close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Alinea.id/Firgie Saputra.
icon caption
Ilustrasi Alinea.id/Firgie Saputra.
Bisnis
Kamis, 31 Maret 2022 06:35

Peluang startup grocery di era pascapandemi

Aplikasi belanja bahan pangan (groceries) akan tumbuh menjamur sehingga persaingan akan semakin ketat.
swipe

Kehadiran AlloFresh sebagai pemain baru electronic-grocery (e-grocery), semakin meramaikan dunia startup grocery di Indonesia. Dengan dukungan PT Trans Ritel Indonesia, PT Bukalapak.com Tbk dan Growtheum Capital, AlloFresh pede dapat segera menyusul para pemain e-grocery lainnya. Bahkan dapat menjadi pemimpin di sektor tersebut. 

Startup grocery atau toko bahan pangan sendiri merupakan perusahaan rintisan yang memberikan layanan bagi pengguna untuk memesan kebutuhan sehari-hari, seperti sayuran dan bahan makanan lainnya lewat aplikasi. Biasanya, startup grocery berbentuk on-demand atau quick commerce. Pesanan bisa diantar dalam waktu singkat langsung ke konsumen.

Keunggulan e-grocery ini makin diminati kala pandemi. Demi menghindari tertularnya virus Covid-19, banyak orang yang sebelumnya berbelanja bahan makanan langsung ke pasar atau toko ritel, beralih menggunakan aplikasi penyedia layanan grocery. 

Ika misalnya, yang setelah pandemi mulai memanfaatkan layanan HalloFresh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mulai dari sayuran, buah, hingga ikan atau daging segar. 

Menurutnya, jika dibandingkan dengan pasar tradisional, harga bahan makanan yang dijual di aplikasi-aplikasi e-grocery memang terbilang lebih tinggi. Namun, dengan berkurangnya risiko terpapar virus Covid-19, harga bahan makanan yang lebih tinggi cukup sepadan.

“Karena kan kalau nekat belanja ke pasar, kalau nanti terpapar virus, sama aja jadinya. Atau malah bisa lebih mahal perawatannya. Jadi mending beralih ke belanja online,” katanya, saat berbincang dengan Alinea.id, Senin (28/3).

E-grocery juga menjadi pilihan perempuan 25 tahun ini karena kepraktisannya. Apalagi, dengan menggunakan aplikasi e-grocery, dia bisa mengatur waktu pengiriman barang pesanannya. Ika bercerita, biasanya pemesanan dilakukannya pada sore hari dan kemudian mengatur pengiriman bahan makanan untuk keesokan paginya. 

“Nah ini biasanya sampai pagi banget, sekitar pukul 08.00 atau paling telat 08.30. Dengan kondisi barang yang masih segar,” imbuh perempuan yang bekerja sebagai pegawai bank swasta di Jakarta Timur itu. 

Ilustrasi berbelanja groceries secara langsung. Unsplash.com.

Berbeda dengan Ika yang telah menggunakan layanan e-grocery sejak awal pagebluk, Maria (27) pertama kali mengunduh dan menggunakan aplikasi online tersebut pada pertengahan tahun lalu. Saat itu, dia, kedua orang tua dan dua adiknya kompak tertular virus SARS-CoV-2.
 
Penulis konten di salah satu perusahaan rintisan di Jakarta ini harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan makanan keluarganya selama menjalani isolasi mandiri. “Aku download beberapa aplikasi kayak HalloFresh sama PasarNow,” kisahnya, kepada Alinea.id, Selasa (29/3).

Awalnya, Maria tidak berekspektasi banyak saat menggunakan layanan belanja online itu, terutama terkait waktu pengiriman dan kondisi barang pesanan. Namun ternyata ia mendapati pengiriman kilat hanya 1-2 jam. 

"Kualitas barangnya kadang malah lebih bagus dari yang ada di pasar tradisional,” ujarnya. 

Masih rendah

Pascapandemi, sektor online grocery memang telah mengalami pertumbuhan pesat. Berdasarkan Laporan E-conomy SEA 2021, sektor online grocery pada 2021 mengalami pertumbuhan pengguna hingga 64%. Selain itu, pengeluaran untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari secara digital juga ikut mengalami peningkatan mencapai 60% dari tahun sebelumnya. 

Sayangnya, kontribusi e-grocery pada penjualan ritel nasional terbilang masih kecil yakni sebesar 10% saja. Namun, pertumbuhan ini terbilang signifikan jika dibandingkan beberapa tahun lalu yang kontribusinya hanya 2%-4%.
 
Peneliti Ekonomi Digital Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai, sedikitnya sumbangan tersebut terjadi karena penetrasi e-grocery yang masih terbatas di kota-kota besar saja seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). 

“Padahal potensinya masih sangat besar, karena pengguna internet dan juga generasi muda yang adaptif di Indonesia juga sangat banyak,” katanya, kepada Alinea.id, Senin (28/3). 

Berdasarkan Laporan We Are Social, pada Januari 2022 saja, ada sekitar 204,7 juta pengguna internet di tanah air. Naik 1,03% dibandingkan Januari tahun sebelumnya, yang sebanyak 202,6 juta pengguna. 

Tren jumlah pengguna internet ini terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Jika dibandingkan tahun 2018, jumlah pengguna internet nasional sudah melonjak sebanyak 54,25%. Sementara itu, berdasarkan hasil survey penduduk 2020, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun), ada sebanyak 136,66 juta jiwa. 

Belum lagi, rata-rata pengeluaran masyarakat untuk konsumsi juga cenderung mengalami lonjakan tiap tahunnya. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2021, masyarakat merogoh kocek rata-rata Rp622.845 untuk membeli bahan makanan setiap bulan. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp603.236 tiap bulan. 

Dengan kondisi ini, tidak heran jika Institute of Grocery Distribution (IGD) Asia sebelumnya memprediksi, jika nilai pasar online grocery akan tumbuh 198%, dari US$99 miliar di 2019 menjadi US$295 miliar di 2023. “Dengan ini, kita tahu kalau ke depannya kesempatan untuk startup grocery berkembang itu masih sangat besar,” imbuh Huda.

Ilustrasi belanja online. Pexels.com.

Namun demikian, sama halnya dengan perusahaan rintisan yang bergerak di sektor lainnya, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh e-grocery. Salah satunya adalah terkait ketatnya persaingan bisnis startup grocery online

Dengan penetrasi pasar yang masih belum termaksimalkan, banyak startup-startup grocery baru bermunculan. Bahkan, pemain retail tradisional seperti Hypermart, Alfamart, hingga Indomaret pun turut terjun ke bisnis digital berkonsep quick commerce ini. Selanjutnya, adalah terkait pengenalan produk atau aplikasi grocery itu sendiri kepada masyarakat yang tinggal di kota-kota kecil, seperti kota tier 3 dan 4. 

“Ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan oleh retail online besar, apalagi oleh startup yang baru dirintis. Jadi memang butuh lebih banyak usaha untuk meningkatkan jumlah pengguna mereka,” jelas Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (iDEA) Bima Laga, saat dihubungi Alinea.id, Rabu (30/3).

Terkait hal ini, dia menyarankan agar perusahaan e-grocery dapat bergabung atau melakukan kolaborasi dengan perusahaan e-commerce yang sudah ada. Nantinya, kolaborasi dapat dilakukan dengan membentuk platform atau aplikasi e-grocery anyar. Bisa pula dengan ikut serta dalam promo yang telah disediakan oleh platform lokapasar eksisting. 

“Pasar yang dijangkau bisa lebih luas lagi, karena bagaimanapun untuk menarik minat pasar, startup harus mulai dengan menawarkan barang-barang dengan harga murah,” imbuhnya.

Selain itu, perusahaan rintisan juga perlu memperkuat saluran distribusinya. Sebab, berbeda dengan e-commerce konvensional yang mana penyaluran barangnya biasa dilakukan langsung dari produsen ke konsumen melalui jalur logistik, e-grocery membutuhkan tempat (storage) atau dalam hal ini adalah Gudang tersendiri untuk menyimpan produk-produknya terlebih dulu. 

“Agar saat ada pesanan dari konsumen yang masuk, mereka dapat mengantarkan barang tersebut lebih cepat dari e-commerce biasa,” ungkap Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang, kepada Alinea.id, Senin (28/3). 

Adu cepat sampai

Hal ini pun diamini juga oleh Co-Founder dan CEO startup quick commerce khusus grocery ASTRO Vincent Tjendra. Dia bilang, bagi perusahaan rintisan quick commerce, jika mengacu pada Laporan RedSeer, pengiriman barang dilakukan setidaknya dalam rentang waku 45 menit atau kurang dari satu jam. Hal inilah yang ditekankannya dalam misi ASTRO, dapat mengantarkan pesanan ke depan rumah konsumen dalam waktu 15 menit. 

Penentuan waktu pengiriman 15 menit ini sesuai dengan riset yang telah dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan on-demand masyarakat yang betul-betul membutuhkan produknya saat itu juga, misalnya bahan masakan. “Di Jakarta yang rentan macet, mengirimkan pesanan dalam waktu 10-15 menit adalah hal yang sangat sulit dilakukan,” keluhnya, kepada Alinea.id, beberapa waktu lalu.

Karena itu, baik ASTRO atau startup grocery lainnya harus menyiasati masalah ini dengan cara lain, seperti dengan membangun titik (hub) untuk menyimpan produk mereka, sebelum diantarkan ke konsumen. 

Selain itu, kelengkapan produk juga penting diperhatikan bagi para pelaku e-grocery. Menurut Vincent, salah satu alasan masyarakat menggunakan aplikasi grocery online adalah agar dapat menemukan berbagai produk yang dibutuhkannya dalam satu waktu dan di tempat yang sama. 

Pangsa pengeluaran pangan menurut kuintil pengeluaran (%)

Kuintil

2017

2018

2019

2020

2021

I

66,31

66,16

65,23

64,86

64,15

II

63,59

62,74

61,95

61,49

60,88

III

60,71

59,17

58,55

58,12

57,83

IV

56,49

54,68

53,80

53,67

54,05

V

40,16

38,50

38,30

38,84

39,22

Sumber: Laporan Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia dalam Susenas Maret 2017, 2018, 2019, 2020, dan 2021.

Karena itu, pelaku e-grocery harus melakukan kurasi produk secara berkala. Dengan kurasi produk, stok produk yang sudah pasti akurat, praktis dapat meningkatkan efisiensi platform. Pasalnya, hal ini bisa mengurangi waktu untuk menanyakan lebih dulu ketersediaan produk yang ada di gudang. 

“Jadi nanti platform hanya perlu fokus pada pengiriman saja,” imbuhnya. 

Selanjutnya, yang tidak kalah penting untuk menggaet lebih banyak pengguna atau konsumen adalah dengan memberikan harga yang terjangkau. Sebab, dalam keadaan yang serba sulit ini, harga menjadi satu hal yang sangat penting bagi konsumen. Bahkan, terkadang perbedaan harga sebesar Rp500 hingga Rp2.000 akan sangat berpengaruh pada keputusan konsumen dalam berbelanja bahan makanan. 

Selain itu, kualitas dan kebersihan produk juga menjadi pertimbangan utama lainnya bagi konsumen. Menurut Ketua Umum Indonesia Digital Empowering Community (Ideic) Tesar Sandikapura, saat ini konsumen sudah tidak mementingkan lagi produk yang dibelinya dari merek besar mana, namun lebih kepada perusahaan yang memberikan layanan terbaik. 

“Karena itu, kebersihan dan kualitas barang, terutama dari produk-produk segar yang mudah rusak, seperti sayur dan daging sangat penting diperhatikan,” katanya, saat dihubungi Alinea.id, Rabu (30/3).

Ilustrasi. Unsplash.com.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut dan terus berinovasi, dia menilai, perusahaan rintisan grocery dapat bertahan dan berkembang. Sebaliknya, jika tidak melakukan apapun dan hanya menjalankan bisnis quick commerce biasa, akan sangat mungkin startup tersebut akan tergeser dengan perusahaan e-grocery lainnya. 

“Mungkin bisa dilakukan dengan memudahkan konsumen untuk memesan. Seperti konsumen tidak harus men-download aplikasi, mereka tetap bisa pesan meski dengan telepon atau chat saja,” jelasnya. 

Sementara itu, menurut Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani, sejalan dengan potensi perkembangannya yang masih sangat besar, minat investor dalam mendanai startup grocery juga masih terbuka lebar. 

“Dan ini akan berlanjut sampai player dominan terjadi,” ujar dia, kepada Alinea.id, Selasa (29/3).

Namun, ada dua hal yang setidaknya harus diperhatikan oleh para pelaku e-grocery untuk dapat menarik perhatian pemodal ventura. Pertama adalah percepatan dari sisi infrastruktur. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun gudang-gudang kecil di setiap lokasi, agar nantinya platform grocery online dapat hyperlocal. 

Edward menambahkan, bagi para investor, startup grocery yang dapat menarik minat mereka adalah platform yang sudah merambah ke berbagai daerah dan menyeluruh. Karena dengan hal ini, kesempatan bagi startup untuk berkembang dan menjadi salah satu pemain dominan.

“Penyelenggara yang bisa mendapatkan market share terbesar, nantinya bisa menjadi dominan player,” katanya. 

Kemudian adopsi teknologi dan ide juga penting dilakukan. Tujuannya tak lain meningkatkan ekspektasi layanan agar menjadi lebih cepat. Sehingga, pada akhirnya platform e-grocery dapat digunakan oleh lebih banyak orang dari berbagai daerah.

Bantuan pemerintah

Peneliti Ekonomi Digital Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menambahkan selain pendanaan, startup grocery juga memerlukan uluran tangan dari pemerintah untuk dapat berkembang. Bantuan tersebut, dapat diberikan pemerintah dengan mempermudah alur logistik perusahaan rintisan. 

Menurutnya, saat jalur logistik tercipta seluruhnya, maka waktu yang dibutuhkan untuk pengantaran barang-barang segar akan semakin singkat. Dus, biaya logistik pun dapat diturunkan dan pada akhirnya akan menurunkan pula harga produk segar yang dijual oleh platform grocery tersebut. 

“Enggak bisa dipungkiri, harga memang masih menjadi pertimbangan utama konsumen,” ucap Huda.

Sementara itu, Menurut Koordinator Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sonny Hendra Sudaryana, salah satu keberhasilan startup untuk mempercepat pertumbuhan bisnis adalah dengan menjalin kolaborasi antara startup, korporasi, dan pemerintah. 

Cara tersebut juga dinilai paling efektif. Bukan hanya menyediakan infrastruktur yang bisa dimanfaatkan pelaku industri, tapi juga untuk menjangkau lebih banyak pengguna di pelosok daerah yang belum tersentuh dengan teknologi.

“Melalui Gerakan 1000 Startups dan Sekolah Beta yang memberikan literasi dasar mengenai startup, diharapkan bisa menjadi wadah yang bisa membantu pendiri startup mendapatkan informasi yang relevan, akses pendanaan, hingga jaringan dengan investor,” jelasnya, kepada Alinea.id, Senin (29/3).

img
Qonita Azzahra
Reporter
img
Kartika Runiasari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan