sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menggulung peluang gurih dari usaha spageti panggang

Bruule sukses menjual 300 loyang spageti tiap harinya melalui penjualan online selama masa pandemi.

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Kamis, 17 Sep 2020 15:20 WIB
Menggulung peluang gurih dari usaha spageti panggang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 278722
Dirawat 61379
Meninggal 10473
Sembuh 206870

Bisnis kuliner menjadi salah satu pilihan bagi banyak orang yang terjun berwirausaha. Selama orang butuh makan, bisnis ini senantiasa menjadi mesin uang bagi para pelakunya. Tidaklah mengherankan, usaha kuliner tumbuh subur di Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, Covid-19 yang terdeteksi ada di Indonesia sejak awal Maret silam memukul banyak pengusaha kuliner. Mereka mengalami penurunan pendapatan akibat adanya pembatasan operasional maupun menurunnya daya beli masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat subsektor akomodasi makan dan minum (kuliner) minus 16,81% pada kuartal II-2020 akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Meskipun begitu, sejumlah pengusaha kuliner masih mampu bertahan dan mencetak laba melalui penjualan daring dan layanan pesan antar.

Salah satu yang meneguk untung di tengah kondisi pandemi adalah pasangan suami-istri Reza Harisky (33) dan Sarila Mauriza Danubrata (31). Pasangan ini menjual panganan khas Italia, spageti sejak Maret tahun ini. Uniknya, spageti ini tak dihidangkan dengan saus bolognese seperti resep kebanyakan.
 
Makanan pasta yang hadir dengan merek “Bruule” itu memiliki ciri khas dipanggang dengan saus béchamel di atasnya. Saus putih nan gurih tersebut membuat hidangan spageti terasa lebih spesial.

Meskipun berisiko lantaran memulai bisnis saat pagebluk, namun pasangan ini tetap berani terjun ke dalam bisnis kuliner demi bertahan hidup. Reza menceritakan keluarga besarnya sudah lama membagi-bagikan spageti homemade-nya kepada teman, kerabat, dan sesama anggota keluarga besar secara cuma-cuma sebagai bingkisan atau hampers.

Seringkali, spageti racikan keluarganya mendapat pujian dari orang-orang sekitar karena kelezatannya. Mulai dari situlah banyak yang meminta agar spageti resep keluarga itu dijual.
 
“Ada dorongan juga, kenapa enggak kami jual? Tahun lalu kami mau jualan, tapi saat itu belum menjadi prioritas. Memasuki bulan Maret (pandemi), tidak semua orang beruntung, akhirnya kami mulai usaha dengan niat survive (bertahan hidup) dan melihat lingkungan sekitar kami juga terdampak Covid-19. Akhirnya kami buat ini bareng-bareng,” tutur Reza kepada Alinea.id melalui sambungan telekonferensi.
 
Usaha itu sempat tak berjalan mulus karena keterbatasan modal saat awal berdiri. Tak patah arang, mereka lalu memutuskan memproduksi sendiri spageti dari rumah di Jakarta Selatan guna menekan biaya. Minimnya modal juga disiasati dengan menawarkan pemesanan terlebih dahulu (pre order) kepada konsumen, yakni tiga hari sebelum pengiriman.
 
Menurut Sarila, produk spageti yang mereka jajakan merupakan modifikasi dari resep asli sang bude yang bergaya Barat. Agar sesuai dengan lidah orang Indonesia, Reza dan Sarila menambah cita rasa manis dan pedas pada spageti ala Bruule. Alih-alih memanfaatkan saus sambal, Bruule menggunakan cabai untuk menjaga cita rasa spageti.
Lihat postingan ini di Instagram

#FOREVERTHANKFUL⁣ ⁣ Mungkin banyak teman-teman yang bertanya, kenapa Bruule sering menggunakan kalimat ini? Karena memang itulah yang kami rasakan...⁣ ⁣ Kami sangat bersyukur atas anugerah yang telah diberikan kepada kami. Kami sangat bersyukur atas dukungan teman-teman yang sudah mempercayakan kami untuk memberikan pelayanan, sampai mau membeli dan ikut mencoba produk kami. Kami juga sangat bersyukur karena banyak pihak yang bisa merasakan manfaat dan keberkahan dari mulai berjalannya Bruule sampai sekarang.⁣ ⁣ We’re forever thankful for all the love and support that has been given to us. Semoga kami bisa terus memberikan produk dan pelayanan yang terbaik kepada teman-teman ????⁣ ⁣ Spaghetti Bruule:⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ???? Large size (20x20cm) Rp 250,000⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ???? Medium size (20x10cm) Rp 150,000⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Pilihan varian:⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ✔️ Normal (daging + jamur)⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ✔️ Vegetarian (jamur)⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣ Order via:⁣ ???? WhatsApp - 081294888839⁣ ???? Tokopedia - www.tokopedia.com/bruule (hanya berlaku untuk area Jakarta dan sekitarnya)⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣ #foreverthankful #bruule

Sebuah kiriman dibagikan oleh bruule (@bruule_) pada

 
“Memang di pandemi ada ketakutan kalau produk tidak laku. Sekarang orang sulit untuk makan di luar, namun karena kami merupakan makanan delivery (pesan antar),  Insya Allah ada yang beli lah,” ujarnya.

Selama tujuh bulan pandemi di Indonesia, bisnis kuliner Bruule berkembang pesat. Kini Bruule telah mempekerjakan 47 orang yang terdiri dari 35 orang pegawai dapur dan 12 agen pemasaran yang tersebar di berbagai kota, yakni Bogor, Bekasi, dan Bandung, Jawa Barat. Kemudian, Tangerang, Banten; Surabaya, Jawa Timur; serta Lampung.
 
Di wilayah-wilayah tersebut, para pelanggannya sudah bisa melakukan pre order melalui pemesanan daring.

Untung berkat penjualan daring
 
Sejak awal, pasangan suami-istri tersebut mengandalkan penjualan daring karena tidak memiliki toko secara fisik. Pada minggu-minggu pertama, Bruule memasarkan produknya hanya melalui media sosial.
 
“Awalnya kami benar-benar berbisnis dari rumah, masak di rumah, dan sistem pre order. First delivery pada 28 Maret. Saat itu, total loyang per minggu 12. Semuanya full pemesanan melalui media sosial,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, usaha mereka terus berkembang hingga mampu menjual 300 loyang spageti berukuran sedang dan besar tiap harinya. Bila dirupiahkan, omzet mereka dapat mencapai Rp45 juta – Rp75 juta tiap harinya.
 
Lonjakan omzet ini terjadi setelah Bruule merambah lini penjualan via marketplace atau e-commerce, yaitu Tokopedia. Menurut Sarila, marketplace memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan media sosial semata.

“Kami join Tokopedia ketika bulan Juli dan permintaan market lumayan besar,” ujar Sarila.
 
Menurut Sarila, pemasaran melalui Tokopedia semakin mempermudah dalam melayani pelanggan. Jika sebelumnya Bruule kewalahan lantaran harus menjawab ratusan pemesanan pelanggan melalui aplikasi pesan singkat, kini terbantu karena pesanan langsung masuk lewat platform. 

“Dengan adanya Tokopedia, pekerjaan terbantu sekali karena lebih mudah. Pelanggan enggak perlu melakukan chat via aplikasi pesan singkat kepada admin terlebih dahulu untuk bertanya apakah produknya available (tersedia) atau enggak,” ujar Sarila.

Reza menambahkan, pemasaran melalui marketplace mampu mendongkrak pesanan yang diterima. Ia mencatat dari pesanan 300 loyang sehari, sekitar 40% hingga 50% di antaranya dijual melalui Tokopedia. Pengiriman dilakukan dari dapur produksi rumah mereka di Pancoran, Jakarta Selatan.

“Kami melihat ada diskusi antara seller dengan tim Tokopedia, pengembangan usaha bareng-bareng, kolaborasi, dan itu sesuai dengan yang kami harapkan, layaknya mitra,” katanya.

Bruule semakin mengembangkan usahanya. Tak hanya melayani pre order, bisnis yang baru berumur satu semester itu juga menjalin kerja sama dengan sejumlah kedai kopi di Jakarta untuk menjual produk-produknya, yakni Tujuhari Coffee, 7 Dials Coffee, Publichood Coffee & Roastery, dan Masalalu Café. Kerja sama penjualan dilakukan melalui sistem konsinyasi atau jual titip.

“Kami mau teman-teman di luar sana yang mau coba Bruulee, kangen Bruulee, atau pairing (memasangkan) makan spageti dengan kopi, bisa mudah mendapatkannya karena banyak pesanan yang masuk ke kami ingin produk ready stock, karena itu kami sediakan di coffee shop (kedai kopi),” jelasnya. 
 
Menggandeng influencer
 
Melalui media sosial yang dikelolanya, Bruule melibatkan sejumlah influencer dan selebritas untuk mempromosikan produk-produk mereka. Beberapa influencer yang pernah dan sedang digandeng adalah Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Tarra Budiman, Gya Sadiqah, Febrian Nindyo (HIVI!), Komeng, dan lainnya.

“Bruule itu awal banget kami kasih ke teman-teman dulu, dengan harapan kalau enak minta bantu untuk post. Kalau misalnya enggak enak, enggak usah post. Alhamdulillah, meski banyak influencer, tapi Bruulee tidak mengeluarkan biaya sama sekali, kecuali untuk produk. Kami kirim ke orang untuk minta feedback apa kurangnya. Alhamdulillah, secara sukarela banyak yang willing to post (bersedia berbagi) untuk mengunggah Bruulee,” beber Sarila.

Produk tersebut juga dapat dikenal oleh para influencer melalui promosi mulut ke mulut yang telah dilakukan sejak awal berdiri. Ia berpendapat kepuasan konsumen adalah strategi jitu untuk menggenjot penjualan sekaligus menjaga loyalitas konsumen. Menurut Sarila, Bruule hanya akan booming di awal bila mutu produk dan pelayanan tidak mampu memuaskan pelanggan.

Tak hanya promosi, Bruule juga selangkah lebih maju melalui kolaborasi dengan Nagita Slavina. Kerja sama dengan istri Raffi Ahmad itu menghasilkan produk baru, yakni Bruule Bomb Mama Gigi. Produk ini baru melayani pengiriman pertamanya pada 11 September secara eksklusif melalui Tokopedia.
 
Bruule Bomb Mama Gigi sendiri adalah bola-bola daging yang dibalur dengan keju khas Bruule. Berbeda dengan spageti, bola-bola ini dijual dalam bentuk beku (frozen) yang sudah siap goreng.

“Nagita Slavina itu salah satu pelanggan Bruulee yang paling setia kali ya. Ibaratnya setiap buka pre order, Mbak Gigi salah satu yang selalu beli. Alhamdulillah di tim Bruule ada yang kenal dengan Mbak Gigi. Tiba-tiba, mungkin karena senang produknya, Mbak Gigi bilang, buat sesuatu yang baru dong. Kami senang-senang saja diajak begitu. Kami coba develop produk dan akhirnya keluar Bomb Mama Gigi ini,” ungkap Sarila.

Pasar luar Jakarta
 
Ke depan, Reza mengungkapkan akan fokus mengembangkan pemasaran ke luar Jakarta melalui pembukaan titik penjualan (drop point baru). Bersamaan dengan itu, Bruule juga akan menambah dapur produksi baru bila memungkinkan.
 
Untuk saat ini, rumah produksi di Jakarta masih mampu mengirim paket ke kota-kota yang dapat terjangkau ditopang oleh kemudahaan akses transportasi.

“Harapannya reach-nya (jangkauan) lebih besar. Jujur banyak yang tanya kapan buka di area sini? Itu jadi PR (pekerjaan rumah) kami agar segera dieksekusi,” kata Reza.
 
Bruule juga sudah memiliki rencana untuk membangun kolaborasi dan meluncurkan produk baru. Harapannya, langkah ini mampu mengejar perkembangan industri makanan dan minuman yang berlangsung cepat.
 
“Yang penting bukan produk baru atau enggak, tapi kami berharap setiap produk sesuai dengan standar kami, kualitasnya baik, dan orang pun nyaman menikmati karya kami,” tutur Reza.
 
Sementara itu, Sarila berharap usaha mereka dapat memberi manfaat dan dampak positif bagi banyak orang. Hal tersebut menjadi motivasi bersama untuk mengembangkan bisnis yang selama ini telah berjalan.
 
“Kami percaya banget dengan konsep kolaborasi kayak dengan coffee shop, jadi win-win semuanya. Kami ingin punya kolaborasi yang lebih banyak dengan berbagai kalangan, termasuk dengan Tokopedia,” tutur Reza.
 
 

 

Sponsored
Berita Lainnya