sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Meski pendapatan naik, TINS cetak rugi

Pertumbuhan laba bersih Timah yang tak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan dikarenakan oleh tekanan di pos beban pokok pendapatan.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Sabtu, 02 Nov 2019 09:30 WIB
Meski pendapatan naik, TINS cetak rugi

PT Timah Tbk. (TINS) mencetak kerugian bersih hingga Rp175,78 miliar pada kuartal III-2019. Pada periode yang sama tahun lalu, Timah mencetak laba bersih Rp255,54 miliar.

Padahal, pendapatan emiten berkode TINS ini mengalami kenaikan hingga 114,64% pada kuartal III-2019, menjadi Rp14,59 triliun, dari Rp6,80 triliun secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pertumbuhan laba bersih Timah yang tak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan dikarenakan oleh tekanan di pos beban pokok pendapatan, terutama di segmen biaya bahan baku bijih timah.

Tercatat, beban pokok pendapatan Timah meroket pada kuartal III-2019 sebanyak 136,63% menjadi Rp13,53 triliun, dari Rp5,71 triliun secara yoy. Pos beban biaya bahan baku bijih timah yang tercatat hanya sebesar Rp3,74 triliun pada kuartal III-2018, naik tajam 209,21% menjadi Rp11,59 triliun pada kuartal III-2019.

Melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (1/11), Direktur Utama TINS M. RIza Pahlevi Tabrani mengatakan secara keseluruhan, kombinasi dari pelemahan harga logam timah, beban produksi dan beban bunga mempengaruhi kinerja keuangan perseroan selama periode sembilan bulan 2019.

“Koreksi harga logam timah dunia merupakan tantangan utama sekaligus kesempatan yang harus segera direspon dengan menciptakan keunggulan operasional untuk memperbaiki profitabilitas dan memperkuat fundamental perseroan di tengah kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian,” kata Riza.

Untuk diketahui, harga rata‐rata logam timah di London Metal Exchange (LME) pada kuartal III-2019 mencapai $17.165/metrik ton, atau sekitar 13% lebih rendah dari harga rata‐rata Kuartal II-2019 yang tercatat di LME sebesar $19.770/metrik ton dan sekitar 11% lebih rendah harga rata‐rata kuartal III-2018 di LME sebesar $19.327/metrik ton.

Merespons dinamika pasar timah dunia, Riza mengatakan TINS mengambil komitmen untuk secara bertahap mengurangi pasokan ekspor logam timah dunia.

Sponsored

Penurunan secara bertahap mulai tercermin di dalam volume penjualan logam timah di kuartal III-2019 yang mencapai 18.717 metrik ton dibandingkan 19.056 metrik ton di Kuartal II 2019.

Kemudian, secara bulanan, volume penjualan logam timah TINS menunjukkan penurunan dari 6.425 Metrik Ton per Agustus 2019 ke 6.154 Metrik Ton per September 2019.

“Penurunan volume ekspor secara konsisten ini merupakan salah satu jawaban perseroan pada dinamika harga timah dunia yang tidak memberikan keuntungan optimal pada produsen yang harus menghadapi resiko operasional pertambangan,” tutur Riza.