeli di Tokopedia mencakup wilayah dari Sabang sampai Merauke. Terutama di tier-tier 2 dan 3 dengan pertumbuhan penjualan signifikan seperti kabupaten/kota Demak, Jepara, Pare-pare. “Ini untuk peningkatan jumlah pembeli paling tinggi untuk kategori ibu dan anak,” tambahnya. 

Tokopedia sendiri, lanjutnya, telah merilis Tokopedia Parents yang tidak hanya sebagai platform jual-beli kebutuhan ibu dan anak tetapi juga ada beragam kampanye, edukasi, dan kolaborasi dengan psikolog maupun dokter anak.

Tokopedia Parents juga menjadi komunitas parenting atau wadah untuk para orang tua. Di saat yang sama, Tokopedia juga ingin memberikan panggung lebih luas pada para pengusaha lokal usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum terekspos penjualan daring. Dia juga menyatakan pertumbuhan penjualan di luar Pulau Jawa semakin banyak sehingga harapannya sejalan dengan tujuan pemerataan ekonomi di Indonesia.

“Ini satu napas, arah dengan semangat Tokopedia terkait hyperlocal,” sebut bapak dua anak ini.

Dia memaparkan dampak adanya Tokopedia Parent di semester I-2022 adalah ada beberapa wilayah yang cukup menarik kenaikan jumlah penjual paling tinggi. 

Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.
 

img
Kartika Runiasari
Reporter
img
Kartika Runiasari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan