logo alinea.id logo alinea.id

OJK pastikan likuiditas keuangan Februari 2019 terjaga

OJK) menyatakan stabilitas dan likuiditas sektor jasa keuangan dalam kondisi terjaga sepanjang Februari 2019.

Soraya Novika
Soraya Novika Kamis, 28 Mar 2019 20:33 WIB
OJK pastikan likuiditas keuangan Februari 2019 terjaga

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan stabilitas dan likuiditas sektor jasa keuangan dalam kondisi terjaga sepanjang Februari 2019.

Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan OJK Yohanes Santoso Wibowo mengatakan kondisi ini didorong sentimen global. 

“Terutama perlambatan perekonomian global yang diikuti kebijakan moneter negara-negara utama yang lebih longgar (dovish),” ujar Yohanes di Gedung OJK, Jakarta, Kamis (28/3).

Negara-negara utama yang dimaksud adalah Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan China.  Indikator perekonomian negara tersebut cenderung berada di bawah ekspektasi dan mendorong penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2019.

Perkembangan tersebut kemudian mendorong The Fed memutuskan untuk tidak menaikkan federal funds rate (FFR) di tahun ini dan menghentikan program normalisasi neraca mulai September 2019. 

Menurut Yohanes, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan meneruskan tren perbaikan pada Februari 2019. Pertumbuhan kredit perbankan melanjutkan tren peningkatan dan pada Februari tercatat tumbuh sebesar 12,13% year on year (yoy). Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 4,61% yoy.

"Pertumbuhan kredit atau pembiayaan didorong oleh tingginya pertumbuhan kredit atau pembiayaan untuk kegiatan investasi dan modal kerja, memberikan harapan peningkatan aktivitas ekonomi ke depan," katanya.

Dari sisi penghimpunan dana, DPK perbankan tumbuh sebesar 6,57% yoy. Sementara itu, asuransi jiwa dan asuransi umum atau reasuransi berhasil menghimpun premi masing-masing sebesar Rp15,4 triliun dan Rp8,5 triliun pada Februari 2019.

Sponsored

Di pasar modal, korporasi berhasil menghimpun dana Rp13,4 triliun di sepanjang Februari 2019 dengan jumlah emiten baru sebanyak dua perusahaan. Dana kelolaan investasi tercatat sebesar Rp767triliun, meningkat 5,68% dibandingkan posisi yang sama pada 2018.

Pertumbuhan intermediasi juga didukung likuiditas perbankan yang memadai, tercermin dari liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid (non-core) deposit masing-masing sebesar 218,45% dan 107,25%. 

Jumlah total aset likuid perbankan yang mencapai sebesar Rp1.162 triliun pada akhir Februari  2019, dinilai berada pada level yang memadai untuk mendukung pertumbuhan kredit ke depan.

Perbaikan kinerja intermediasi tersebut disertai dengan terjaganya profil risiko lembaga jasa keuangan. Rasio non-performing loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,59% (NPL net: 1,17%). 

Sementara itu, rasio non-performing financing (NPF) perusahaan pembiayaan stabil pada level 2,70%. Risiko pasar perbankan juga berada pada level yang rendah dengan rasio posisi devisa neto (PDN) perbankan sebesar 1,92%, di bawah ambang batas ketentuan.

Pertumbuhan intermediasi juga didukung likuiditas perbankan yang memadai, tercermin dari liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar  218,45% dan 107,25%. 

Jumlah total aset likuid perbankan yang mencapai sebesar Rp1.162 triliun pada akhir Februari  2019, dinilai berada pada level yang memadai untuk mendukung pertumbuhan kredit ke depan.

Selain itu, pertumbuhan industri jasa keuangan juga didukung oleh permodalan yang kuat. Capital Adequacy Ratio perbankan meningkat menjadi sebesar 23,86% pada Februari 2019. Sementara itu, Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 316% dan 442%, jauh diatas ambang batas ketentuan.

"Ke depan, OJK akan terus memantau pengaruh dovish-nya kebijakan moneter negara-negara utama serta perkembangan perundingan dagang AS-China dan kesepakatan Brexit terhadap stabilitas sistem keuangan serta kondisi likuiditas di pasar domestic,” kata dia.